26.2 C
Sidoarjo
Tuesday, January 20, 2026
spot_img

Politik Komunikasi Ala Arek Suroboyo dalam Mengakhiri Ketegangan

Oleh :
Tun Ahmad Gazali
Pensiunan PNS Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Arek Suroboyo asli Ngarep PMK Pasar Turi, yang sejak 2020 bermukim dan berkarier di Jepang sebagai engineering leader dan peneliti independen

Salju masih turun di Kota Kitakami, Jepang petang kemarin, 6 Januari 2025 dan membuat suhu bertahan diangka 2 dibawah titik nol derajat Celsius. Dingin yang membuat orang memilih diam dan menahan gerak.Namun pada petang itu, jarak ribuan kilometer antara Jepang dan Surabaya terasa memendek.Bukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh sebuah peristiwa yang sederhana tetapi bermakna dalam kehidupan demokrasi kita yang saya dengarkan di siaran online Radio Suara Surabaya, yaitu tentang keberanian untuk berkomunikasi secara dewasa dan saling memaafkan.

Ketegangan antara Wakil Wali Kota Surabaya, kita mengenalnya dengan panggilan “Cak Ji”dan Ormas Madas sempat menyita perhatian publik.Perbedaan tafsir atas sebuah peristiwa berkembang menjadi konflik terbuka dan berujung pada laporan hukum di Polda Jawa Timur.Dalam iklim politik yang kerap diwarnai emosi dan saling curiga, konflik semacam ini sering kali dibiarkan membesar.Namun Surabaya memilih jalan yang berbeda. Melalui dialog yang dimediasi oleh Rektor Universitas Dr Soetomo Surabaya, kedua pihak sepakat mengakhiri polemik dan secara resmi mencabut laporan yang ada.

Peristiwa ini penting bukan untuk mencari siapa yang paling benar, melainkan untuk memahami bagaimana konflik publik seharusnya dikelola.Dalam kajian politik komunikasi, konflik adalah bagian alamiah dari demokrasi.Ia lahir dari perbedaan pandangan, kepentingan, dan latar sosial. Yang menentukan kualitas demokrasi bukanlah ketiadaan konflik, melainkan kemampuan para aktor publik mengelolanya melalui komunikasi yang rasional, terbuka, dan bertanggung jawab.

Berita Terkait :  Anggaran KONI Belum Turun, Atlet Porprov Nganjuk tetap Semangat Berlatih

Dalam konteks inilah politik komunikasi ala Arek Suroboyo menemukan maknanya.Ia bukan sekadar gaya bicara lugas, melainkan praktik komunikasi publik yang egaliter, jujur, dan berorientasi pada pemulihan relasi sosial. Tumbuh dari kultur kota yang multietnis dan cair, komunikasi ala Arek Suroboyo menempatkan keterbukaan sebagai keberanian. Ketegangan boleh muncul sebagai ekspresi ketidakpuasan, tetapi tidak dipelihara menjadi permusuhan.Tujuannya bukan memenangkan narasi, melainkan menjaga keguyuban dan kepercayaan bersama.Dalam kasus ini, pendekatan tersebut efektif menurunkan eskalasi emosi dan membuka ruang dialog yang setara.

Kesepakatan damai antara Cak Ji dan Madas ini juga menunjukkan bekerjanya komunikasi deliberatif. Dialog tidak dijalankan untuk saling mengalahkan, melainkan untuk mencari titik temu yang dapat diterima bersama. Kampus hadir sebagai ruang nalar publik yang relatif netral, tempat etika dan akal sehat diberi ruang.Dalam teori komunikasi politik, kehadiran mediator dengan legitimasi moral dan intelektual menjadi kunci agar dialog tidak berubah menjadi pertarungan gengsi.

Cara Cak Ji dan Pak Taufik yang mengetuai Madas dalam menyampaikan sikap patut dicermati. Tidak ada bahasa yang berlebihan.Tidak ada tekanan opini.Yang tampak justru kesediaan untuk mendengar, mengakui, dan mengucapkan kata maaf.Di tengah budaya politik yang sering memuliakan suara paling nyaring, Surabaya memberi contoh bahwa kedewasaan justru lahir dari kemampuan menahan diri. Bahwa damai bukan tanda kalah, melainkan bukti kekuatan batin. Saya mendengar disiaran radio streaming tersebut tadi, Cak Ji yang Wakil Walikota Surabaya dan Pak Taufik yang Ketua Umum Madas, tanpa ada terdengar berat untuk saling mengatakan kata “maaf” yang itu bukan merendahkan jabatan Beliau berduas, tetapi meninggikan martabat kota.

Berita Terkait :  UMM Tuan Rumah Rakernas Rektor PTMA, Bahas Inovasi Pendidikan untuk Indonesia Maju

Sebagai Arek Suroboyo asli yang lahir dan besar di “ngarep” PMK Pasar Turi, dan kini bermukim bersama keluarga di Jepang, penulis mengikuti dinamika Surabaya dari kejauhan.Jarak geografis tidak menghapus keterikatan emosional.Kota ini tetap dipantau dan direnungkan, karena di sanalah nilai nilai hidup dibentuk dan diuji.

Salju di Kitakami masih turun lebat.Dingin tetap menusuk. Tetapi dari Surabaya, tersampaikan satu pelajaran penting: ketika komunikasi dijalankan dengan nurani, jarak sejauh apa pun tidak lagi membekukan rasa, melainkan menghangatkan relasi sosial. Demokrasi pun menemukan wajahnya yang paling dewasa, ketika martabat bersama dijaga melalui komunikasi yang beradab.Dan saya bangga sebagai Arek Suroboyo.(CTun)

————- *** —————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru