Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digalakkan pemerintah patut diapresiasi sebagai langkah konkret dalam memperbaiki gizi anak sekolah dan memerangi stunting. Sebagai orang tua, saya melihat potensi besar program ini untuk meningkatkan fokus belajar siswa dan meringankan beban ekonomi keluarga. Namun, di balik antusiasme tersebut, pelaksanaan di lapangan membutuhkan perhatian ekstra dan evaluasi berkelanjutan agar tepat sasaran.
Uji coba di beberapa daerah menunjukkan hasil positif, namun tak sedikit pula isu terkait tata kelola, seperti keragaman menu dan kualitas makanan yang perlu diperhatikan. Beberapa laporan menyebutkan adanya masalah higienitas makanan di beberapa tempat, yang memicu kekhawatiran orang tua akan risiko keracunan. Program yang bertujuan menyehatkan tentu tidak boleh kontraproduktif.
Oleh karena itu, saya berharap Badan Gizi Nasional (BGN) dan pihak sekolah memperketat pengawasan terhadap vendor atau dapur umum penyedia makanan. Kualitas gizi harus dipastikan sesuai standar (Isi Piringku), tidak sekadar kenyang, tetapi benar-benar bergizi. Selain itu, pelibatan UMKM lokal dalam rantai pasok diharapkan dapat berjalan dengan transparan untuk memastikan keberlanjutan ekonomi daerah.
Program ini adalah investasi jangka panjang untuk generasi masa depan. Tanpa pengawasan ketat, program yang mulia ini berisiko menjadi pemborosan anggaran. Mari kita kawal bersama MBG agar memberikan dampak maksimal bagi kesehatan dan kecerdasan anak-anak kita.
Andi Prasetyo
Wali Murid, di Sidoarjo

