Jombang, Bhirawa
Sebagai tokoh nasional dan pegiat toleransi, istri presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Nyai Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid selama ini konsisten menyelenggarakan sahur kebangsaan di berbagai daerah.
Melalui forum sahur bersama, Nyai Shinta Nuriyah menghadirkan ruang dialog inklusif yang merangkul kelompok-kelompok marjinal serta mempertemukan beragam elemen masyarakat tanpa memandang latar belakang agama, suku, budaya, maupun status sosial.
Kali ini, Minggu dinihari (01/03), Nyai Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid menghadiri kegiatan sahur keliling di Pondok Pesantren (Ponpes) Khoiriyah Hasyim, Seblak, Diwek, Jombang.
Dalam kesempatan tersebut, Istri Gus Dur itu menegaskan bahwa, Indonesia adalah bangsa yang dibangun di atas keberagaman yang saling menguatkan.
Kebiasaannya membersamai sahur dan buka puasa keliling bersama kaum marjinal dan masyarakat lintas iman merupakan bentuk ikhtiar merawat persaudaraan kemanusiaan.
“Indonesia ini beragam. Justru karena keberagaman itulah kita kuat. Saya selalu ingin Ramadan menjadi ruang untuk merangkul semuanya, tanpa melihat latar belakang agama, suku, maupun status sosial,” ujar Nyai Shinta Nuriyah.
Nyai Shinta Nuriyah menambahkan bahwa, tradisi sahur dan buka bersama yang selama ini ia lakukan bukan sekadar seremoni, melainkan pesan kebangsaan.
“Kita harus menganggap bahwa kita semua bersaudara. Karena hakikatnya kita adalah satu. Satu nusa satu bangsa dan satu bahasa. Itulah semboyan yang kita sebut sebagai Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya yang juga diikuti oleh hadirin, yang kemudian diikuti dengan bersama menyanyika lagu Satu Nusa Satu Bangsa.
Selain itu, Nyai Shinta Nuriyah juga sempat memandu sesi diskusi (tanya jawab) terkait hakikat puasa, yang ditanggapi oleh beberapa hadirin.
Salah satunya adalah oleh M. Fatih yang mengutarakan bahwa puasa adalah salah satu ibadah yang Istimewa tentang umat yang memiliki kesabaran. Jawaban juga datang dari salah satu hadiri yang mengungkap bahwa puasa adalah ibadah ikhlas yang tak mengharap balasan.
Menanggapi itu, Nyai Shinta Nuriyah mengungkapkan bahwa, puasa Ramadan adalah puasa tahunan yang ketika manusia hanya menganggap begitu, maka hanya menggugurkan kewajiban. Sedangkan menurutnya, puasa lebih dari itu.
“Inilah hakikat puasa. Jadi puasa yang kita lakukan adalah puasa yang revolusioner. Yang bisa mengubah perilaku dari jelek menjadi baik. Dan semua perubahan itu adalah menjadi baik hingga bertakwa,” tutur Nyai Shinta Nuriyah melengkapi jawaban-jawaban dari diskusi bersama para hadirin.
Untuk diketahui, rangkaian acara diawali dengan penampilan pra-acara dari komunitas GUSDURian Jombang dan perwakilan lintas agama sebagai simbol harmoni dalam keberagaman, salah satunya Barongsai dan Banjari.
Acara inti dibuka oleh pembawa acara, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Subhanul Wathon sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai kebangsaan dan tradisi pesantren.
Pembacaan ayat suci Al-Qur’an mengawali suasana spiritual yang khidmat sebelum sambutan panitia dan tuan rumah.
Melalui Sahur Keliling 2026, pihak GUSDURian Jombang berharap dapat memperkuat jejaring solidaritas sosial di tingkat lokal sekaligus berkontribusi pada gerakan kebangsaan yang lebih luas.
Di tengah berbagai tantangan, baik bencana alam maupun dinamika demokrasi, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa persaudaraan, empati, dan komitmen terhadap nilai kemanusiaan adalah fondasi utama dalam merawat Indonesia.
Kegiatan ‘Sahur Keliling 2026 bersama Ibu Nyai Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid’ mengusung tema ‘Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi’.
Tema tersebut dipilih sebagai refleksi atas dinamika sosial, kemanusiaan, dan kebangsaan yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia.
Ramadan tahun ini tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga ruang kontemplasi kolektif di tengah berbagai bencana alam, krisis sosial, dan tantangan demokrasi yang membutuhkan kedewasaan serta etika publik.
Bagi Gusdurian, sahur keliling bukan sekadar agenda tahunan untuk menyemarakkan Ramadan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas iman, lintas budaya, kaum marginal, difabel, serta lintas kelas sosial dalam semangat kemanusiaan dan persaudaraan.
Sekitar 600 peserta ditargetkan hadir dalam kegiatan ini, terdiri atas pejabat daerah, tokoh lintas agama, komunitas masyarakat sipil, para santri, hingga kelompok dhuafa dan masyarakat marjinal seperti tukang becak, pengamen, pemulung, tukang parkir, buruh, serta kelompok minoritas yang kerap berada di pinggiran akses sosial dan ekonomi.
Ketua panitia acara, Achmad Fathul Iman menyampaikan bahwa, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk meneladani nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan toleransi di tengah situasi kebangsaan yang dinilai memerlukan penguatan fondasi sosial.
“Kegiatan sahur keliling bersama Ibu Nyai Shinta ini bukan hanya agenda seremonial. Ketika demokrasi terasa goyah, ruang-ruang kebersamaan seperti inilah yang menguatkan fondasinya. Demokrasi bukan hanya soal politik, tetapi tentang keadilan, keberpihakan pada yang lemah, serta keberanian menjaga suara nurani,” ungkapnya.
Sambutan hangat juga disampaikan oleh Ketua Yayasan Khoiriyah Hasyim Seblak Jombang, Nyai Hj. Rika Fauziyah Andarini.
Ia mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dan berharap momentum sahur bersama mampu mempererat persaudaraan dalam berbagai dimensinya.
“Kami sangat bersyukur dan bahagia atas terselenggaranya acara ini. Semoga ini mampu mempererat ukhuwah islamiyah, wathaniyah, dan basyariyah, sekaligus mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Semoga kita bisa meneladani Gus Dur dan juga Ibu Nyai Shinta,” tuturnya.(rif.hel)


