27 C
Sidoarjo
Tuesday, March 24, 2026
spot_img

Gubernur Khofifah Peringati bersama Tagana Jatim di Grahadi

Pemprov Jatim, Bhirawa
Memasuki usia ke-22, Taruna Siaga Bencana (Tagana) terus meneguhkan perannya sebagai garda terdepan dalam penanganan kebencanaan di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. Selama 22 tahun, Tagana hadir dalam berbagai situasi krisis dan menjadi bagian penting dalam sistem penanggulangan bencana.

Sebagai bentuk apresiasi dan perhatian, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak anggota Tagana dari seluruh penjuru Jawa Timur untuk hadir memperingati HUT ke-22 Tagana di Gedung Negara Grahadi, Selasa (24/3).

Suasana kebersamaan terasa kuat saat Gubernur Khofifah, didampingi Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Timur, Dra. Restu Novi Widiani, M.M., membaur bersama para anggota Tagana, serta membuka ruang refleksi atas dedikasi panjang para relawan kemanusiaan yang senantiasa sigap saat bencana terjadi.

Di Jawa Timur, sebanyak 1.640 personil Tagana aktif terlibat dalam berbagai upaya penanggulangan bencana. Peran mereka mencakup seluruh tahapan, mulai dari pra bencana, tanggap darurat, hingga pemulihan pasca bencana. Keterlibatan ini menjadi krusial di tengah tingginya potensi kerawanan bencana di Indonesia.

Gubernur Khofifah menyebut, keberadaan Tagana tidak hanya sebatas relawan kebencanaan, tetapi juga menjadi penguat sosial masyarakat terdampak bencana.

“Selama 22 tahun, Tagana hadir di garis terdepan. Tak hanya berperan sebagai relawan, mereka hadir menjadi bagian dari keluarga bagi masyarakat yang terdampak bencana,” ujarnya.

Dalam situasi darurat, Tagana menjalankan manajemen shelter dengan menyediakan layanan dapur umum, perlindungan kelompok rentan, serta pemenuhan kebutuhan dasar penyintas bencana.

Selain itu, layanan dukungan psikososial juga diberikan untuk membantu pemulihan mental masyarakat terdampak. Peran ini mempercepat proses pemulihan sosial di lokasi bencana.

Berita Terkait :  Lapas Tulungagung Raih Juara Umum di Perkemahan Satya Dharma Bhakti Pemasyarakatan 2025

Kepiawaiannya Tagana Jatim di Dapur umum dan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) telah berulang kali teruji di berbagai situasi, termasuk pada dua bencana nasional, dengan kondisi tersulit sekalipun.

Seperti pada saat bencana banjir dan longsor Aceh baru-baru ini, hari ke-2 bencana terjadi Tagana Jatim langsung turun ke lokasi untuk menguatkan Kemensos RI dengan menembus wilayah Aceh Tamiang dan Pidie Jaya yang saat itu masih belum dapat diakses kendaraan. Mereka disana mendirikan dapur umum, mendistribusikan logistik, serta memberikan LDP kepada masyarakat terdampak.

Terlebih saat robohnya bangunan tiga lantai Ponpes Al Khozini, selama 17 hari Tagana Jatim bekerja tanpa henti memberikan layanan kemanusiaan. Mulai dari tanggap darurat di lokasi kejadian, mendirikan Dapur Umum untuk relawan dan keluarga korban, pendampingan psikososial hingga proses pemulangan jenazah korban kepada keluarganya masing-masing.

Di sisi mitigasi, Tagana aktif melalui sejumlah program, seperti Tagana Masuk Sekolah (TMS), Kampung Siaga Bencana (KSB), dan Tagana Teman Masyarakat (TTM). Program tersebut difokuskan untuk meningkatkan kesiapsiagaan serta kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana.

Pendampingan KSB juga terus diperkuat sebagai basis ketangguhan berbasis komunitas. Terlebih, Tagana turut menjadi wadah pemberdayaan generasi muda di bidang kemanusiaan.

Komitmennya menjadi garda terdepan dalam setiap penanggulangan bencana, membuat Tagana Jatim menorehkan ragam prestasi tingkat nasional. Mulai dari Juara Umum Jambore Tagana Nasional selama lima kali, yakni tahun 2010 di Cibubur, 2016 di Balikpapan, 2017 di Tondano, 2019 di Bromo, hingga tahun 2021 di Pangandaran.

Berita Terkait :  Menulis, Ukuran Kecakapan Seseorang

Selain itu, prestasi Tagana Teladan Nasional juga turut ditorehkan oleh personil Tagana Jatim sebagai juara 1, diantaranya Juara 1 Tagana Teladan Nasional tahun 2017 oleh Priyo Prasojo, Juara 1 Tagana Teladan Nasional tahun 2017 oleh Twi Adi dan Juara 1 Tagana Teladan Nasional tahun 2017 oleh Mokhamad Zainuri.

Gubernur Khofifah menambahkan, peran Tagana terlihat nyata di setiap fase penanganan bencana, mulai dari kesiapsiagaan hingga pemulihan.

“Di tengah bencana, Tagana sigap. Di saat krisis, Tagana hadir. Di setiap dapur umum, di setiap proses evakuasi, hingga pemulihan sosial, Tagana menjadi bagian dari harapan yang terus menyala,” ungkapnya.

Tidak heran, jika sejak awal berdiri tahun 2004 hingga saat ini, Pemprov Jatim terus memperkuat kapasitas relawan Tagana di Jawa Timur. Melalui pelatihan lanjutan dan sertifikasi kompetensi, dukungan berupa penyediaan alat pelindung diri dan peralatan evakuasi sebagai menunjang profesionalisme.

Kemudian ada bantuan operasional tali asih senilai Rp750 ribu per triwulan untuk setiap personil Tagana, hingga bantuan iuran BPJS Ketenagakerjaan, sehingga jika terjadi kecelakaan kerja bahkan kematian mendapat santunan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) hingga Rp126.835.000.

Sampai saat ini, Tagana telah menjadi simbol solidaritas dan gotong royong. Momentum 22 tahun, sekaligus memperkuat komitmen untuk terus meningkatkan kapasitas dan responsivitas dalam menghadapi berbagai tantangan kebencanaan ke depan.

Berita Terkait :  Lima Belas Pompa Air Diaktifkan untuk Mengatasi Banjir di Kabupaten Lamongan

Koordinator Tagana Jawa Timur, Twi Adi, menyatakan perjalanan dua dekade ini merupakan proses panjang bagi relawan dalam menemukan jati diri dan mengasah kompetensi pelayanan masyarakat.

Twi Adi menjelaskan bahwa Tagana kini bergerak lebih profesional sesuai mandat Kementerian Sosial dan Dinas Sosial. Fokus utama mereka terletak pada klaster perlindungan dan pengungsian, yang mencakup pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, sandang, dan hunian bagi korban bencana.

“Kami tidak hanya hadir saat kedaruratan, tetapi juga pada tahap pra-bencana dan pasca-bencana. Tagana memastikan korban bencana mendapatkan perlindungan sosial yang utuh melalui manajemen logistik, shelter pengungsi, hingga layanan dukungan psikososial untuk membangkitkan semangat warga terdampak,” ujar Twi Adi.

Salah satu inovasi unggulan yang lahir dari Tagana Jawa Timur adalah pengembangan ‘Dapur Kreasi’. Program ini merupakan upaya pemberdayaan komunitas untuk memulihkan ekonomi korban bencana yang kehilangan mata pencaharian. Melalui peningkatan kompetensi dan pelatihan berkelanjutan, relawan Tagana kini mampu menjalankan fungsi-fungsi spesifik yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Menatap masa depan, Twi Adi berharap kearifan lokal dan budaya kepedulian yang menjadi napas Tagana mendapatkan dukungan fasilitas yang lebih kuat. Ia menekankan pentingnya pengkaderan generasi muda dan penguatan jejaring antar komunitas peduli bencana.

“Kami ingin membangun sinergi yang lebih luas. Komunitas-komunitas yang memiliki kepedulian sosial harus terwadahi dalam satu kekuatan besar untuk melayani masyarakat. Fokus kita ke depan adalah menjaring seluruh potensi masyarakat agar penanggulangan bencana berbasis rakyat semakin kokoh,” pungkasnya. [rac.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!