25 C
Sidoarjo
Tuesday, February 3, 2026
spot_img

Hasil TKA, Dindik Jatim Fokus Perkuat Kualitas Pembelajaran


Pakar Nilai Metode Mengajar Guru hingga Lingkungan Sekolah jadi Faktor Rendahnya Nilai TKA
Dindik Jatim, Bhirawa
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah merilis statistik hasil Tes Kompetensi Akademik (TKA) antar Provinsi. Berdasarkan data ini, Jawa Timur berada di peringkat 5 secara nasional. Dari data ini, nilai rerata TKA untuk matematika tercatat 36,77 dan bahasa Inggris 25,35, sedangkan untuk mapel bahasa Indonesia tercatat reratanya 56,98.

Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai mengungkapkan hasil perangkingan ini akan menjadi bahan evaluasi penting bagi Dinas Pendidikan Jawa Timur dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

“Hasil TKA ini akan kami tindaklanjuti melalui perbaikan pada kompetensi yang dirasa masih kurang maksimal. Salah satu langkah yang dilakukan adalah peningkatan kompetensi guru serta penguatan faktor pendukung pembelajaran lainnya,” ujar Aries, Minggu (4/1).

Menurutnya, TKA merupakan instrumen pengukuran capaian kompetensi akademik murid yang mencakup tiga indikator utama, yakni literasi, numerasi, dan penalaran. Hasil TKA tersebut digunakan sebagai dasar pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan di Jawa Timur.

“TKA menjadi salah satu instrumen untuk mengukur capaian kompetensi akademik murid sekaligus sebagai bahan acuan pengendalian dan penjaminan mutu pendidikan,” jelasnya.

Ditambahkan Kadindik, jenjang pendidikan yang telah melaksanakan TKA dan hasilnya sudah diketahui meliputi SMA, SMK, SLB, serta pendidikan kesetaraan Paket C. Evaluasi hasil TKA dilakukan sesuai dengan kewenangan masing-masing bidang dan wilayah kerja, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.

Berita Terkait :  Semarak SD Muhammadiyah 6 Rayakan Hari Pahlawan dan Milad Muhamadiyah ke-112

Untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB, lanjut dia, akan menjadi kewenangan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, sementara pendidikan kesetaraan berada di bawah kewenangan Dinas Pendidikan kabupaten dan kota. “Evaluasi akan dilakukan sesuai peran dan tugas masing-masing,” imbuh dia.

Dalam upaya meningkatkan kompetensi akademik murid pascaevaluasi TKA, Aries menegaskan bahwa Dindik Jatim telah menyiapkan sejumlah strategi, di antaranya analisis soal berbasis higher order thinking skills (HOTS) dengan penekanan pada penalaran dan pemecahan masalah, serta penguatan kompetensi guru untuk mendorong peningkatan kapasitas guru dalam mengembangkan penilaian yang berkualitas untuk menyiapkan murid pada pelaksanaan TKA selanjutnya melalui berbagai kegiatan. Misalnya saja berupa pelatihan, worshop dan Pemanfaatan Teknologi Digital.

“Kami menyiapkan berbagai program, mulai dari TKA Clinic di sekolah dengan capaian rendah berupa pelatihan intensif pengerjaan soal berbasis penalaran (HOTS) bagi murid kelas akhir, replikasi praktik baik dari sekolah unggul ke sekolah dengan hasil TKA yang memerlukan intervensi, hingga digitalisasi pembelajaran melalui platform Learning Management System tingkat provinsi yang berisi bank soal dan video pembahasan yang dapat diakses seluruh sekolah,” ungkap Aries.

Terkait LMS, jelas Aries, pihaknya telah meluncurkan Jatim Learning Digital Vault yaitu platform pembelajaran digital berbasis video, bank soal, dan modul interaktif. Modul ini dirancang untuk mendukung peningkatan kualitas pendidikan di Jawa Timur melalui konten edukatif terstruktur, aman, dan mudah diakses oleh guru dan murid.

Berita Terkait :  Safari Ramadan, Dinas Pendidikan Jatim Salurkan Bantuan untuk Insan Pendidikan

Menyoal pembelajaran bermakna, Aries menegaskan, pelaksanaan TKA tidak bertentangan dengan pembelajaran bermakna. Justru, pembelajaran yang dirancang dengan baik akan berdampak langsung pada peningkatan hasil TKA.

“Pembelajaran yang bermakna jika dilaksanakan dengan konsep dan praktik yang benar secara otomatis akan meningkatkan nilai TKA,” tegasnya.

Peranan guru dalam pembalajaran bermakna ini, kata Aries, sebagai aktivator, pembangun budaya, dan kolaborator. Sebagai aktivator, guru mendorong murid untuk mengkonstruksi pengetahuan secara aktif dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Sebagai kolaborator, guru bersikap aktif memberikan respon terhadap setiap proses belajar murid.

“Umpan balik sangat penting diberikan oleh guru kepada murid, untuk mendorong munculnya metakognisi dan regulasi diri, yaitu kemampuan untuk menganalisis, mengevaluasi, serta melakukan perbaikan dan tindak lanjut. Dengan adanya peranan guru tersebut diatas diharapkan dapat meningkatkan nilai TKA murid yang akan datang,”papar dia.

Dindik juga akan terus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital, termasuk papan digital interaktif, sebagai media pendukung pembelajaran. Pendampingan dan pengawasan pembelajaran tetap dilakukan melalui pengawas pembina di masing-masing satuan pendidikan.

“Optimalisasi pemanfaatan teknologi pembelajaran terus kami lakukan agar kualitas proses belajar mengajar meningkat dan berdampak pada capaian TKA ke depan,” pungkas Aries.

Sementara itu, Ketua Dewan Pendidikan Jatim Prof Warsono. Menurutnya, capaian nilai TKA berkaitan dengan banyak faktor. Selain dari faktor kompetensi guru, lingkungan sekolah dan motivasi siswa juga berpengaruh.

Berita Terkait :  Meriahkan Hari Pahlawan, Warga Kota Malang Kibarkan Bendera Raksasa

“Selama ini guru cenderung mengajar dengan fokus menghabiskan materi, bukan mengajarkan bagaimana cara berpikir secara scientific atau berpikir tingkat tinggi (higher order thinking),”ungkap Prof Warsono, Minggu (4/1).

Pengamat Pendidikan Jatim ini juga menjelaskan siswa yang tidak dilatih berpikir analitis dan prediktif akan mengalami kesulitan ketika dihadapkan pada soal-soal yang menuntut analisis dan prediksi tingkat tinggi.

“Padahal bertanya merupakan indikator berpikir. Jika anak anak tidak dilatih berpikir analistis dan prediktif, mereka akan gagap jika dihadapkan kepada soal soal yang berkaitan dengan prediksi, analisis tingkat tinggi,”ucap mantan Rektor Unesa ini.

Oleh karena itu, Prof Warsono menilai metode pembelajaran seharusnya diarahkan pada pengembangan cara berpikir ilmiah, sementara materi pelajaran dijadikan sebagai bahan kajian.

Faktor lain yang berperan adalah lingkungan sekolah. Warsono menilai lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam mendorong peningkatan hasil belajar siswa. Sekolah yang memiliki budaya belajar yang kuat serta rekam jejak prestasi dan alumni berprestasi dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baik.

Ia menegaskan perlunya evaluasi terhadap pola pengajaran guru agar lebih berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir ilmiah dibandingkan sekadar menghabiskan materi pelajaran.

“Sebagaimana yang dikatakan oleh James Ryan salah seorang pakar psikologi di Harvard University, bahwa bertanya itu lebih penting dari pada sibuk mencari jawaban, karena dengan bertanya otomatis orang akan mencari jawaban. Dan bertanya mengindikasikan seseorang berpikir aktif,”tegas Prof Warsono. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru