30 C
Sidoarjo
Monday, April 6, 2026
spot_img

Roadshow GPPE 2026 di Surabaya, Perkuat Koneksi Bisnis dan Percepat Proses Sourcing Tingkat Regional

Ketua Perhimpunan Industri Tinta Cetak Seluruh Indonesia (PITTSINDO), Daniel Kenny saat menjelaskan perkembangan terkait industri percetakan dan kemasan saat ini dalam Roadshow Global Printing & Packaging Expo (GPPE) & Label & Carton Box Expo 2026 di Nine Resto Surabaya, Senin (6/4).

Surabaya, Bhirawa.
Perkuat koneksi bisnis sekaligus mempercepat proses sourcing di tingkat regional, PT Pelita Promo Internusa (PPI) menghadirkan Roadshow Global Printing dan Packaging Expo (GPPE), Label serta Carton Box Expo 2026 di Surabaya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian menuju pameran utama yang akan digelar pada 6–9 Mei 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Jakarta.

Adapun roadshow yang berlangsung di Nine Resto Surabaya, Senin (6/4) ini dirancang sebagai platform business-to-business (B2B) terarah.

Direktur PT Pelita Promo Internusa, Sofianto Widjaja, mengungkapkan bahwa roadshow ini menjadi jembatan strategis antara kebutuhan industri di lapangan dengan solusi teknologi yang ditawarkan para pemasok.

“Roadshow ini berperan sebagai jembatan antara penawaran teknologi dan kebutuhan industri. Kami ingin mempertemukan pengambil keputusan dengan pemasok yang mampu menjawab kebutuhan mereka secara cepat dan terukur,” terangnya.

Sofianto menambahkan roadshow ini mendorong kemajuan industri percetakan di Indonesia, pihaknya percaya bahwa Surabaya dan Jawa Timur memiliki potensi industri yang sangat besar dengan jaringan pelaku usaha yang kuat dinamis dan terus berkembang.

Berita Terkait :  Laka Maut Akibatkan Penundaan Mudik Gratis Pemkot Batu

“Karena itu kami berharap roadshow kali ini tidak hanya menjadi ajang sosialisasi pameran tetapi juga menjadi wadah untuk membangun koneksi dan membuka peluang kolaborasi serta memperluas kawasan mengenai perkembangan teknologi inovasi dan kebutuhan masyarakat melalui GPPE,” jelasnya.

Roadshow GPPE ini bertujuan untuk mewujud lebih dari sekadar pameran tapi ingin membangun sebuah platform bisnis yang mempertemukan pelaku industri memperkuat jaringan dorongan transaksi, mendukung industri nasional serta akan semakin kompetitif ditingkat global.

“Memasuki tahun 2026, GPPE tidak hanya akan hadir dengan skala yang lebih besar tetapi juga menjadi yang pertama sebagai pameran teknologi percetakan dan kemasan yang diselenggarakan di NICE), PIK 2, Jakarta.

Perpindahan media ini bukan hanya sekedar perubahan lokasi pameran melainkan sebuah langkah strategis untuk menghadirkan pengalaman yang berbeda suasana yang baru baik bagi eksporter dan buyer maupun seluruh sektor,” paparnya.

Surabaya dipilih sebagai lokasi karena posisinya yang strategis sebagai pusat perdagangan dan manufaktur di kawasan timur Jawa. Dukungan infrastruktur pelabuhan dan logistik yang kuat menjadikan kota ini sebagai pasar potensial bagi pemasok mesin, material, dan solusi kemasan.

Sementara itu, Ketua Perhimpunan Industri Tinta Cetak Seluruh Indonesia (PITTSINDO), Daniel Kenny, menjelaskan industri percetakan dan kemasan saat ini tengah menghadapi tekanan berat, terutama akibat derasnya arus impor dan ketidakpastian pasokan bahan baku.

Berita Terkait :  Kuliah Umum FISIP Unigoro, Bahas Agenda Politik dan Kebijakan Publik

Menurutnya, dalam dua tahun terakhir, industri lokal harus bersaing dengan produk impor terutama dari China yang masuk dengan harga jauh lebih murah. Kondisi ini semakin sulit karena pelaku industri dalam negeri justru menghadapi biaya bahan baku yang tinggi akibat beban impor.

“Industri lokal sedang dalam kondisi waswas. Hari ini bisa produksi, besok belum tentu karena ketidakpastian bahan baku,” katanya.

Selain itu, Daniel juga menyoroti ketimpangan regulasi, di mana produk dalam negeri harus memenuhi berbagai aturan, sementara produk impor dinilai memiliki hambatan yang lebih minim. Hal ini membuat daya saing industri lokal semakin tertekan.

Adapun kenaikan harga bahan baku yang mencapai hingga 200 persen serta fluktuasi nilai tukar turut memperburuk kondisi industri. Tidak hanya itu, gangguan rantai pasok global dan dinamika geopolitik turut memicu ketidakstabilan harga material seperti resin dan film.

Di sisi lain, industri makanan dan minuman sebagai pengguna utama kemasan juga terdampak. Penurunan daya beli masyarakat serta gangguan pasokan bahan seperti gula industri menyebabkan permintaan ikut melemah.

“Kalau produksi jalan tapi tidak ada kemasan, produk tidak bisa sampai ke konsumen. Ini menjadi masalah serius dalam rantai industri,” ujarnya.

Daniel berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk melindungi industri dalam negeri, khususnya melalui pengendalian impor dan stabilisasi pasokan bahan baku.

Berita Terkait :  PBNU Kembali Utuh

Dengan kondisi tersebut, kehadiran forum seperti Roadshow GPPE dinilai menjadi momentum penting untuk mempertemukan pelaku industri dengan solusi yang relevan, sekaligus memperkuat kolaborasi guna menjaga keberlangsungan sektor percetakan dan kemasan nasional. [riq.hel]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!