Kota Pasuruan, Bhirawa
Jalur Pantura di Kota Pasuruan dipastikan bakal mengalami perubahan peta arus mulai besok Senin (6/4, hari ini, red). Hal itu menyusul dimulainya megaproyek peninggian Jembatan Buk Wedi. Tak tanggung-tanggung, akses di ruas Jl Ir H Juanda yang menjadi nadi utama kendaraan logistik ini akan ditutup total demi kelancaran konstruksi.
Keputusan penutupan total ini diambil lantaran skala pekerjaan yang cukup besar. Peninggian jembatan membutuhkan ruang lapang, terutama untuk mobilisasi alat berat dan material bangunan yang masif. Selain alasan teknis, faktor keselamatan pengguna jalan menjadi prioritas utama selama proses peninggian berlangsung.
Perwakilan Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah 3 Jawa Timur, Deni, menyampaikan penutupan jalan adalah langkah yang tidak bisa ditawar. Selama pekerjaan berlangsung, akses di Jembatan Buk Wedi akan ditutup total. Arus lalu lintas kami alihkan sepenuhnya untuk menghindari risiko di lokasi proyek.
Sebagai solusi atas penutupan itu, petugas telah menyiapkan rekayasa lalu lintas yang cukup panjang. Kendaraan besar maupun pribadi, baik dari arah Surabaya menuju Probolinggo maupun sebaliknya, bakal dipaksa berjalan melalui Jalur Lingkar Selatan (JLS) Kota Pasuruan.
Untuk memandu pengendara, skema rute telah ditetapkan melalui jalur-jalur berikut. Yakni, di Jl Gatot Subroto, Jl Urip Sumoharjo, Jl Untung Suropati, Jl Setyabudi hingga Jl Hasyim Asy’ari
”Pengendara akan kami arahkan melalui Jalur Lingkar Selatan. Rambu-rambu penunjuk arah serta petugas lapangan sudah kami siapkan di sejumlah titik krusial,” jelas Deni, Minggu (5/4)..
Proyek peninggian Jembatan Buk Wedi ini bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut selama tersebut menjadi langganan banjir setiap kali debit air sungai meningkat. Posisi jembatan yang terlalu rendah dianggap sebagai penghambat arus air, sehingga peninggian struktur menjadi harga mati untuk mengatasi persoalan tahunan ini.
Koordinasi lintas instansi pun telah dimatangkan. Pihak PJN telah bersinergi dengan Satlantas Polres Pasuruan Kota, Dinas Perhubungan, hingga pengelola tol untuk memastikan migrasi kendaraan tidak menimbulkan bottleneck (penyempitan) yang parah di jalur alternatif.
Pihaknya juga mengimbau agar masyarakat mulai mengatur ulang jadwal perjalanan mereka guna menghindari jam-jam sibuk.
”Kami meminta pengguna jalan untuk patuh pada instruksi petugas dan selalu memperhatikan rambu yang ada demi kenyamanan bersama,” jelas Deni. [hil.fen]


