25 C
Sidoarjo
Tuesday, February 3, 2026
spot_img

Peneliti UC Surabaya Kembangkan Limbah Cangkang Telur jadi Kolagen Halal


Surabaya, Bhirawa
Limbah cangkang telur rupanya bernilai tinggi. Berkat inovasi yang dikembangkan tim peneliti Universitas Ciputra (UC) Surabaya, cangkang telur disulap menjadi kolagen halal. Pengembangan inovasi ini memanfaatkan eggshell membrane (ESM) sebagai sumber kolagen alami.

Penelitian ini melibatkan dosen Joko Sulistyo, Mitha Ayu Pratama Handojo, dan Agoes Tinus Lis Indrianto, dengan dukungan mahasiswa Belinda Manuela Angkadjaja dan Tuhfah Wikaputra, serta laboran Teknologi Pangan Amelia Myristi Lolita.

“Selama ini kolagen banyak diperoleh dari tulang atau kulit hewan seperti sapi, kambing, bahkan babi. Selain mahal, kehalalannya juga sering tidak jelas karena berasal dari bahan impor. Padahal, membran cangkang telur yang mudah ditemukan di sekitar kita mengandung kolagen tinggi, halal, murah, dan ramah lingkungan,”ujar ketua penelitian, Joko Sulistyo Selasa (3/2).

Disebutkan Joko, setiap hari, konsumsi telur di sektor rumah tangga, peternakan, hingga industri makanan menghasilkan limbah cangkang dalam jumlah besar. Sebuah gerai martabak, misalnya, bisa menghasilkan satu keranjang penuh cangkang telur setiap hari. Bahkan, berdasarkan pengakuan peternak, sektor bakery dapat menghabiskan hingga 3.500 butir telur per hari.

Sayangnya, sebagian besar limbah tersebut berakhir sebagai sampah dan menimbulkan persoalan lingkungan. “Karena potensi ini kami mulai meneliti kandungan kolagen pada membran putih di balik cangkang telur,”tuturnya.

Menurutnya, kolagen ESM memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari bahan baku yang murah dan mudah didapat, hingga kejelasan dari sisi kehalalan. Kolagen ini juga telah masuk dalam positive list, sehingga aman digunakan untuk berbagai produk.

Berita Terkait :  Umsida Kirim 90 Mahasiswa KKN, Bantu Kurangi Kasus Stunting di Jawa Timur

“Selain untuk pangan, kolagen ini bisa dimanfaatkan di bidang farmasi, kosmetik, suplemen kesehatan, bahkan ke depan berpotensi untuk aplikasi medis,” jelasnya.

Proses pembuatan kolagen halal Belinda menyebut prosesnya dimulai dari perendaman dan pembersihan cangkang telur selama semalam, sebelum dipisahkan antara membran dan bagian cangkangnya.

“Membran yang sudah dipisahkan lalu dibersihkan dengan air, dikeringkan di oven selama dua jam pada suhu sekitar 40 derajat Celsius, kemudian diblender hingga halus,” terang Belinda.

Tahap selanjutnya adalah proses ekstraksi menggunakan larutan buffer dan enzim pepsin. “Larutan didiamkan selama satu sampai dua malam, kemudian dipisahkan antara endapan dan airnya. Endapan itu lalu dikeringkan dengan suhu dingin sekitar minus 40 sampai minus 50 derajat Celsius selama tiga hari hingga menjadi kolagen kering yang siap diolah,” ujarnya.

Dari proses tersebut, sekitar 20 persen kolagen dapat dihasilkan dari total bahan baku cangkang telur yang digunakan. Tak hanya membrannya, bagian cangkang telur yang keras juga dimanfaatkan. Setelah dibersihkan dan dikeringkan, cangkang telur diolah menjadi bubuk kaya kalsium yang berfungsi sebagai bahan penguat bioplastik. “Kandungan kalsium ini membuat bioplastik lebih kokoh dan ramah lingkungan,”pungkasnya.

Saat ini, tim peneliti UC Surabaya telah menjalin komunikasi dengan industri kosmetika yang memanfaatkan kolagen ESM sebagai bahan skin care, pelembap, dan krim wajah. Kerja sama teknis dengan industri direncanakan mulai 2026 seiring pengembangan produk ke tahap komersial. [ina.wwn]

Berita Terkait :  Unigoro dan EMCL Tanam 1.300 Bibit Pohon di Kaki Gunung Pandan

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru