Muncul lagi krittisi luas MBG (Makan Bergizi Gratis) yang disajikan saat bulan Ramadhan, dinilai sangat minimalis. Jauh lebih murah dibanding harga kontrak menu sebesar Rp 10 ribu per-porsi. Viral porsi MBG di Majene, Sulawesi Barat, hanya berisi 1 buah jeruk, 1 kantong kecil kacang, sekerat roti, dan sebutir telur. Harga tak lebih dari Rp 4 ribu per-porsi. Sudah di-komunikasi-kan selama Ramadhan, berisi menu kering (untuk sekolah umum). Termasuk kurma. Namun tetap saja kurang Rp 8 ribu per-porsi (takaran murid SD kelas 3 ke bawah).
Ironisnya, nampan wadah makan, digantikan tas plastik (kresek), yang jauh dari elok. Lebih murah dibanding pemberian ta’jil gratis yang biasa dibagikan di pinggir jalan, gratis. Di Tangerang, kelompok Ormas mahasiswa, juga meng-kritisi menu MBG Ramadhan, sebagai “ugal-ugalan” (keuntungannya). Porsi yang dijadikan contoh diambil di desa Jengkol, kecamatan Kresek, Tangerang. Isi menu berupa sebutir telur, roti murahan, dan 3 butir kurma. Timbangan gizinya 300-400 gram kalori, dengan 6-8 gram protein.
Standar makan bergizi, ditetapkan mengandung kalori sebanyak 500 -700 gram, dan asupan protein 15-25 gram. Standar rendah MBG Ramadhan, diduga bagai “fenomena gunung es.” Yang dilaporkan sangat sedikit. Sedang yang tidak dilaporkan sangat banyak, seperti bagian gunung es yang 90% tenggelam. Berpotensi sebagai “bara dalam sekam.” Suatu saat akan muncul menjadi kritisi (dan keresahan) yang sangat luas.
Tetapi ada pula SPPG meng-inovasi “ugal-ugalan” realisasi MBG dengan cara me-rapel. Namun tetap dengan porsi sangat minimalis (tak lebih dari Rp 4.000,-) Terjadi di Bangkalan, dan Sumenep (Madura). Layanan pada Posyandu, ada yang dua kali seminggu, ada pula yang sekali seminggu, dengan porsi tetap satu hari, bukan dirapel. Nyata-nyata mengurangi ongkos distribusi. Juga nyata-nyata tidak sesuai harga per-porsi.
Namun ada pula SPPG yang jujur, sekaligus memberi sedekah kepada penerima manfaat. Pemilik SPPG di desa Pangeleyan, kecamatan Tanah Merah, Bangkalan, Madura, menambahkan uang tunai sebesar Rp 50 ribu. Uang ditempel pada setiap nampan, untuk ribuan siswa (sebanyak 2.305) penerima MBG. Viral di berbagai media sosial. “Tips” untuk penerima manfaat merupakan inisiatif pemilik SPPG, H. Khairul Umam, pengusaha asal Pamekasan (Madura).
MBG sebenarnya memiliki rinci anggaran yang sangat cukup. terdapat petunjuk teknis tentang penggunaan anggaran per-porsi. Yakni, Rp 13 ribu untuk Balita hingga murid SD kelas 3. Serta Rp 15 ribu untuk kelas 4 ke atas Rp 15 ribu. Tetapi tidak seluruhnya untuk menu pangan. Melainkan terdapat Rp 3 ribu untuk biaya operasional, meliputi kebutuhan listrik, air, gas, internet, insentif relawan dan guru penanggung jawab. Di dalam Rp 3 ribu per-porsi termasuk ongkos distribusi.
Artinya, guru penanggungjawab, dan kader pengurus MBG seharusnya memperoleh insentif. Anggaran mencukupi, karena sudah sangat besar, karena setiap SPPG normalnya mengelola sekitar 3.200 porsi. Sehingga terdapat anggaran ekstra Rp 9,6 juta per-hari! Juga terdapat anggaran sebesar Rp 2.000 per-porsi sebagai insentif SPPG, untuk sewa lahan dan bangunan, pemeliharaan peralatan masak. Nilainya Rp 6,4 juta per-hari!
Segala kritisi masyarakat berkait MBG, tak boleh diabaikan, bagai angin lalu. Terutama aspek higienis yang sering menimbulkan kasus keracunan. Kini sudah mencapai 22 ribu siswa dan guru yang mengalami sakit perut melilit yang hebat, sampai pingsan. MBG memerlukan pengawasan dan evaluasi ketat (sistemik). Berlaku seperti prosedur pengawasan makanan di istana presiden.
——— 000 ———


