“Kalau tidak ada cidera, Insya Allah, saya pasti mencapai jumlah itu.” Begitu tekad Cristiano Ronaldo (CR-7), untuk membuat gol ke-1000 sepanjang karir. Pernyataannya bagai “sihir” yang ditunggu lebih dari satu milyar penggila bola di seluruh dunia. Karena tekad CR-7, niscaya diikuti atraksi ketrampilan seorang mega-bintang lapangan. Tinggal 44 gol, dan Insya Allah, akan direalisasi kurang dari dua tahun. Tetapi pernyataan CR-7 bukan sekadar omon-omon, melainkan berdasar potensi rata-rata cetak 52 gol dalam setahun.
Pernyataan yang sama juga dibuat oleh mega-bintang panggung musik, Michael Jackson, ketika membuat lagu dan video klip “Black or White.” Berkolaborasi dengan Bill Bottrell, tahun 1991, ketika karirnya sudah mapan. Bukan sembarang lagu (dan tarian khas Moonwalk). Melainkan konon video klip di-dedikasi-kan sebagai kritisi terhadap ketidakadilan, prasangka, rasisme, dan kefanatikan. Hasilnya, “Black or White” dalam album “Dangerous,” mencetak rekor dunia sepanjang zaman. Laku sebanyak 32 juta kopi di seluruh dunia. Sekaligus menobatkan Michael Jackson, sebagai “King of Pop.”
Pengalaman dan potensi, menciptakan pengharapan. Dialami pula oleh mega-aktris Hollywood, Julia Roberts. Setelah kondang dalam film “Pretty Woman” (dirilis tahun 1990) bergenre komedi romantis. Berlanjut dengan pencapaian bayaran tertinggi dalam film “Mona Lisa Smile” (2003). Bayarannya mencapai US25 juta. Juga film-nya yang berjudul “Ticket To Paradise,” dirilis tahun 2022, terasa kuat rasa budaya Indonesia. Sebelumnya, pada tahun 2010, Julia Roberts, juga shooting film “Eat, Pray, Love,” di Bali. Juga di gunung Kawi, Malang, Jawa Timur.
Selain potensi nyata, seluruh cita-cita setiap mega-bintang, diperoleh melalui kolaborasi, kerjasama kuat dengan berbagai rekan. Cristiano Ronaldo, sangat bergantung pada assist yang tercipta dari kerja tim. Begitu pula Michael Jackson, yang bekerjasama dengan banyak komposer, sampai Bill Bottrell, musisi yang jago kolaborasi. Termasuk kolaborasi Bill Bottrell dengan Madonna.
Sehingga seluruh keinginan wajib ditimbang dengan potensi riil, pengalaman, dan kerjasama keras. Begitu pula seharusnya dilakukan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang bercita-cita pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026, mencapai (melampaui) 6%. Dibutuhkan “seni” kolaborasi kebijakan fiskal dengan moneter (kewenangan Gubernur Bank Indonesia). Termasuk menentukan kalkulasi ideal kurs rupiah terhadap mata uang asing.
Memasuki tahun 2026, masih akan dilalui dengan perasaan deg-degan. Walau Menteri Keuangan sangat optimistis dengan pertumbuhan mencapai 6%, lebih tinggi dibanding target APBN 2026 (5,4%). Tetapi optimisme dipatut dibangun, bahkan di-cita-cita-kan mencapai 8% pada tahun 2028. Sudah sering digunakan sebagai simbol (bordir) di baju Menkeu Purbaya. APBN tahun 2026 akan berkekuatan Rp 3.842,7 trilyun, dengan sisi Pendapatn sebesar Rp 3.153,6 trilyun. Sehingga akan defisit Rp 689,1 trilyun (setara hampir 18% nilai total APBN).
APBN 2026 maasih tetap dalam semangat efisiensi. Banyak daerah kelimpungan, karena dana transfer dari pusat, dipotong besar. Karena jatah TKD (Transfer ke Daerah) turun 24,7%. Namun menurut Menkeu, pemotongan meningkatkan efektifitas belanja daerah. Konon disebabkan banyak uang daerah mengendap di perbankan. Biasanya dalam bentuk rekening giro (77,62%), diikuti deposito (19,30%), dan tabungan 3,09%. Realisasi serapan anggaran daerah (APBD) juga tergolong rendah.
Rata-rata kinerja keuangan Pemerintah Kabupaten dan Kota masih sekitar 44%. Sedang Pemerintah Propinsi masih sebesar 40%. Menjadikan fiskal pemerintah nyaris tidak men-stimulasi perekonomian. Bahkan masih berujung Silpa (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) cukup besar. “Penyakit lama.” Pemerintah perlu meng-instruksikan kolaborasi daerah dengan Kementerian, untuk mempercepat realisasi anggaran. Terutama fasilitasi bidang Pangan.
——— 000 ———

