25 C
Sidoarjo
Tuesday, February 3, 2026
spot_img

Mengurangi Beban Peternak Lewat Mesin Pencacah Rumput: Teknologi Kecil, Dampak Besar


Mojokerto, Bhirawa
Di banyak desa, beternak sapi sering dianggap pekerjaan yang “sudah biasa”. Rutinitasnya terlihat sederhana, cari rumput, kasih makan, lalu bersih-bersih kandang. Tapi bagi peternak, pekerjaan itu bukan sekadar rutinitas harian melainkan pekerjaan yang berulang, menyita waktu, dan menguras tenaga. Yang paling melelahkan justru bagian yang paling sering diremehkan adalah menyiapkan pakan.

Di Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, peternak seperti Pak Maslikan harus meluangkan waktu panjang hanya untuk mencari dan memotong rumput. Prosesnya bisa memakan waktu berjam-jam setiap hari, terlebih saat musim hujan ketika rumput basah dan sulit ditangani. Situasi ini membuat peternak seperti berjalan di tempat. Habis tenaga untuk rutinitas, tapi sulit punya waktu untuk mengembangkan usaha ternak yang lebih baik.

Masalahnya bukan cuma soal lelah yang dirasakan, tapi juga rumput yang disiapkan dalam bentuk panjang dan utuh biasanya ditumpuk begitu saja di sekitar kandang. Alhasil kandang jadi sempit, tidak rapi, dan sebagian rumput mudah rusak karena lembap. Lebih parah lagi, tidak semua rumput termakan. Banyak yang jatuh, terinjak, atau membusuk pakan yang seharusnya menjadi sumber kekuatan ternak malah jadi limbah.

Dari kondisi inilah hadir sebuah solusi yang terlihat sederhana tapi sebenarnya cukup “menyelamatkan” mesin pencacah rumput. Alat ini merupakan inovasi yang diciptakan oleh mahasiswa KKN Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya yakni sub kelompok 3 KKN R4 Candiwatu, Pacet. Sub kelompok 3 ini sendiri memiliki 5 anggota yang terdiri dari berbagai prodi yakni, Vincentius Gabriel (Teknik Industri), Annifa Octatya (Ilmu Komunikasi), Dona Aurelia Putri Handono (Administrasi Negara), Mutiara Safiqoh Izzabella (Imu Hukum), Desi Nur Saida (Administrasi Bisnis). Inovasi alat ini bukan mesin besar yang sulit dijangkau peternak rumahan, melainkan teknologi tepat guna yang dirancang sesuai kebutuhan lapangan. Mesin ini memotong rumput menjadi ukuran pendek sehingga lebih mudah disimpan, lebih rapi, dan lebih nyaman diberikan ke sapi.

Berita Terkait :  Pemkot Surabaya Kebut Pembangunan Empat Bozem Baru

Yang membuat program ini menarik adalah cara penerapannya yang tidak hanya berakhir pada “alat jadi”. Prosesnya disusun bertahap dan jelas, dimulai dari pengamatan kondisi peternak, perancangan alat, proses pembuatan, hingga uji coba langsung. Setelah itu dilakukan pelatihan penggunaan dan perawatan sederhana agar alat benar-benar bisa dipakai secara mandiri.

Secara garis besar, mesin pencacah rumput ini bekerja melalui beberapa langkah kerja praktis yakni: (1). 1. Tahap Awal : Persiapan bahan. Rumput yang sudah dikumpulkan dipilih agar tidak terlalu basah atau tercampur benda keras. Ini penting supaya mesin tidak mudah tersendat. (2). Tahap Kedua : Proses pencacahan

Rumput dimasukkan perlahan sesuai kapasitas mesin. Hasilnya berupa potongan kecil yang lebih mudah ditata dan tidak memakan banyak ruang. (3). Tahap Ketiga : Penyimpanan dan pemberian pakan. Rumput cacah bisa disusun lebih rapi, tidak cepat rusak, dan cenderung lebih cepat habis dimakan sapi. Peternak juga lebih mudah mengatur porsi. (4). Tahap Keempat : Perawatan alat. Setelah digunakan, bagian pencacah dibersihkan dan komponen dicek agar mesin awet. Perawatan ringan ini jadi kunci agar alat tidak mudah rusak.

Kelebihan utama dari teknologi seperti ini terletak pada dampaknya yang langsung terasa. Peternak tidak lagi bergulat dengan tumpukan rumput panjang yang membuat kandang sesak. Pakan lebih tertata, pemborosan bisa ditekan, dan yang paling penting yakni waktu peternak tidak lagi habis untuk pekerjaan yang bisa dipangkas dengan teknologi.

Berita Terkait :  Tingkatkan Hasil Panen, Pemdes Sekargadung Dukun Gresik Bangun Dam Pintu Air di Sejumlah Titik

Pada akhirnya, mesin pencacah rumput bukan soal teknologi canggih. Ini soal mempermudah para peternak skala rumah di desa yang sering luput dilihat. Peternak tidak membutuhkan alat yang mahal. Mereka butuh solusi yang sederhana, tepat, dan terus bertahan. Karena dari rumput yang dipotong lebih cepat, peternak punya satu hal yang selama ini paling mahal yakni waktu. [why]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru