Oleh :
Ani Sri Rahayu
Dosen Civic Hukum dan Trainer P2KK Univ. Muhammadiyah Malang
Saat ini, fenomena pendidikan permisif kian marak di Indonesia dan menjadi perhatian serius bagi masa depan generasi muda. Pola asuh serta sistem pendidikan yang terlalu longgar, cenderung membiarkan anak tanpa batasan yang jelas, telah memunculkan berbagai dampak negatif, seperti menurunnya kedisiplinan, rendahnya daya juang, serta lemahnya tanggung jawab sosial. Di era digital yang serba instan ini, banyak orang tua dan pendidik lebih memilih pendekatan yang “memanjakan” daripada menanamkan nilai-nilai ketegasan dan disiplin. Jika dibiarkan, pendidikan permisif dapat menciptakan generasi yang rapuh, kurang mandiri, dan sulit menghadapi tantangan di masa depan. Lalu, apakah kita sedang menggiring anak-anak kita menuju krisis karakter?
Merosotnya disiplin dan tanggung jawab generasi muda
Disiplin dan tanggung jawab merupakan nilai fundamental yang seharusnya tertanam dalam diri setiap generasi muda. Namun, di era modern ini, keduanya justru semakin merosot, terlihat dari menurunnya kepatuhan terhadap aturan, lemahnya etos kerja, serta rendahnya kesadaran akan kewajiban. Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pola asuh permisif, kemudahan teknologi yang membuat segalanya serba instan, hingga kurangnya keteladanan dari lingkungan sekitar. Jika dibiarkan, generasi mendatang berisiko tumbuh tanpa karakter yang kuat, sulit menghadapi tantangan, dan kurang memiliki rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri maupun masyarakat.
Selain itu, disiplin dan tanggung jawab adalah dua nilai fundamental yang menentukan kualitas generasi muda sebagai penerus bangsa. Namun, realitas saat ini menunjukkan kecenderungan merosotnya kedua aspek tersebut dikalangan anak muda. Banyak dari mereka yang semakin abai terhadap aturan, kurang menghormati otoritas, serta enggan mengambil tanggung jawab atas tindakan mereka. Kemajuan teknologi dan pola asuh permisif turut berkontribusi dalam membentuk karakter yang cenderung instan dan minim kedisiplinan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi mendatang akan kesulitan menghadapi tantangan hidup dan gagal berkontribusi secara optimal bagi masyarakat dan negara.
Itu artinya, merosotnya disiplin dan tanggung jawab di kalangan generasi muda tidak bisa dibiarkan, pasalnya jika dibiarkan berpotensi membawa dampak yang luas, baik bagi individu maupun masyarakat. Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab. Salah satu faktor utama adalah pola asuh permisif yang cenderung terlalu longgar, orang tua lebih banyak memanjakan anak tanpa menanamkan batasan yang tegas. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan seperti ini seringkali sulit memahami konsep konsekuensi dan tanggung jawab.
Alhasil, yang bisa terjadi di lingkungan pendidikan, akan semakin banyak siswa yang kurang menghargai aturan, sering mengabaikan tugas, dan menunjukkan sikap acuh tak acuh terhadap kewajiban akademik. Sedangkan, di dunia kerja, generasi muda yang terbiasa dengan kemudahan dan minimnya konsekuensi cenderung memiliki daya juang rendah, kurang disiplin dalam menjalankan tugas, serta sulit menerima kritik dan tanggung jawab yang lebih besar. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini dapat berujung pada melemahnya kualitas sumber daya manusia yang berpengaruh pada masa depan bangsa.
Solusi meningkatkan disiplin dan tanggung jawab
Merosotnya disiplin dan tanggung jawab di kalangan generasi muda saat ini menjadi isu yang mendesak untuk dibahas. Dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks, kedisiplinan dan rasa tanggung jawab merupakan pondasi penting bagi pembangunan karakter serta kemajuan bangsa. Menurut hemat penulis, berikut inilah beberapa solusi untuk mengembalikan dan meningkatkan disiplin serta tanggung jawab generasi muda.
Pertama, penerapan pola asuh yang seimbang di keluarga. Artinya, keluarga memegang peran utama dalam membentuk karakter anak. Orang tua perlu menanamkan nilai disiplin dengan memberikan contoh yang baik, menetapkan aturan yang jelas, serta memberikan konsekuensi yang tegas namun adil. Selain itu, penting untuk melibatkan anak dalam tanggung jawab rumah tangga, seperti membantu pekerjaan rumah, agar mereka belajar menghargai waktu dan usaha yang dibutuhkan untuk mencapai sesuatu.
Kedua, peningkatan peran pendidikan dalam pembentukan karakter. Artinya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menuntut ilmu, tetapi juga sebagai tempat pembentukan karakter. Pendidikan yang berfokus pada nilai-nilai disiplin dan tanggung jawab sangat diperlukan, baik melalui pelajaran yang bersifat formal maupun kegiatan ekstrakurikuler yang mendidik. Guru harus menjadi teladan dalam menunjukkan kedisiplinan dan tanggung jawab, serta mengintegrasikan aspek moral dan karakter dalam setiap pembelajaran.
Ketiga, penggunaan teknologi yang positif. Teknologi dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk meningkatkan kedisiplinan dan tanggung jawab apabila digunakan dengan bijak. Misalnya, melalui aplikasi pendidikan yang memotivasi anak untuk mengikuti jadwal belajar, mengerjakan tugas, dan melacak kemajuan mereka. Pendidikan digital juga dapat mengajarkan keterampilan manajemen waktu dan organisasi, yang sangat berguna dalam membentuk kedisiplinan.
Keempat, program penguatan mental dan karakter. Yakni, suatu program yang menekankan pentingnya mental tangguh, seperti pelatihan kepemimpinan, konseling, dan seminar tentang pengembangan diri, dapat membantu generasi muda untuk lebih memahami arti dari disiplin dan tanggung jawab. Dengan memahami pentingnya memiliki sikap yang kuat terhadap tantangan hidup, mereka akan lebih siap untuk mengambil tanggung jawab dalam setiap aspek kehidupan, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat.
Kelima, keterlibatan orang tua dalam pendidikan. Artinya, orang tua harus aktif dalam memantau perkembangan pendidikan anak-anak mereka, baik di rumah maupun di sekolah. Komunikasi yang terbuka antara orang tua, guru, dan siswa akan memastikan bahwa anak-anak memahami ekspektasi yang ada dan merasa didukung dalam usaha mereka untuk meningkatkan kedisiplinan dan tanggung jawab. Keterlibatan orang tua dalam aktivitas pendidikan juga memberikan penguatan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah.
Dengan implementasi solusi-solusi ini, diharapkan generasi muda dapat kembali memiliki karakter yang kuat, disiplin, dan bertanggung jawab. Langkah-langkah ini juga penting untuk mempersiapkan mereka menjadi individu yang mandiri dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
————- *** ————–