25 C
Sidoarjo
Tuesday, February 3, 2026
spot_img

Kesehatan, antara Ekspektasi dan Ancaman Kekinian

(Outlook Kesehatan Tahun 2026)

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Sektor kesehatan memiliki karakteristik yang unik dimana kondisi kesehatan seseorang takkan bisa lepas dari kondisi lingkungan. Dalam spektrum luas bahwa lingkungan dapat berupa kondisi fisik dan alam (kualitas udara, air, tanah, iklim, dan kondisi geografis), kimia berupa paparan bahan kimia berbahaya seperti logam berat atau pestisida. Biologi dimana menyangkut keberadaan mikroorganisme penyebab penyakit, vektor (perantara penyakit), dan makhluk hidup lainnya, serta sosial dan perilaku seperti kondisi kerja, ekonomi, pendidikan, keamanan, dan budaya masyarakat.

Lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang mendukung terciptanya kesehatan dan terhindar dari penyebab gangguan kesehatan atau dengan kata lain bahwa entitas kesehatan tidak hanya dipengaruhi atau dihasilkan hanya faktor tunggal namun merupakan hasil resultante berbagai aspek dan dimensi. Hal tersebut masih sejalan dengan teori Blum 1974 yang dikemukan oleh Hendrik L. Blum yang menjelaskan empat faktor utama yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat yakni faktor lingkungan (fisik, sosial, budaya, ekonomi), faktor perilaku (gaya hidup, kebiasaan atau habits), pelayanan kesehatan, dan faktor keturunan (genetik).

Komposisi berdasarkan pengaruh terbesar adalah Lingkungan (40%), Perilaku (30%), Pelayanan Kesehatan (20%), dan Keturunan (10%). Hal tersebut merupakan konsep fundamental dalam kesehatan masyarakat dengan pendekatan yang komprehensif. Salah satu indikator untuk mengukur kualitas kesehatan seseorang adalah Umur Harapan Hidup (UHH). Berdasarkan data BPS bahwa UHH penduduk Indonesia terus meningkat, mencapai sekitar 74,15 tahun pada tahun 2024, naik dari tahun-tahun sebelumnya yakni 73,93 (tahun 2023). Hal ini menunjukkan perbaikan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, meskipun masih ada variasi antar wilayah di Indonesia. Selain itu UHH juga merupakan salah satu indikator utama Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan kesehatan. Secara global bahwa Indonesia masih tertinggal dengan negara-negara seperti Jepang, Swiss, dan Australia memiliki harapan hidup tertinggi, di atas 80 tahun.

Berita Terkait :  DPD Partai Golkar Surabaya Siap Jaring Ketua Baru di Musda XI

Ancaman Utama
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para ahli mengidentifikasi beberapa ancaman kesehatan utama antara lain pertama, kondisi perubahan iklim. Harus diakui bahwa perubahan iklim yang kian dinamis berpotensi sebagai ancaman kesehatan global terbesar di abad ke-21. Fenomena fluktuasi suhu harian yang ekstrem dan peristiwa cuaca ekstrem lainnya dapat memperburuk kondisi kesehatan, merusak infrastruktur kesehatan, dan mempengaruhi ketahanan pangan. Kedua, maraknya penyakit menular baru dan muncul kembali (reemerging diseases) yang harus diimbangi dengan kesiapsiagaan dan respons cepat terhadap penyakit menular baru tetap menjadi prioritas utama. Hal ini memerlukan investasi dalam sistem data canggih dan kapasitas laboratorium yang kuat. Salah satu yang ancaman terbesar adalah potensi penyakit yang berbasis penularan melalui udara (airborne diseases) seperti pengalaman pandemi Covid-19 yang harus dijadikan pelajaran berharga bagaimana suatu penyakit dapat memporak-porandakan hampir sebagian besar negara di dunia, meluluhlantakan sendi-sendi perekonomian, sosial budaya dan aktivitas keseharian dan mata pencaharian masyarakat luas.

Skala nasional program prioritas nasional tahun 2026 di sektor kesehatan masih berkutat antara lain : penangan stunting dan problem gizi lainnya (tren obesitas), penanggulangan TBC, program Cek Kesehatan Gratis, bantuan iuran jaminan kesehatan serta revitalisasi rumah sakit. Pada sisi pembiayaan Kesehatan setidaknya terdapat potensi risiko gagal bayar BPJS Kesehatan pada tahun 2026 jika tidak ada kebijakan yang diambil untuk mengatasi defisit antara pengeluaran klaim dan premi yang dibayarkan. Problem-problem yang rentan muncul seperti sistem rujukan berjenjang dimana alur dan prosedur yang rumit dan sering terjadi ketidaksesuaian data atau komunikasi antar fasilitas kesehatan yang menyebabkan pasien kesulitan mendapat rujukan. Sistem antrian dan waktu tunggu sehingga pasien mengeluh lama dalam memperoleh layanan. Adanya penolakan pasien dan beberapa fasilitas kesehatan yang menolak atau memulangkan pasien BPJS karena berbagai alasan misalnya kuota, administrasi, atau klaim yang belum terbayar termasuk kondisi yang dianggap diskriminatif dan membahayakan nyawa pasien.

Berita Terkait :  Terancam di Keluarga, Lansia Telantar Asal Madiun Kini Jadi PM di UPT Dinsos Jatim

Fenomena kesehatan mental adalah meningkatnya gangguan mental atau kejiwaan seperti kecemasan, depresi, dan stres berat, terutama pada remaja dan generasi muda, yang dipicu oleh tekanan sosial, ekonomi, teknologi, dan ketidakpastian masa depan, ditandai dengan perubahan emosi drastis, menarik diri, gangguan tidur/makan, prestasi menurun, hingga dapat menimbulkan pikiran untuk bunuh diri. Tren potensi gangguan mental juga tidak bisa dipandang remeh. Di era dunia yang serba digital dan penggunaan media sosial di semua lini menyebabkan fenomena FOMO (Fear of Missing Out) yang memicu kecemasan, kesepian, dan perasaan tidak puas terus meningkat. Fomo merupakan kondisi dan suasana atas perasaan cemas, takut, atau khawatir ketinggalan momen, informasi penting, tren terbaru, atau pengalaman berharga yang dialami orang lain, yang memang acapkali diperburuk dengan penggunaan oleh media sosial yang tak terkendali.

————- *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru