Kota Batu, Bhirawa
Eksekutif maupun Legislatif Kota Batu mulai menyoroti menurunnya angka kunjungan wisata di tahun 2025 kemarin. Apalagi saat ini banyak kota/ kapupaten yang mulai mengembangkan sektor pariwisata di daerahnya masing- masing. Untuk itu Dewan meminta agar Pemerintah Kota (Pemkot) mengevaluasi dan memmperbaiki strategi wisata untuk kembali menggairahkan kunjungan wisata di tahun 2026 ini.
“Memang kita telah melakukan hearing dengan Pemerintah Kota. Dan pekan ini kita kembali mengagendakan hearing untuk mencari penyebab menurunnya kunjungan wisata, sekaligus mencari solusinya,” ujar Sujono Djonet, anggota DPRD Kota Batu, Selasa (20/1).
Dalam rapat awal diketahui jika kunjungan wisatawan ke Kota Batu sepanjang tahun 2025 menurun menjadi 9,7 juta wisatawan. Padahal di tahun sebelumnya kunjungan wisatawan tercatat sebanyak 11 juta wisatawan. Artinya, penurunan sekitar 1,3 juta wisatawan yang membuat pariwisata Kota Batu seolah sedang lesu. Dan untuk mengetahui penyebabnya, DPRD telah memanggil Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu.
DPRD menilai perlu ada perbaikan strategi dan peran lebih nyata dari pemkot dalam menyikapi tren penurunan angka kunjungan wisata. Dan salah satu aspek yang disorot Dewan adalah efektivitas kalender event pariwisata yang dimiliki Pemkot Batu.
“Perlu dikaji apakah kalender even pariwisara yang ada saat ini sudah benar-benar mampu menjadi daya tarik wisata atau justru tidak berdampak sama sekali. Karena wisatawan yang datang ke Kota Batu karena tertarik ke destinasi wisatanya, bukan karena even yang sifatnya temporer,” jelas Djonet.
Dari puluhan even di Kota Baru yang masuk dalam kalender pariwisata, hanya beberapa saja yang benar-benar memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan. Dua di antaranya adalah Festival Seribu Banteng dan Batu Art Flower Carnival. “Even- even yang lain harus dievaluasi. Bagaimana caranya agar lebih menarik dan mampu menjadi ruang sinergi antara pemerintah dan swasta,” tegas Djonet.
Sebenarnya, lanjutnya, kondisi pasca pandemi sudah membuat tren kunjungan wisata ke Kota Batu kembali bergerak naik. Namun, hal ini belum dibarengi dengan normalnya daya beli masyarakat yang sempat melemah.
Kemudian, dengan bercermin ke sejumlah daerah lain, even pariwisata mereka memiliki kualitas dan berkembang pesat karena kolaborasi kuat antara pemerintah dan pihak swasta. Pemerintah Daerah hanya menjembatani dengan memulai dua kali penyelenggaraan saja. Adapun selanjutnya sponsor atau pihak swasta justru berebut untuk terlibat.
Dan satu lagi yang perlu dicermati, saat ini banyak kota/ kabupaten yang mulai membangun potensi wisata yang dimiliki. Bahkan Daerah yang dulu belajar mengelola wisata ke Kota Batu, kini justru pariwisatanya naik signifikan.
Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Onny Ardianto membenarkan adanya penurunan jumlah kunjungan wisatawan di tahun 2025. Ia menyatakan ada sejumlah faktor yang memengaruhi turunnya jumlah wisatawan ke Kota Batu. Salah satu faktor utama adalah kondisi perekonomian nasional yang belum sepenuhnya pulih sehingga berdampak langsung pada daya beli masyarakat. “Selain faktor ekonomi, kondisi cuaca yang tidak menentu serta adanya terjadinya bencana di beberapa daerah juga ikut mempengaruhi minat masyarakat untuk berwisata,” ujar Onny.
Menurunnya kunjungan wisatawan ini otomatis berdampak pada penurunan tingkat hunian hotel di Kota Batu. Di tahun 2025 okupansi tingkat hunian hotel belum bisa mencapai 100 persen seperti tahun-tahun sebelumnya.
Demikian juga dengan tingkat kunjungan destinasi wisata. Dikatakan Direktur Utama PT Taman Rekreasi (TR) Selecta, Sujud Hariadi bahwa jumlah kunjungan wisatawan pada 2025 hanya mencapai 487.582 orang. Padahal di tahun 2024 tingkat kunjungan ke TR Selecta mencapai 715.709 wisatawan.
“Tahun ini penurunan jumlah wisatawan mencapai 42 persen dibandingkan tahun lalu. Penurunannya memang cukup signifikan,” ujar Sujud. Menurutnya, penurunan ini menjadi sinyal penting bagi Kota Batu untuk melakukan evaluasi dan inovasi di sektor pariwisata. Di tengah tantangan ekonomi yang belum seoenuhnya pulih, daya tarik wisata Kota Batu juga dituntut bisa adaptif termasuk tantangan iklim yang tak menentu.[nas.ca]

