Surabaya, Bhirawa
Menandai peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan menyambut HUT ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Jawa Timur menyelenggarakan forum literasi digital guna memperkuat ketahanan keluarga di era siber. Acara ini menghadirkan tokoh-tokoh kunci untuk membedah peran strategis perempuan dan profesionalisme media.
Membuka rangkaian pemikiran sebagai keynote speaker, Ketua TP PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin, menyoroti bagaimana teknologi telah menghapus diskriminasi gender dan wilayah dalam akses informasi. Namun, ia memperingatkan bahwa kemajuan ini ibarat dua mata pisau yang menuntut kontrol diri yang kuat.
“Sosial media itu sangat positif jika kita bijak, seperti untuk literasi keuangan atau industri. Tapi jika kita tidak bisa mengontrol emosi dan diri, ia akan merusak kehidupan pribadi,” ujar Arumi.
Ia menekankan pentingnya pendampingan orang tua terhadap anak remaja yang kini mudah mengakses dunia luar. Arumi mengingatkan agar anak-anak, terutama perempuan, diedukasi untuk tidak mengumbar privasi seperti lokasi rumah atau kegiatan harian, karena risiko keamanan di dunia maya nyata adanya.
Melanjutkan pesan Arumi, Ketua IKWI Jawa Timur, Endang Suprapti, memaparkan data bahwa 8 dari 10 perempuan di Indonesia sudah terhubung dengan internet. Namun, ia menyayangkan rendahnya keterwakilan perempuan di sektor profesional teknologi yang baru mencapai 13 persen.
“Kita jangan hanya menjadi penonton atau objek informasi. Dengan Indeks Pembangunan Gender (IPG) Jawa Timur yang terus membaik, perempuan harus punya kepercayaan diri untuk menjadi subjek,” tegas Endang.
Ia mengajak anggota IKWI untuk menjadi garda terdepan literasi digital dan penyaring informasi (filter) hoaks, mengingat suara perempuan biasanya lebih didengar dan dipercaya di lingkungan keluarga maupun komunitas.
Sedangkan, Ketua PWI Jawa Timur, Lutfil Hakim, memberikan peringatan keras mengenai darurat kompetensi di dunia jurnalistik. Menggunakan analogi yang tajam, ia menggambarkan kondisi media saat ini seperti jalan raya yang dipenuhi banyak pengendara, namun hanya sebagian kecil yang memiliki SIM.
“Banyak yang bisa ‘menyetir’ (menulis), tapi tidak punya SIM (sertifikasi/UKW). Akibatnya, sering terjadi kecelakaan informasi atau hoaks yang merugikan masyarakat,” jelasnya.
Lutfil menekankan bahwa PWI menerapkan regulasi ketat agar wartawan tidak hanya mengejar kecepatan, tetapi juga menjaga kualitas dan etika. Ia juga mengapresiasi peran istri wartawan (IKWI) yang memahami profesi suami, sehingga tercipta dukungan domestik agar wartawan tetap bekerja secara bertanggung jawab dan profesional.
Melalui sinergi PKK, IKWI, dan PWI, diharapkan Jawa Timur mampu membangun ekosistem digital yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga sehat secara informasi dan kuat secara ketahanan keluarga. Kegiatan menghadirkan narasumber lainnyan seperti Sri Untari Bisowarno Ketua Komisi E DPRD Jatim, Dr Eko Pamuji, Wakil Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Pusat dan Putut Darmawan Kabid Informasi dan Komunikasi Publik mewakili Kepala Diskominfo Jatim yang berhalangan hadir. [rac.kt]


