Mojokerto, Bhirawa
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG), Febiola Alyza anggota Sub kelompok 2 menemukan masalah klasik yang menghantui peternakan rakyat di Indonesia. Masalah tersebut bukan hanya soal pakan, melainkan penumpukan limbah kotoran yang seringkali dianggap sebagai polusi lingkungan. Namun, di tangan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Sub Kelompok 2 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, tantangan di peternakan milik Pak Ridwan ini dijawab dengan sebuah langkah inovatif: mekanisasi tepat guna melalui pembuatan mesin pengaduk kotoran kambing.
Menurut Febiola, selama ini, Pak Ridwan mengolah kompos secara manual yang tidak hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga menghasilkan fermentasi yang tidak merata.
Kehadiran mahasiswa Untag dengan semangat “Kampus Merah Putih” ini membawa solusi nyata dengan merancang alat yang mampu memecah tekstur keras kotoran kambing sekaligus memastikan sirkulasi oksigen maksimal, sehingga proses dekomposisi menjadi jauh lebih cepat dan efisien.
Inovasi yang diinisiasi oleh para mahasiswa ini membawa dampak domino yang sangat positif bagi produktivitas peternakan. Jika sebelumnya Pak Ridwan harus menghabiskan waktu berhari-hari untuk membalik tumpukan kotoran secara manual, kini mesin pengaduk karya mahasiswa KKN Sub Kelompok 2 Untag Surabaya tersebut mampu menghasilkan campuran yang homogen dalam hitungan jam.
Homogenitas ini merupakan kunci utama dalam pembuatan pupuk organik dengan tercampurnya pengurai secara merata, kompos yang dihasilkan menjadi lebih remah, tidak berbau menyengat, dan memiliki kualitas nutrisi yang stabil. Teknologi tepat guna ini membuktikan bahwa pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa bukan sekadar formalitas akademik, melainkan jembatan bagi transformasi teknologi bagi rakyat kecil.
Lebih jauh lagi, lanjut Febiola transformasi di peternakan Pak Ridwan ini menjadi manifestasi nyata dari pengabdian ilmu pengetahuan untuk ekonomi sirkular di tingkat pedesaan.
Kotoran kambing yang semula merupakan beban lingkungan kini berubah menjadi hal berguna yang bernilai ekonomis tinggi berkat bantuan teknologi dari tim KKN Untag Surabaya. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan mandiri bagi Pak Ridwan melalui penjualan pupuk organik, tetapi juga mengedukasi masyarakat sekitar mengenai pentingnya pertanian berkelanjutan.
Sinergi antara semangat inovasi mahasiswa Untag dan kearifan lokal peternak seperti Pak Ridwan menjadi bukti bahwa kolaborasi akademisi dan masyarakat adalah kunci utama dalam memodernisasi sektor peternakan tradisional menuju masa depan yang lebih hijau. [why]


