25 C
Sidoarjo
Friday, July 19, 2024
spot_img

Magang MBKM, Nur’aini Pelajari Habilitasi pada Anak Gangguan Pendengaran

Proses Habilitasi pendengaran merupakan intervensi pada anak yang terkena gangguan pendengaran sejak lahir dan belum pernah belajar berbahasa atau berkomunikasi berbasis pendengaran dan ucapan

Surabaya, Bhirawa.
Kesempatan magang melalui Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) membuat Luthfi Nur’aini Malik mendapatkan banyak pengalaman. Saat magang menjadi relawan di Yayasan Aurica, mahasiswa Prodi Ilkom Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya ini mempelajari proses habilitasi pada anak gangguan pendengaran.

Menurut Luthfi, Yayasan Aurica adalah sebuah lembaga yang didirikan para orang tua anak dengan gangguan pendengaran.

“Tujuan untuk dapat turut serta membantu/mengembangkan potensi anak-anak yang mengalami gangguan pendengaran, agar dapat lebih berpartisipasi dan prestasi serta dapat memiliki pilihan yang luas,” jelas Luthfi.

Gangguan pendengaran pada anak jelas Luthfi, bisa menjadi tantangan yang signifikan yang dapat menghambat perkembangan bahasa, kognitif, dan sosial mereka.

“Proses habilitasi pendengaran merupakan intervensi pada anak yang terkena gangguan pendengaran sejak lahir dan belum pernah belajar berbahasa atau berkomunikasi berbasis pendengaran dan ucapan,” jelas Luthfi kepada Bhirawa.

Proses habilitasi atau memperbaiki fungsi tertentu pada individu ini tidaklah dilakukan sekali jalan, melainkan memerlukan proses panjang dari orang tua anak berkebutuhan khusus.

Sebelum membahas proses habilitasi, penting untuk memahami jenis dan tingkat gangguan pendengaran yang mungkin dialami oleh anak – anak. Gangguan pendengaran dapat bersifat ringan hingga berat, serta bisa bersifat sementara atau permanen.

Berita Terkait :  Promosikan Grande Garden Cafe, Revina Manfaatkan Konten Tiktok

Penyebabnya pun bervariasi mulai dari genetic hingga infeksi telinga.
Habilitasi ini juga bukan hanya sekedar pemasangan implant sebagai alat bantu dengar agar anak yang mengalami gangguan pendengaran dapat mendengar dan berbicara, tetapi harus melalui beberapa tahap terlebih dahulu.

Identifikasi diri merupakan langkah pertama dalam proses habilitasi pendengaran. Tes pendengaran rutin harus dilakukan pada bayi dan anak – anak, terutama pada mereka yang memiliki faktor resiko tertentu, seperti riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran atau komplikasi medis lainnya.

Setelah melakukan indentifikasi atau diagnosis awal, langkah selanjutnya yaitu pemilihan alat bantu dengar yang sesuai. Biasanya yang sering digunakan adalah alat bantu dengar berupa implant koklea.

Apakah setelah melakukan pemasangan alat bantu dengar anak kita bisa langsung mendengar dan berbicara secara normal?

Tentu saja tidak, masih ada beberapa tahapan lagi yang harus dilakukan setelah pemasangan alat bantu dengar yaitu melakukan pengaturan dan penyesuaian. Hal ini dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan individu anak.

Anak – anak yang menggunakan alat bantu dengar memerlukan pelatihan dan terapi tambahan untuk membantu mereka mengemabangkan keterampilan pendengaran dan berbicara. Ini bisa meliputi sesi terapi wicara dan bahasa, serta Latihan pendengaran.

Nah, selain dari semua rangkai itu dukungan dari keluarga dan lingkungan merupakan hal yang paling dibutuhkan oleh anak penderita gangguan pendengaran. Keluarga perlu terlibat dalam proses habilitasi dan belajar cara terbaik mendukung perkembangan anak mereka.

Berita Terkait :  Unusa Deklarasi Diri Menuju Kampus Bebas Sampah Plastik

Jadi dapat disimpulkan bahwa pemasangan alat bantu dengar ini tidak serta merta langsung dipasang, tetapi harus melalui proses yang cukup Panjang. Maka untuk mencegah terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan, intervensi dini ini sangat penting dalam kasus gangguan pendengaran pada anak. (why.hel)

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Berita Terbaru