Surabaya, Bhirawa
Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggadakan kegiatan Yudisium yang di ikuti oleh program sarjana dan magsiter di Audiotorium R. Soeparman Hadi Pranoto Graha Widya, Untag Surabaya.
Yudisium FT Untag Surabaya diikuti 233 mahasiswa program sarjana (S1) dan magister (S2) dari enam program studi, pada jenjang S1 meliputi Teknik Industri, Teknik Mesin, Teknik Sipil, dan Arsitektur. Sedangkan jenjang S2 terdiri dari Magister Teknik Sipil dan Magister Arsitektur, Kamis (5/2).
Dekan Fakultas Teknik Untag Surabaya, Dr. Ir. R.A. Retno Hastijanti, M.T., IAI, APEC Eng., mengatakan bahwa FT Untag Surabaya pembentukan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter nasionalis, peduli lingkungan, serta mampu menghadirkan solusi atas persoalan masyarakat.
“Ke inginan kami lulusan FT Untag jadi sarjana dan magister yang nasionalis, responsif, dan solutif, serta mampu membaca persoalan sekaligus menawarkan solusi dan inovasi yang bijak,” ujarnya.
Lanjut Retno menjelaskan kali ini Magister Arsitektur menjadi kelulusan angakatan pertama, hal tersebut menjadi tonggak penting dalam pengembangan pendidikan pascasarjana di lingkungan Fakultas Teknik. “Magister Arsitektur meluluskan delapan mahasiswa yang merupakan angkatan pertama, salah satunya menjadi lulusan terbaik,” jelas Retno.
Retno tekankan bagi mahasiswa Fakultas Teknik Untag Surabaya supaya hasil skripsi dan tesis lulusan tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat mengimplementasikan hasil risetnya di dunia kerja maupun masyarakat.
“Ekosistem alumni jadi ruang penting agar para lulusan terutama angkatan perdana Magister Arsitektur, dapat berkembang, berjejaring, dan mengimplementasikan hasil penelitiannya,” tutur Retno.
Salah satu mahasiswa lulusan terbaik Magister Arsitektur, Ekky Nada Wijaya, menyampaikan flesibel pada sistem perkuliahan jadi alasan utama memilih studi melanjutkan di Untag Surabaya.
“Fleksibilitas pada perkuliahan membantu yang sudah bekerja, dimana bisa mengikuti kuliah secara online maupun offline, sehingga tetap dapat melanjutkan studi tanpa meninggalkan pekerjaan,” pungkas Ekky.
Ekky pada tesisnya meneliti Peran Kontekstualitas Fasilitas Taman Kota dalam Mendukung Keberlanjutan dengan studi kasus di Kota Surabaya, dimana menyoroti pentingnya pendekatan kontekstual supaya ruang terbuka hijau tetap hidup dan dimanfaatkan masyarakat.
“Banyak taman kota ditinggalkan akibat tidak lagi kontekstual, Penelitian saya mencoba menggali strategi supaya ruang terbuka hijau dapat kembali berfungsi secara optimal,” ucap Ekky.
Ekky berharap kedepan melanjutkan riset tesisnya agar dapat dikembangkan menjadi publikasi ilmiah pada jurnal terindeks nasional. [ren.wwn]

