29 C
Sidoarjo
Wednesday, March 4, 2026
spot_img

SMAN 1 Driyorejo Gandeng Ecoton Deklarasi Sebagai Zero Plastic School


Gresik, Bhirawa
SMA Negeri 1 Driyorejo menggandeng Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), meluncurkan inisiatif bertajuk program Sekolah Peduli Lingkungan. Untuk pengurangan plastik sekali pakai dan edukasi bahaya mikroplastik, untuk menciptakan lingkungan zero plastik di sekolah.

Kepala SMA Negeri 1 Driyorejo Alif Hanifah menyatakan, bahwa program ini merupakan langkah konkret membangun karakter siswa di luar pencapaian akademik.

Inisiatif ini bermula dari ide sekelompok pelajar yang tergabung dalam Jawa Timur Youth Changemaker Academy (JAYCA), jaringan pemuda Jawa Timur yang mendorong lahirnya pemimpin perubahan sosial. Program JAYCA diisi pelajar terpilih yang memiliki gagasan serta komitmen menciptakan perubahan nyata, mereka diseleksi berdasarkan keberanian berpikir kritis dan kemauan mengambil tanggung jawab sosial.

“Sekolah harus menjadi ekosistem, yang mendukung perubahan perilaku. Kami ingin siswa tidak hanya belajar teori, tetapi menjadi agen perubahan yang memahami bahwa mikroplastik adalah ancaman nyata bagi masa depan mereka,”ujarnya.

Tim JAYCA SMAN 1 Driyorejo, lebih dulu belajar mengidentifikasi mikroplastik secara langsung. Mereka mempelajari bentuk serat, fragmen, dan partikel kecil yang tak kasat mata namun ada di sekitar kehidupan sehari-hari. Kegiatan pendampingan penelitian mikroplastik didampingi Sri Astika, mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Negeri Surabaya yang tengah meneliti keberadaan mikroplastik dalam cairan sperma.

Penelitian tersebut membuka wawasan siswa, bahwa mikroplastik bukan sekadar sampah. Melainkan telah masuk ke dalam tubuh manusia. Koordinator Tim JAYCA SMAN 1 Driyorejo, Krisna Wahyu Sahaja, menekankan pentingnya keteladanan dalam perubahan perilaku.

Berita Terkait :  Utamakan Etika Komunikasi Sebelum Beraksi

“Mengubah perilaku Gen Z, untuk menolak plastik sekali pakai harus dimulai dari edukasi tentang bahaya mikroplastik. Sebagai pioner, kita harus memberi contoh, mulai dari membawa tumbler sendiri. Dan itu harus dilakukan terus-menerus, istiqomah”ungkapnya.

Para siswa menjadi dasar bagi sekolah, untuk mengambil langkah lebih jauh. Program ini tidak berhenti pada ajakan moral, melainkan diarahkan menjadi kebijakan nyata. Siswa dilibatkan dalam berbagai kegiatan, diantaranya penelitian mikroplastik di lingkungan sekolah. Produksi konten edukasi berbasis AI. Kampanye digital untuk membangun budaya membawa wadah guna ulang.

“Setelah Hari Raya Idul Fitri, SMAN 1 Driyorejo akan mendeklarasikan diri sebagai Zero Plastic School atau Sekolah Bebas Plastik. Sekolah akan beralih ke wadah makan dan minum guna ulang serta menghapus kantong plastik di lingkungan sekolah, terutama di kantin,”tutup Alif Hanifah.

Founder ECOTON Prigi Arisandi mengatakan, bahwa edukasi saja tidak cukup tanpa perubahan kebijakan di lingkungan sekolah. Peran sekolah sangat penting dalam memutus rantai polusi plastik, melalui pengalaman nyata dan riset siswa. Sekolah harus menjadi ruang praktik perubahan, bukan sekadar tempat penyampaian teori.

“Hasil riset kami menunjukkan fakta yang kontradiktif 90 persen anak, sebenarnya sudah sangat paham bahaya mikroplastik. Bahkan, 82 persen dari mereka bersedia mengubah perilaku. Namun, keinginan ini terbentur oleh sistem sekolah yang belum menyediakan alternatif, sehingga mereka tetap terpaksa mengkonsumsi plastik sekali pakai setiap hari,”pungkasnya. [kim.wwn]

Berita Terkait :  Teknologi Tepat Guna Mesin Pengering Tingkatkan Efisiensi Pengolahan Limbah Jamu

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!