Dindik Jatim Perkuat Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara Siswa SMAN Taruna Angkasa Jawa Timur
Madiun, Bhirawa – Bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila yang jatuh setiap 1 Oktober, Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim menggelar seminar Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara. Seminar ini diikuti ratusan siswa, Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) serta wakil kepala SMAN Taruna Angkasa Madiun. Hadir dalam kegiatan sebagai narasumber, Direktur SDM, Direktorat Jenderal Potensi Ketahanan Kementerian Pertahanan RI, Brigjen TNI Raden Yoga Raharja, Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, dan Kadister Lanud Iswahjudi, Kolonel Tek Ricki Armades.
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai mengingatkan generasi muda agar tidak menyerahkan sepenuhnya proses berpikir kepada teknologi kecerdasan buatan (AI). Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, calon pemimpin harus mampu berpikir mandiri dengan berlandaskan data dan telaah.
“Seorang pemimpin harus memiliki pemikirannya sendiri. Harus berdasarkan checking data dan telaah,” tegas Aries, Kamis (1/10).
Menurutnya, tantangan generasi Z saat ini berbeda dengan generasi sebelumnya. Perkembangan AI, algoritma, disinformasi, polarisasi, serta tuntutan kompetensi global menjadi tantangan baru yang harus dihadapi siswa.
Karena itu, Aries menekankan pentingnya wawasan kebangsaan sebagai landasan dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan. Wawasan kebangsaan, kata dia, tidak sekadar hafalan, melainkan cara pandang terhadap Indonesia.
“Wawasan kebangsaan bukan sekadar hafalan. Tapi cara kita memandang Indonesia sebelum mengambil keputusan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia berlandaskan empat pilar, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai tersebut harus menjadi pijakan generasi muda ketika menghadapi perubahan dunia yang semakin cepat.
Aries juga menyebut terdapat tiga kunci kepemimpinan yang perlu dibangun sejak dini, yakni kemampuan memimpin diri sendiri, memimpin orang lain, dan memimpin perubahan.
Menurutnya, lulusan sekolah taruna di Jawa Timur harus memiliki kemampuan untuk berkelana dan belajar dari berbagai penjuru dunia. Siswa perlu menguasai teknologi terbaru, bahasa internasional, menggunakan AI secara bijak, serta membangun jejaring global.
“Belajar dari dunia, lalu membawa manfaatnya pulang ke Indonesia,” katanya.
Ia menegaskan, karakter kepemimpinan tidak hanya dibangun melalui teori, tetapi juga dari perilaku sehari-hari. Seorang pemimpin harus membiasakan diri tidak mencontek, tidak memalsukan laporan, tidak menyalahgunakan jabatan, tidak merendahkan junior, berani mengakui kesalahan, dan berani menyampaikan kebenaran meskipun tidak populer.
Untuk memperkuat karakter tersebut, Aries mengajak siswa meneladani sejumlah tokoh nasional dan dunia. Bung Hatta, misalnya, disebut memberikan pelajaran tentang pentingnya ilmu, prinsip, serta kebermanfaatan bagi masyarakat.
Sementara itu, BJ Habibie menjadi contoh pentingnya kompetensi, keberanian, dan penguasaan teknologi.
“Bangsa dihormati jika masyarakatnya mampu menguasai teknologi. Dan ini dibuktikan juga diserukan BJ Habibie sebagai Bapak Teknologi,” tegasnya.
Aries juga mengangkat sosok Nelson Mandela sebagai teladan kepemimpinan dan perjuangan dalam mempersatukan Afrika Selatan. Sementara dari Admiral William McRaven, penulis buku Make Your Bed, siswa dapat belajar mengenai disiplin, rutinitas, ketangguhan, dan kepemimpinan.
“Perubahan besar dimulai dari kemampuan menuntaskan hal kecil dengan benar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Aries mengatakan dunia kerja pada 2030 tidak cukup hanya membutuhkan orang pintar. Mengacu pada Future of Jobs Report 2025, ia menyebut kemampuan seperti analytical thinking, resiliensi dan fleksibilitas, kepemimpinan dan pengaruh sosial, creative thinking, literasi teknologi, empati, serta kemauan belajar sepanjang hayat menjadi kemampuan penting.
Sementara kemampuan AI dan big data termasuk kompetensi yang pertumbuhannya paling cepat dibutuhkan dunia kerja.
Karena itu, Aries mendorong siswa SMAN Taruna Angkasa memperkuat 5C, yakni character, competence, courage, compassion, dan contribution.
Pemuda Jadi Pilar Pertahanan Masa Depan
Sementara itu, Direktur SDM Direktorat Jenderal Potensi Ketahanan Kementerian Pertahanan RI Brigjen TNI Raden Yoga Raharja berpendapat bahwa generasi muda menjadi salah satu pilar strategis pertahanan nasional di tengah perubahan lingkungan global yang menghadirkan ancaman semakin kompleks. Pertahanan negara saat ini tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer, tetapi juga membutuhkan sumber daya manusia unggul, ketahanan ideologi, penguasaan teknologi, dan kemampuan inovasi.
Yoga mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar melalui bonus demografi. Lebih dari 70 juta pemuda berusia 15–30 tahun menjadi modal penting bagi pembangunan sekaligus penguatan pertahanan nasional.
“Pemuda adalah kekuatan strategis bangsa yang akan menentukan masa depan pertahanan negara,” ujarnya.
Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki karakter sebagai digital native yang relatif dekat dengan perkembangan teknologi. Kemampuan tersebut dapat diarahkan untuk memperkuat ketahanan siber, mengidentifikasi ancaman, sekaligus menciptakan berbagai inovasi untuk menjawab persoalan bangsa.
Selain itu, pemuda merupakan calon pemimpin bangsa dan agen perubahan sosial. Karena itu, pendidikan dan pembentukan karakter kepemimpinan yang berintegritas menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi penerus.
Yoga menjelaskan, tantangan pertahanan Indonesia kini tidak lagi terbatas pada ancaman militer dan fisik. Ancaman juga berkembang dalam bentuk nonmiliter dan hybrid, antara lain serangan siber, disinformasi, radikalisme, narkoba, krisis lingkungan, hingga ketimpangan sosial.
“Ancaman tidak lagi bersifat konvensional dan terbatas pada dimensi militer, melainkan telah berkembang menjadi ancaman multidimensional,” jelasnya.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Yoga menekankan pentingnya kesadaran, kewaspadaan, dan kolaborasi seluruh elemen bangsa. Generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk mengenali ancaman sekaligus memanfaatkan perkembangan teknologi secara bertanggung jawab.
Dorong Karakter 5 Siap
Kadister Lanud Iswahjudi Kolonel Tek Ricki Armades menekankan pentingnya pembentukan karakter dan kompetensi siswa sebagai bagian dari potensi dirgantara.
Menurutnya, sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang membangun knowledge, character, discipline, leadership, dan aerospace interest.
“Siswa dapat dikembangkan menjadi generasi yang mencintai Indonesia, SDM unggul bidang teknologi, calon pemimpin, calon penerbang, engineer, teknisi, akademisi, profesional, prajurit TNI, maupun profesi lain yang berkontribusi kepada negara,” jelasnya.
Ricki menegaskan, tidak semua siswa harus menjadi anggota TNI. Namun, setiap siswa harus memiliki kemampuan dan kemauan untuk memberikan manfaat bagi bangsa.
“Tidak semua dari kalian harus menjadi anggota TNI. Tetapi setiap kalian harus menjadi manusia yang berguna bagi bangsa,” tegasnya.
Ia menjelaskan, dunia penerbangan juga mengajarkan nilai-nilai penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan, seperti disiplin, ketelitian, kerja sama, tanggung jawab, keberanian, serta kemauan untuk terus belajar.
Untuk itu, siswa didorong memiliki karakter “5 Siap”, yakni siap belajar, siap disiplin, siap berkolaborasi, siap menghadapi perubahan, dan siap mengabdi.
Melalui seminar yang digelar bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila tersebut, Dindik Jatim mendorong siswa tidak hanya memiliki keunggulan akademik dan teknologi, tetapi juga karakter, integritas, kepemimpinan, serta wawasan kebangsaan yang kuat. [ina]



