25 C
Sidoarjo
Tuesday, February 3, 2026
spot_img

Pemprov Lakukan Perbaikan Infrastrutur Drainase dan Pertanian Pasca Banjir Situbondo


Situbondo, Bhirawa
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa merespon cepat bencana banjir bandang di wilayah Pantura dengan mengunjungi korban banjir bandang di Desa Kalianget dan Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Jumat (23/1)

Kedatangan orang nomor satu di lingkungan Pemprov Jawa Timur ini disambut oleh Bupati Situbondo, Yusuf Wahyu Rio Prayogo dan Wakil Bupati Situbondo, Ulfiyah.

Dalam kesempatan tersebut Gubernur Khofifah menyempatkan mengunjungi rumah warga yang terdampak banjir bandang dan memberikan bantuan. Gubernur Khofifah juga terlihat berbincang serius dengan Bupati Mas Rio.

“Ini respons cepat Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap bencana hidrometeorologi yang terjadi di Kabupaten Situbondo,” tegas Gubernur Khofifah.

Lebih lanjut mantan Menteri Sosial ini menyampaikan, Pemprov Jatim juga bakal melakukan normalisasi sungai di Kecamatan Mlandingan dan Kendit, Kabupaten Situbondo. Harapannya bencana serupa tidak terjadi lagi di wilayah tersebut.

“Sejauh ini normalisasi sungai di wilayah Kecamatan Mlandingan dan Kendit sudah membaik dan bisa teratasi,” terang Gubernur Khofifah.

Selain itu, Gubernur Khofifah juga menginstruksikan kepada Dinas Cipta Karya Jatim untuk menambah bronjong berlapis di sepanjang tepi Sungai Lubawang sebagai penguatan tebing sungai.

“Pemprov Jatim berencana menurunkan alat berat ekskavator untuk melakukan pengerukan atau normalisasi sungai. Namun, teknis akses alat berat masih akan di rembuk dengan Pemkab Situbondo, karena jalur masuk ekskavator harus melalui gang sempit yang tidak bisa di melewati,” tutur Gubernur Khofifah.

Berita Terkait :  Syukuri Pilkada Damai di Situbondo dengan Doa dan Santuni Anak Yatim

Selain infrastruktur, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga melakukan pemulihan sektor pertanian pascabanjir yang melanda Kabupaten Situbondo pada 21 Januari 2026.

Melalui perbaikan saluran irigasi yang rusak, Pemprov Jatim memastikan suplai air ke lahan pertanian kembali normal demi menjaga produktivitas petani dan ketahanan pangan daerah.

Gubernur menegaskan, infrastruktur pengairan menjadi kunci utama keberlanjutan pertanian, khususnya bagi sawah warga di delapan desa yang terdampak banjir. Kerusakan irigasi dinilai berpotensi mengganggu masa tanam jika tidak segera ditangani.

“Perbaikan irigasi ini kami pastikan selesai dalam tiga hari agar aliran air ke lahan pertanian kembali normal dan aktivitas petani tidak terganggu,” ujar Khofifah (25/1).

Perbaikan irigasi dilakukan pada 24-26 Januari 2026 dengan sasaran pemulihan suplai air ke lahan pertanian seluas 1.336 hektare yang tersebar di Desa Gunung Putri, Selomukti, Trebungan, Sumberpinang, Mlandingan, Selowogo, Bungatan, dan Pasir Putih. Lahan-lahan tersebut selama ini menjadi penopang produksi pertanian masyarakat setempat.

Untuk mempercepat pemulihan, Pemprov Jatim menurunkan 31 personel dengan dukungan alat berat, di antaranya ekskavator, self loader, truck crane, dump truck, serta pemasangan pipa dan sandbag guna menjaga aliran air tetap mengalir selama proses perbaikan berlangsung.

Banjir sebelumnya menyebabkan kerusakan saluran irigasi sepanjang sekitar 15 meter dan memutus pasokan air ke area persawahan. Sebagai langkah darurat, Pemprov Jatim telah memasang pipa sementara agar petani tetap mendapatkan air dan tidak kehilangan momentum tanam

Berita Terkait :  5.571 Rumah Tangga di Sidoarjo Ditawari Pasang Jaringan Gas Bumi

Gubernur Khofifah membeberkan, tingkat potensi bencana hidrometeorologi di Jawa Timur mengalami peningkatan yang signifikan. Di mana pada bulan Desember 2025, potensi bencana sekitar 20 persen saja, namun pada bulan Januari 2026 meningkat menjadi 58 persen.

“Jawa Timur idealnya bisa melakukan modifikasi cuaca di empat hingga lima titik. Karena keterbatasan anggaran APBD Provinsi Jatim, maka saat ini hanya mampu modifikasi cuaca dua hingga tiga titik saja,” ucap Gubernur Khofifah.

Menurutnya, modifikasi cuaca dilakukan dengan dua metode. Untuk awan di laut, dilakukan penaburan garam dengan satu torsi seberat 1.000 gram. Dan jika awan sudah bergerak ke daratan, maka dilakukan penaburan kapur agar hujan turun lebih menyebar.

“Tujuannya modifikasi cuaca agar hujan tidak terkonsentrasi di satu wilayah, tetapi bisa menyebar. Sehingga meminimalisir terjadinya bencana alam,” tandas Gubernur Khofifah.

Sementara itu, Bupati Situbondo Yusuf Wahyu Rio Prayogo sangat mengapresiasi kunjungan Gubernur Khofifah ke lokasi di Desa Kalianget dan Lubawang Kecamatan Banyuglugur.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Situbondo maupun atas nama pribadi, saya ucapkan terima kasih atas kunjungan Ibu Gubernur Jawa Timur bersama rombongan yang meninjau langsung korban bencana banjir di Situbondo,” pungkas Bupati Mas Rio. [awi.ina.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru