Ketua DPC HKTI Kabupaten Malang Makhrus Sholeh
Kab Malang, Bhirawa.
Petani padi di Kabupaten Malang sambut baik rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang perluas rumah burung hantu (rubuha) di areal persawahan, hal ini guna untuk mengantisipasi hama tikus. Dengan begitu, Pemkab Malang akan terus meningkatkan produksi pertanian padi. Karena Kabupaten Malang saat ini merupakan salah satu di Jawa Timur (Jatim) sebagai lumbung padi. Sehingga untuk meningkatkan produksi padi, tidak hanya menanam bibit padi unggul saja, namun juga mengantisipasi serangan hama tikus. Salah satunya adalah memperluas rubuha di area persawahan.
Sedangkan burung hantu pemakan tikus jenis Tyto alba (Serak Jawa), predator alami nokturnal yang sangat efektif mengendalikan hama tikus di sawah secara biologis. Bahkan, bisa memangsa 2-4 tikus per malam atau 1000 tikus per tahun, yang menjadikannya solusi ramah lingkungan bagi petani untuk meningkatkan hasil panen tanpa racun kimia. Burung hantu sebagai pemburu ulung yang aktif di malam hari, dan juga memiliki pendengaran serta penglihatan tajam untuk menangkap tikus dengan cepat dan senyap.
“Kami menyambut baik rencana Pemkab Malang berencana memperluas rubuha di areal persawahan. Sehingga inovasi mengusir hama tikus dengan burung hantu sangat efektif, jika dibandingkan dengan mengusir tikus dengan racun kimia. Mengingat, luasan lahan persawahan di Kabupaten Malang mencapai ratusan ribu hektare,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Malang Makhrus Sholeh, Selasa (13/1).
Menurut dia, inovasi pembasmi tikus dengan burung hantu tersebut baru ada satu rubuha di Kabupaten Malang, yakni di wilayah kecamatan Kasembon. Untuk itu, dirinya berharap, rubuha dapat diberikan di kecamatan-kecamatan lain. Satu pasang burung hantu bisa memangsa tikus sebanyak 10 ekor tikus, namun tergantung ukurannya, jika tikusnya kecil, kemungkinan bisa memangsa 20 tikus. Dan jika nanti setiap kecamatan terdapat rubuha, maka petani tidak lagi bersusah payah untuk membasmi tikus yang menyerang lahan persawahannya.
“Tentumnya, dengan membasmi hama tikus dengan burung hantu, diharapkan petani dapat meningkatkan produksi padi yang rata-rata saat ini masih sekitar 7-8 ton per hectare, dengan menanam bibit padi biasa, namun jika menanam padi dengan bibit unggul, hasil produksi lebih besar,” tutur Makhrus.
Dia menyampaikan, selama ini, para petani mengantisipasi hama tikus secara manual dengan memasang jaring di atas tanaman padi. Namun, jaring tersebut hanya efektif untuk mencegah serangan hama burung. Jaring yang dipasang petani saat umur tanaman padi 3 bulan, yang mendekati panen. Karena jika tidak ditutup dengan jaring, maka saat panen nanti bisa habis. Sedangkan pada periode ini, prediksi panen padi di lahan dengan luas 2.800 meter persegi hasilnya lebih bagus daripada sebelumnya. Sebab sebelumnya, petani hanya mampu produksi padi seberat 1,5 ton, tapi dalam periode ini diprediksi bisa mencapai 2 ton.
“Saya sempat kecolongan, karena padi yang akan siap panen di makan hama tikus. Sehingga antisipasinya, saya beri pace atau buah mengkudu di area sawah, agar tikus yang akan memakan padi tidak berani mendekat, karena sawahnya berbau yang membuat tikus tidak berani mendekat,” pungkas Makhrus. (cyn.hel)

