- Oleh Prof Dr Dian Fiantis *)
“ Perang di Timur Tengah mungkin terasa jauh. Tapi jika pupuk tersendat, dampaknya bisa sangat dekat, bahkan sampai ke meja makan kita sendiri “
Jakarta, Bhirawa
Perang di Timur Tengah sering dipahami sebagai konflik energi. Namun di balik itu, ada ancaman lain yang mengintai: krisis pangan yang dimulai dari tanah.
Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan lautan lepas, bukan hanya dilalui tanker minyak. Jalur ini juga menjadi arteri penting distribusi pupuk global, terutama pupuk nitrogen (urea).
Hampir separuh perdagangan urea dunia bergantung pada kawasan ini. Ketika konflik mengganggu stabilitasnya, yang terhenti bukan hanya aliran energi, tetapi juga aliran unsur hara yang menopang produksi pangan global.
Kawasan Timur Tengah merupakan salah satu pusat produksi pupuk dunia, terutama pupuk nitrogen (urea) dan bahan baku pupuk fosfat.
Secara global, kawasan ini menyumbang sekitar 15–20 persen produksi pupuk nitrogen, dan mendominasi perdagangan internasional dengan hampir 40–50 persen ekspor urea global berasal dari negara-negara Teluk.
Qatar, Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, dan Oman memiliki keunggulan karena ketersediaan gas alam sebagai bahan baku utama. Qatar memproduksi sekitar 6 juta ton urea per tahun, sementara Iran diperkirakan mencapai 6–8 juta ton per tahun.
Arab Saudi, melalui industri petrokimia berskala besar, serta Uni Emirat Arab dan Oman, turut memperkuat posisi kawasan ini sebagai tulang punggung pasokan pupuk nitrogen dunia.
Untuk pupuk fosfor, Arab Saudi juga merupakan salah satu produsen utama dunia dengan kapasitas sekitar 6–7 juta ton pupuk fosfat per tahun. Ini menunjukkan bahwa Timur Tengah tidak hanya menjadi pusat pupuk nitrogen, tetapi juga bagian penting dalam rantai pasok fosfor global.
Dampak global
India, Brasil, dan China merupakan pengimpor pupuk terbesar dari kawasan Teluk.
Pada 2024, negara-negara Asia menyerap sekitar 35 persen ekspor urea, 53 persen sulfur, dan 64 persen amonia dari kawasan tersebut. Pasokan ini sangat vital, tidak hanya bagi India, Brasil, dan China, tetapi juga bagi negara lain seperti Maroko, Amerika Serikat, Australia, dan Indonesia.
Ketika pasokan pupuk terganggu dan harganya meningkat, dampaknya tidak lagi bersifat lokal. India, misalnya, bergantung lebih dari 40 persen kebutuhan urea dan pupuk fosfatnya dari Timur Tengah.
Brasil bahkan hampir sepenuhnya bergantung pada impor pupuk, dengan hampir setengah pasokannya melewati Selat Hormuz. Dalam kondisi seperti ini, gangguan distribusi pupuk dapat mendorong petani mengurangi pemupukan, menurunkan hasil panen, dan pada akhirnya menekan pasokan pangan global.
Negara-negara yang bergantung pada impor pangan akan menjadi yang paling rentan ketika pasokan menyusut dan akses terhadap pangan semakin terbatas.
Mungkin kita berpikir, Indonesia punya sawah luas, harusnya aman. Tapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ketika negara besar seperti India dan China yang bergantung pada pupuk impor dari Timur Tengah menghadapi kelangkaan pupuk, mereka akan berebut pasokan di pasar global.
Akibatnya harga pupuk naik di mana-mana. Indonesia pun ikut terdampak dan petani kita akhirnya dihadapkan pada pilihan sulit: tetap pakai pupuk tapi mahal atau kurangi pupuk, tapi hasil panen turun.
Dalam jangka pendek, harga pangan bisa naik, dan dalam jangka panjang, ketahanan pangan bisa terganggu.
Tanah Indonesia
Persoalan utama di Indonesia adalah banyak tanah di negara ini sebenarnya tidak cukup subur jika tidak dibantu pupuk. Ketersediaan hara alami umumnya sangat terbatas. Tanaman tetap butuh “asupan tambahan” agar bisa tumbuh optimal.
Untuk memahami dampak krisis pupuk secara lebih konkret, kita perlu melihat kebutuhan hara tanaman pangan utama.
Tanaman padi, untuk menghasilkan 5–7 ton gabah per hektare, membutuhkan sekitar 100–150 kg nitrogen, 15–30 kg fosfor, dan 10–20 kg sulfur per hektare. Nitrogen menentukan jumlah anakan dan luas daun, fosfor berperan dalam pembentukan malai dan pengisian biji, sedangkan sulfur penting dalam sintesis protein.
Tanaman jagung bahkan membutuhkan lebih banyak nitrogen. Untuk mencapai hasil 6–10 ton per hektare, jagung memerlukan sekitar 120–180 kg nitrogen, 20–40 kg fosfor, dan 10–25 kg sulfur per hektare. Tanpa pemenuhan kebutuhan ini, pertumbuhan vegetatif dan pembentukan tongkol tidak akan optimal.
Kebutuhan ini jauh melampaui kemampuan alami tanah dalam menyediakan hara sehingga memerlukan tambahan melalui pupuk.
Ketika hampir separuh perdagangan pupuk nitrogen dunia bergantung pada satu kawasan dan satu jalur sempit seperti Selat Hormuz, maka konflik di wilayah tersebut menjadi ancaman langsung terhadap ketahanan pangan global.
Ketika nitrogen tidak tersedia, tanaman tidak tumbuh. Ketika fosfor tidak tersedia, tanaman tidak berbuah. Dan ketika pupuk terganggu, produksi pangan ikut terancam.
Perang mungkin terjadi jauh dari kita, tetapi dampaknya hadir di sawah dan ladang—melalui tanah, tempat kehidupan pangan bermula.
Kemandirian pupuk
Untuk meredam dampak gangguan pasokan pupuk global, diperlukan langkah kebijakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Pemerintah perlu memperkuat cadangan pupuk nasional dan memastikan distribusi yang tepat sasaran, sekaligus mendorong hilirisasi gas domestik sebagai bahan baku pupuk untuk mengurangi ketergantungan impor.
Pengembangan industri pupuk alternatif seperti pupuk organik dan hayati perlu dipercepat melalui insentif dan dukungan riset. Pada tingkat lapangan, implementasi pemupukan berimbang dan presisi harus diperluas untuk meningkatkan efisiensi penggunaan hara.
Kebijakan jangka panjang perlu diarahkan pada perbaikan kesehatan tanah melalui peningkatan bahan organik dan pengelolaan mikrobiologi tanah.
Dengan pendekatan kebijakan yang menyeluruh—mulai dari energi, industri, hingga praktik budidaya—swasembada pangan tidak hanya bergantung pada pasar global, tetapi diperkuat oleh kemandirian sistem pertanian nasional.
Perang di Timur Tengah mungkin terasa jauh. Tapi jika pupuk tersendat, dampaknya bisa sangat dekat, bahkan sampai ke meja makan kita sendiri. [ant.kt]
*) Prof Dr Ir Dian Fiantis, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Padang, Pengurus dan Anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)


