Sebagai seorang investor ritel yang telah lama bergelut di pasar modal Indonesia, saya merasakan volatilitas IHSG belakangan ini cukup menguras energi. Meskipun Indonesia mencatat lonjakan jumlah investor yang impresif-menembus 20 juta SID pada akhir 2025-performa pasar saham di awal 2026 ini memberikan catatan tersendiri. Pasca volatilitas yang tinggi, di mana sektor perbankan dan blue chip mengalami koreksi di awal tahun, harapan membaiknya bursa saham tentu menjadi dambaan kita bersama.
Harapan saya, bursa saham Indonesia dapat kembali pada fundamental yang kuat, tidak sekadar didorong oleh euforia sesaat atau saham-saham yang kurang likuid. Investor ritel membutuhkan lingkungan perdagangan yang transparan dan aman untuk berinvestasi jangka panjang. Kita memerlukan perbaikan pada tata kelola emiten, di mana emiten tidak hanya mengejar IPO (Initial Public Offering) tetapi juga mampu menjaga komitmen untuk memberikan pertumbuhan dividen dan nilai pemegang saham.
Selain itu, sinergi antara kebijakan pemerintah dan otoritas bursa (OJK) sangat krusial dalam menjaga stabilitas sistem keuangan. Dukungan untuk emiten lokal dan kemudahan bagi investor domestik harus ditingkatkan. Saya berharap pergerakan IHSG ke depan bisa lebih stabil dan sehat, mencerminkan pemulihan ekonomi yang nyata, bukan sekadar kenaikan yang rapuh.
Sebagai penutup, optimisme tetap ada. Namun, pembenahan kualitas emiten dan perlindungan investor ritel harus menjadi prioritas. Semoga bursa saham kita tahun ini bisa mencetak rekor baru, tidak hanya dari segi poin indeks, tetapi juga dari segi inklusi dan literasi keuangan yang berkualitas.
Rendy fahrezy
Investor Ritel (Jakarta)

