27 C
Sidoarjo
Tuesday, March 10, 2026
spot_img

Topeng Teologis di Balik Konflik Iran-Israel

Oleh:
Salman Akif Faylasuf
Penulis Lepas, Pemerhati Isu Agama dan Sosial Politik.

Perang Iran dan Israel-Amerika semakin memanas. Diduga Amerika dan Israel melancarkan serangan udara terhadap sejumlah tujuan strategis di wilayah Iran, yang menimbulkan kecaman dan ketakutan akan konflik di seluruh dunia. Dunia pasti menahan napas. Apakah ini awal dari perang berskala besar?

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan pada hari Sabtu (7/3/2026) bahwa pasukannya telah menyerang kapal tanker berbendera Kepulauan Marshall, menyatakan bahwa kapal itu adalah aset milik Amerika Serikat.Demikian juga,militer Israel mengklaim telah melakukan serangan malam hari di Teheran, menghancurkan 16 pesawat Pasukan Quds IRGC yang melakukan operasi di luar perbatasan Iran.

Serangan demi serangan itu pasti akan mengarah pada konflik global di seluruh dunia. Kenapa hal ini terjadi? Karena Amerika-Israel secara terang-terangan berkomitmen untuk mengganti rezim Iran,Iran harus tunduk kepada Amerika. Pertanyaannya adalah: kenapa Iran selalu menjadi musuh?

Sebenarnya, apa yang kita lihat hari ini di Timur Tengah adalah tumpukan sejarah masa lalu yang kemudian menjadi malapetaka berlapis-lapis.Konflik antara Palestina dan Israel yang melibatkan Iran dan Amerika adalah produk dari perjanjian kolonial yang membagi tanah orang sesuka hati mereka. Inilah pemicu awal terjadinya konflik sosial dan agama (melahirkan Sunni dan Syiah).

Lalu kenapa ada sentimen Sunni dan Syiah? Sejarah Islam menunjukkan bahwa Sunni dan Syiah muncul sebagai hasil dari konflik politik yang menghasilkan dua faksi besar dalam Islam. Keduanya mengkafirkan satu sama lain.

Tanpa disadari, ketika Perjanjian Sykes-Picot dan Deklarasi Balfour (Arthur Balfour) keluar, Sunni dan Syiah selalu menjadi tunggangan politik untuk bisa memecah belah Timur Tengah. Keduanya dibuat berseteru dengan berbagai propaganda licik.

Berita Terkait :  Ketua DPD Golkar Jatim, Sarmuji Datangi Posko Pemenangan Cabup Gtesik - Wabup Yani - dr Alif

Oleh karena itu, orang yang mengkafirkan Syiah saat ini dan orang Syiah yang mengkafirkan Sunni adalah bagian dari propaganda yang dibuat, yang menyebabkan permusuhan yang berkelanjutan di Timur Tengah.

Islah Bahrawi, Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, mengatakan bahwa yang menjadi bumbu utama dalam perang itu adalah Sunni dan Syiah, terutama yang dipicu oleh Amerika. Selain menjadi sandera dari berbagai geopolitik dan geoekonomi global, agama juga akan menjadi korban darah.

Legitimasi Agama
Agama menjadi sarana legitimasi dalam perang Iran-Israel. Ketika perang dan kejahatan dilegitimasi dengan bumbu agama, kejahatan akan terhormat.Dengan mengacu pada kitab suci, tindakan pihak yang mendukung (Iran dan Israel) atas nama agama mana pun akan disanjung dan dibenarkan.

Tinjauan ini sangat mirip dengan sejarah tentang konflik dan ceceran darah di Yerusalem. Di dalam buku “Jerusalem: The Biography”, Simon Sebag Montefiore mencatat bahwa darah telah tumpah-ngalir sejak zaman Titus Flavius Vespasianus, Grigori Rasputin, hingga Khalifah pertama dari Bani Abbasiyah, Abu Al-Abbas Al-Saffah. Itu sebabnya, tak mengherankan jika Yerusalem disebut sebagai kota yang dibangun dari sisa-sisa perang yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Ini menunjukkan bahwa tindakan dehumanisme tidak boleh dilegitimasi oleh ayat-ayat atau agama apa pun. Karena kita percaya bahwa Tuhan yang sama menciptakan semua manusia, apa pun agama atau sukunya.

Oleh karena itu, jangan percaya bahwa Tuhan memungkinkan manusia untuk membunuh orang lain. Tidak. Agama bukankah selalu mengajarkan kedamaian, cinta, dan kasih? Ini adalah keyakinan yang harus kita miliki.

Berita Terkait :  Asik Masak di Dapur, Ibu Muda di Gresik Dikejutkan Muncul Ular Piton Besar

Kedamaian, Cinta, dan Kasih
Jika agama mengabaikan tiga komponen penting ini, orang tidak akan tertarik untuk beragama. Mereka justru akan lebih mencintai teori-teori Stephen Hawking dan Richard Dawkins dan lebih percaya pada proses mekanika kuantum-cabang fisika fundamental yang mempelajari bagaimana materi dan energi berperilaku dalam skala atomik dan subatomik.

Itu sebabnya Nietzsche memilih Zarathustra (Also sprach Zarathustra) dan menyatakan bahwa Tuhan tidak ada. Hanya dalam pikiran manusia, Tuhannya diciptakan sebagai hantu dan penakut.

Oleh karena itu, ketika orang berperang, itu pasti karena masalah politik dan kekuasaan. Bahkan ada beberapa sejarawan yang berpendapat bahwa Perang Salib adalah perang antara orang Eropa dan Arab yang keduanya ingin memperluas ekspansi kekuasaan.

Semua perang pembantaian, termasuk pembantaian Sayyidina Husain di Karbala, dilakukan karena alasan politik. Dengan cara yang sama, ketika Muhammad Al-Fatih menaklukan Konstantinopel, yang kemudian menjadi Istanbul dan kemudian dihubungkan oleh Jembatan Bosphorus, dia melakukannya sebagai ekspansi politik daripada sebagai bagian dari kebangkitan Islam. Pun, seperti yang dilakukan Kekaisaran Ottoman saat menyerang Bangsa Armenia.

Tak terkecuali, seperti kekuasaan politik Islam di Andalusia, rute yang menghubungkan wilayah barat daya Eropa dengan selatan Prancis melalui Semenanjung Iberia (Spanyol/Portugal) ke Toulouse, Prancis. Namun, setelah politik Islam runtuh di Eropa dan kalah dalam perang, orang-orang Islam dipaksa dibaptis sambil menangis.

Sekali lagi, kejahatan dihormati dan menjadi terhormat atas nama agama. Ini berkaitan dengan Iran dan Israel. Meskipun Anda dapat berperang dengan alasan politik, jangan pernah memasukkan agama. Sebab peradaban manusia akan menjadi korban jika agama dimasukkan.

Berita Terkait :  Kurangi Bau Busuk Sampah di TPA, DLH Kabupaten Malang Tanam Pohon Bambu dan Kenanga

Renteng Produk Kolonial
Syahdan. Produk-produk kolonial menyebabkan perang antara Iran dan Israel. Orang lain mengambil tanah orang lain untuk kepentingan bersama. Sebenarnya, ini adalah konsekuensi dari Perjanjian Sykes-Picot atau Deklarasi Balfour, yang akhirnya diusahakan untuk dinetralisir oleh Perjanjian Abraham Accords. Tentu saja ini terlalu terlambat. Karena permusuhannya telah berkembang menjadi residu dan diekstraksi pada banyak orang dengan alasan teologis.

Banyak orang melakukan kekerasan atas nama agama seperti Army of Christ Amerika, supremasi Hindu, Vaishnavisme (Wisnu), Shaivisme, dan Wiratu yang mengatasnamakan Buddha, termasuk di Myanmar dan Indonesia. Nyawa dianggap seperti mainan boneka yang bisa rusak dan hancur.

Ernest Hemingway, salah seorang novelis dan jurnalis Amerika Serikat abad ke-20, pernah berkata bahwa di dalam perang jangan pernah berharap ada kesimpulan benar dan salah, justeru yang ada adalah jumlah kematian dan serdadu yang terpaksa tersungkur.

Ini sama sekali tidak berkaitan dengan agama, tetapi dengan kemanusiaan. Bukankah kemanusiaan lebih penting daripada agama? Dengan kata lain, dia harus menjadi manusia sebelum beragama.

Jika demikian, untuk tujuan apa menyitir teologi dan kitab suci jika kepentingannya hanya perang? Oleh karena itu, keberpihakan tidak boleh pernah terhalang dalam perang, tidak peduli siapa yang menang atau kalah; korbannya adalah manusia.Wallahu a’lam bisshawab.

————- *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!