Produk Aromaterapi Ramah Lingkungan
Di tengah maraknya isu lingkungan dan perubahan iklim, inovasi hijau menjadi kebutuhan dan bukan lagi sebagai tren. Karena, limbah jamu terkadang dianggap tak berguna, padahal di dalamnya masih tersimpan potensi besar. Kemudian muncul lah salah satu ide menarik yang datang dari dunia herbal seperti pemanfaatan limbah jamu menjadi produk aromaterapi alami.
Sisa bahan-bahan seperti jahe, kunyit, dan sereh yang masih mengandung minyak atrisi dan endapan yang dapat diolah menjadi produk aromaterapi alami seperti lilin, pengharum ruangan, dan minyak aromaterapi.
Sebagai negara dengan tradisi jamu yang kuat, Indonesia menghasilkan ribuan ton limbah rempah setiap tahunnya. Kebanyakan limbah dibiarkan membusuk dan dibuang ke lingkungan tanpa proses pengelolahan.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya yang terdiri Berliana Mai Putri, Vika Ramadhina Widyantari, Freda Julia Najah, Oktavian Satrio Abimanyu dan Stefanus Putra Pratama dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Thesna Widya Fandhyta, S.IP., M.A.P melakukan sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang berfokus pada inovasi pemanfaatan limbah jamu menjadi produk aromaterapi alami.
Program ini bertujuan untuk memberikan solusi terhadap permasalahan limbah sekaligus membuka peluang usahabaru berbasis green innovation. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan melibatkan UMKM, khususnya pada pelaku usaha jamu rumahan milik ‘Yuk Tieta’ yang berada di Dusun Pandan, Desa Pandanarum. Masyarakat diberikan pelatihan mengenai cara pengolahan limbah jamu melalui proses ekstraksi minyak atsiri sederhana, pencampuran bahan alami, dan pembuatan produk aromateraapi.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah jamu menjadi produk aromaterapi tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi baru bagi masyarakat. Inovasi ini juga selaras dengan prinsisp ekonomi sirkular dan mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pengalaman pengabdian ini menunjukkana bahwa inovasi sederhana berbasis kearifan lokal dapat memberikan dampak besar bagi pelaku UMKM apabila diterapkan secara berkelanjutan.
Pemanfaatan limbah jamu menjadi produk aromaterapi membuktikan bahwa kreativitas dan kepedulian lingkungan dapat berjalan beriringan. Dengan dukungan dari perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri, inovasi ini berpotensi dikembangkan menjadi usaha kreatif yang berdaya saing tinggi. Pada akhirnya kegiatan pengabdian masyarakat ini menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan tidak hanya bergantung pada teknologi canggih, tetapi juga paada kesadaran dan inisiatif masyarakat untuk mengubah sisa menjafi bernilai. (why).

