Oleh:
Edi Sutomo
Guru Matematika MAN 2 Kota Malang
Sebagai salah satu subordinat pendidikan di Indonesia, madrasah memiliki peran yang sangat strategis dalam perkembangan peradaban di Indonesia. Sebagai institusi yang memiliki ekosistem dan corak yang khas dengan keilmuan keislamannya, madrasah dituntut untuk senantiasa berinovasi guna menuntun perkembangan zaman. Terlebih saat ini madrasah seolah menemukan momentumnya lagi untuk lebih berkembang pesat seiring dengan era “kebangkitan agama” sebagaimana diungkap oleh Futurolog Jhon Naisbit dan Patricia Aburden.
Begitu juga pendapat Ariel Heryanto dalam bukunya Identitas dan Kenikmatan mengungkapkan bahwa salah satu ciri paling mencolok yang mewarnai dekade pertama Indonesia pasca orde baru adalah Islamisasi diberbagai lini kehidupan bangsa baik secara formal maupun kultural. Dengan lebih dari 8,9 juta peserta didik dan lebih dari 80 ribu satuan pendidikan, madrasah sepatuynya bisa menjadi arus utama dalam pembentukan generasi baru yang terdepan. Pekerjaan berikutnya adalah “bagaimana mengemas madrasah sebagai prorotype dan laboratorium pendidikan masa depan”.
Madrasah menjadi ruang berekspresi yang tidak hanya memantapkan ilmu pengetahuan, tetapi juga memungkinkan peserta didik bereksperimen, menemukan diri, serta memecahkan persoalan nyata masyarakat. Madrasah tidak cukup hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi harus berevolusi menjadi lingkungan inovasi-tempat peserta didik mempraktikkan ilmu, nilai, dan keterampilan dimasa depan.
Fleksibilitas Kurikulum
Kurikulum madrasah di masa depan harus bergerak menuju kurikulum yang lebih fleksibel dan responsif. Penelitian UNESCO (2024) menegaskan bahwa fleksibilitas kurikulum menjadi kunci sistem pendidikan yang mampu bertahan menghadapi era disrupsi. Fleksibilitas di sini bukan berarti kebebasan tanpa batas, melainkan ruang bagi madrasah untuk menyesuaikan konteks lokal, potensi siswa, dan perubahan sosial.
Pendekatan kurikulum madrasah masa depan perlu memiliki dua lapis kerangka: Kerangka inti yang berisi kompetensi umum dan keislaman sebagai fondasi (literasi, numerasi, akidah, akhlak, fikih, dan bahasa Arab) dan Kerangka elektif, yang memberi ruang bagi madrasah mengembangkan mata pelajaran atau proyek sesuai kebutuhan lokal, misalnya eco-madrasah, agro-edukasi, robotika dasar, ekonomi kreatif, atau literasi digital keagamaan.
Peserta didik perlu dikenalkan dengan isu-isu mutakhir dan langsung diintegrasikan dengan berbagai projek pembelajaran. Misalnya bagaimana peserta didik memandang pengelolaan lingkungan di Indonesia dengan sudut pandang fikih lingkungan.
Peserta didik diajak berliterasi keagamaan digital, misalnya membuat konten dakwah berbasis riset, bukan sekadar opini dan tentu proyek sains terapan sederhana dan sebagainya. Pendekatan ini diharapkan membuat peserta tidak hanya mengetahui, tetapi juga mampu melakukan. Di sinilah madrasah dapat menunjukkan ciri khasnya menghasilkan peserta didik yang tangguh secara spiritual dan kompeten secara teknis.Dengan kerangka seperti ini harapannya madrasah naik level menuju create.
Selanjutnya, madrasah harus mampu melakukan pendekatan integrasi sains dalam konteks keislaman yang dalam pengertian bukan mengislamkan sains secara artifisial, tetapi membangun pemahaman bahwa mempelajari alam adalah bagian dari penghayatan keimanan. Praktikum sains, eksplorasi energi terbarukan, hingga pembelajaran matematika berbasis masalah dapat dibingkai dalam nilai-nilai keislaman: bahwa ilmu mendorong manusia mengenali kebesaran sang pencipta. Sehingga madrasah mampu menyandingkan agama sebagai nilai dan sains sebagai alat akan melahirkan generasi yang religious, rasional, moderat dan terbuka.
Etika Teknologi
Tantangan masa depan bukan sekadar teknologi itu sendiri, tetapi bagaimana peserta didik memiliki kemampuan memilah, menilai, dan menggunakannya dengan bijak. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa lebih dari 96% remaja Indonesia aktif menggunakan internet. Namun literasi digital yang kritis dan etis masih rendah.
Madrasah memiliki posisi strategis untuk membentuk etika digital ini. Kurikulum masa depan perlu memasukkan: literasi informasi dan verifikasi konten, Pemrograman dasar, Etika digital dan keamanan data dan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab. Tentu semua itu perlu dibekali dengan seperangkat nilai, prinsip, dan aturan yang membimbing seseorang dalam menggunakan teknologi secara benar dan bertanggung jawab.
Disamping kemampuan dalam hal teknis, peserta didik perlu dibekali dengan nilai-nilai dalam berteknologi. Misalnya bagaimana membiasakan dan menanamkan “Kejujuran Digital”, “Digital Etiquette” bagaimana menghargai privasi dan keamanan data dan yang paling utama adalah tanggung jawab bermedia sosial. Pendekatan pengembangan karakter harus bersinergi dengan kondisi tersebut. Bagaimanapun juga peserta didik dijaman ini akan hidup dengan teknologi sebagai arus utama pengembangan zaman. Madrasah masa depan memiliki kemampuan menyeimbangkan teknologi modern dengan nilai-nilai keislaman, sehingga peserta didik bijaksana dalam berinteraksi di ruang maya.
“Laboratorium tidak akan hidup tanpa ilmuwan” ini perlu ditanamkan dalam warga madrasah. Dalam konteks madrasah, ilmuwan itu adalah guru. Untuk menjadikan madrasah sebagai laboratorium masa depan, guru perlu didorong menjadi peneliti kecil di kelasnya sendiri. Guru harus terus menerus melakukan classroom action research, guru dapat menguji strategi baru, mengevaluasi efektivitas metode, dan terus memperbaiki kualitas pembelajaran. Penguatan kapasitas guru dalam riset kecil, teknologi pembelajaran, dan kurikulum diferensiasi menjadi prasyarat penting dalam menciptakan madrasah masa depan.
Madrasah sebagai laboratorium masa depan bukanlah utopia. Ia dapat diwujudkan melalui kerangka kurikulum yang fleksibel, integratif, berbasis proyek, dan berorientasi pada perkembangan teknologi serta etika. Madrasah memiliki modal sosial, kultural, dan spiritual yang kuat-tinggal memodernisasi kerangka pendidikannya. Jika kurikulum madrasah berani melompat ke masa depan, maka madrasah tidak hanya menjadi institusi pendidikan, tetapi juga pusat inovasi, ruang produksi ilmu, dan penyiap generasi berkarakter untuk Indonesia.
—————- *** ——————-

