25 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

Potensi Pengangguran Kian Tinggi, Komisi IV DPR RI Usulkan Insentif Khusus Petani Milenial

DPR RI Jakarta, Bhirawa
Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Jaelani, mendesak pemerintah untuk segera merespons peringatan dini (early warning) dari laporan Global Risks Report 2026 yang dirilis World Economic Forum (WEF) terkait tingginya potensi pengangguran di Indonesia. Dia mengusulkan pemerintah memberikan paket insentif khusus untuk menarik minat genarasi muda (Gen Z) terjun ke sektor pertanian.

“Pemerintah harus serius memperhatikan peringatan WEF ini. Tingginya angka pengangguran dalam skala tertentu akan memicu ketidakstabilan sosial-politik. Salah satu solusi konkret yang harus digarap secara besar-besaran adalah sektor pertanian,” tegas Jaelani di Jakarta, Senin (26/1/2026).

Dia menilai, sektor pertanian memiliki potensi luar biasa sebagai penyerap tenaga kerja massal. Sayangnya, daya tarik pertanian bagi generasi muda, khususnya Gen Z, masih sangat rendah. Sektor pertanian masih dianggap tradisional, berisiko tinggi, dan tidak memberikan kepastian finansial. Oleh karena itu, diperlukan intervensi negara untuk mengubah wajah pertanian menjadi sektor yang modern dan menjanjikan.

“Kita tidak bisa hanya menyuruh anak muda bertani tanpa memberikan jaminan skala ekonomi. Pemerintah harus menyiapkan insentif nyata, mulai dari akses permodalan tanpa bunga, hibah lahan produktif, hingga kemudahan akses teknologi mekanisasi,” ujarnya.

Legislator PKB ini menekankan bahwa kunci utama menarik Gen Z adalah digitalisasi pertanian (smart farming). Menurutnya, penggunaan drone untuk pemupukan, sistem irigasi otomatis berbasis IoT, hingga marketplace yang memotong rantai distribusi akan membuat pertanian menjadi ekosistem bisnis yang menarik bagi kaum terpelajar.

Berita Terkait :  Sepulang Retret di Akmil, Bupati Muhammad Fawait Ajak Tiga Mantan Bupati Bersatu Bangun Jember

“Gen Z adalah generasi yang melek teknologi. Jika pertanian dikelola dengan sistem high-tech dan terhubung langsung ke pasar, saya yakin mereka akan berbondong-bondong kembali ke desa. Ini juga akan menjadi solusi atas masalah keterbatasan lahan melalui optimalisasi teknologi di lahan sempit,” tambahnya.

Selain insentif teknis, Jaelani juga mendorong adanya jaminan perlindungan harga (price floor) untuk produk-produk pertanian yang dihasilkan petani muda. Hal ini penting agar mereka memiliki kepastian pendapatan dan tidak dirugikan oleh fluktuasi harga pasar atau spekulasi tengkulak.

Jaelani berharap program “Petani Milenial” tidak hanya sekadar seremonial, tetapi menjadi gerakan nasional yang didukung oleh anggaran kuat dari kementerian terkait. Langkah ini diharapkan mampu menjadikan sektor pertanian sebagai penopang ekonomi bangsa di tengah ancaman pengangguran global yang diperingatkan WEF.

“Inilah saatnya kita menjadikan krisis pengangguran sebagai momentum transformasi pertanian. Kita harus mencetak pengusaha tani muda, bukan hanya pekerja tani. Dengan begitu, stabilitas ekonomi dan kedaulatan pangan kita akan terjaga secara bersamaan,” pungkasnya.[ira.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru