Gresik, Bhirawa
Untuk mengatasi overload sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) di Ngipik Gresik, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus mengoptimalkan pengolahan sampah melalui pemanfaatan mesin Refuse Derived Fuel (RDF).
Menurut Kepala DLH Gresik Sri Subaidah mengatakan, bahwa mesin pencacah yang digunakan merupakan bagian dari satu rangkaian mesin RDF. Yang telah beroperasi sejak tahun 2023, sudah efektif bisa mengurai persoalan penumpukan sampah bisa di tekan dengan baik.
Kepala UPT Tempat Pembuangan Akhir (TPA) DLH Gresik Purwaningtyas Noor Mariansyah mengatakan, bahwa untuk mesin RDF tersebut. Berfungsi untuk mencacah sampah anorganik, khususnya plastik jenis film. Proses pengolahan dimulai dari pemilahan sampah campuran yang dilakukan secara manual dan melalui sistem mesin.
Sampah anorganik kemudian diarahkan ke mesin crusher untuk dicacah sesuai ukuran yang dikehendaki.
“Mesin pencacah ini tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi satu rangkaian dalam mesin RDF. Saat ini unitnya berada di TPST Ngipik dan TPST Belahanrejo,”ujarnya.
Dari proses pengolahan tersebut, hasil cacahan sampah anorganik rata-rata mencapai sekitar 19 persen dari total input sampah yang masuk. Juga ada peran masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak dari sumbernya, berharap pemilahan sampah sudah dimulai dari tingkat rumah tangga dengan memisahkan sampah organik dan anorganik.
“Hasil sampah, dimanfaatkan sebagai bahan baku RDF yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif. Dan Tidak semua sampah harus dibuang ke TPA, karena pengolahan bisa dimulai dari rumah tangga. Sedangkan untuk sampah organik, yang jumlahnya mencapai sekitar 60 persen sendiri,”ungkapnya
Ditambahkan Purwaningtyas Noor Mariansyah, bahwa adanya pilah sampah dari rumah tangga harus bisa dimanfaatkan menjadi kompos, pupuk, dan lain sebagainya. Diharapkan volume sampah yang masuk ke TPA dapat berkurang secara signifikan, sekaligus mendorong pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. [kim.gat]

