Surabaya, Bhirawa
Penguatan dalam menanamkan nilai keislaman sejak dini jadi komitmen SD Muhammadiyah 18 Surabaya. Terbaru, sekolah yang berlokasi di Mulyorejo ini melakukan kerjasama dalam bentuk penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Pondok Pesantren Maskumambang Gresik, dalam program Pekan Dakwah Santri yang dikemas sebagai ruang belajar sekaligus pengabdian.
Kepala SD Muhammadiyah 18 Surabaya, Achmad Barizi, menjelaskan program ini menyerupai kegiatan magang bagi santri. Sebanyak 11 santri nantinya akan diterjunkan langsung ke lingkungan sekolah dan masyarakat untuk mempraktikkan ilmu yang telah diperoleh di pesantren.
“Para santri, kami libatkan secara langsung dalam aktivitas sekolah mulai pagi hingga sore. Mereka berbaur dengan guru dan siswa, belajar menjadi pendidik,” ujarnya, Rabu (7/1).
Tak hanya di lingkungan sekolah, saat Maghrib hingga Subuh para santri juga disebar ke masjid dan musala Muhammadiyah di wilayah PRM (Pimpinan Ranting Muhamamdiyah) Mulyorejo. Di sana, mereka mengisi kegiatan dakwah dan pembinaan keagamaan bagi masyarakat sekitar.
Program ini, lanjut Barizi, bersifat dua arah. Selain menerima santri dari pesantren, pihak sekolah juga mengirimkan siswanya untuk belajar langsung di lingkungan pondok. Salah satunya adalah kegiatan di Pondok Pesantren El-Kisi Mojokerto yang dilaksanakan selama satu pekan pada masa liburan semester lalu.
“Selama 12-22 Januari, sebanyak 11 santri kelas III SMA yang akan lulus dari pondok kami hadirkan ke sekolah. Mereka akan berlatih untuk mengajar dan berdakwah dari hasil ilmu yang diampu selama menjalankan pendidikan pesantren,”jelasnya.
Kepala sekolah yang akrab disapa Izzy ini juga menyebut, kolaborasi antarlembaga pendidikan ini bertujuan memperkuat pemahaman agama siswa, mengenalkan dunia pesantren sebagai basis pendidikan keislaman, sekaligus membekali siswa agar menjadi pribadi mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki kualitas keimanan yang kuat.
Program Pekan Dakwah Santri juga menjadi bagian dari program rutin tahunan SD Muhammadiyah 18 Surabaya, khususnya bagi siswa program Tahassus. Program ini mencakup Tahassus Bahasa Arab dan Tahfidz Khusus, yang difokuskan pada penguatan hafalan serta pemahaman Al-Qur’an.
Sebanyak 52 siswa yang terbagi dalam empat kelas mengikuti program Tahassus ini. Mereka dibina secara intensif oleh musyrif dan musyrifah yang telah hafal Al-Qur’an.
“Melalui kolaborasi ini, kami berharap dapat melahirkan generasi yang tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter religius dan kepedulian sosial yang kuat,”pungkasnya. [ina.wwn]

