Sidoarjo, Bhirawa
Mendikdasmen, Abdul Mu’ti rencanakan pembelajaran Coding dan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan akan diterapkan pada Tahun Ajaran (TA) 2025-2026. Meski akan diterapkan untuk sekolah yang dinilai siap infrastruktur, sarana dan kemampuan siswa, kebijakan ini disambut antusias SMA di Jawa Timur. Salah satunya SMAN 1 Krembung Sidoarjo.
Pembelajaran coding sendiri akan mengajarkan pola pikir logis dan sistematis kepada para siswa. Sedangkan AI akan meningkatkan pemahaman siswa tentang pengelolaan data dan pengambilan keputusan berbasis teknologi.
Waka Kurikulum SMAN 1 Krembung, Mohammad Suyatno mengungkapkan, kesiapan pihaknya jika nantinya ditunjuk sebagai salah satu sekolah yang menerapkan mapel coding dan AI. Sebab, di sekolahnya sendiri ada pembelajaran informatika yang sudah menjadi mapel wajib di kelas X sesuai kurikulum merdeka. Dan Mapel peminatan di kelas XI dan XII. Peminatnya pun cukup tinggi. Yakni terdapat 108 siswa dari total 1.291 siswa.
“Di kelas pembelajaran Informatika sejumlah 3 jam mengajar. Di dalamnya ada coding, komputer dan pengembangan teknologi. Di kelas 11 dan 12 informatika masuk mapel pilihan dengan jumlah mengajar 5 jam pelajaran,” urainya.
Secara detail, pria yang juga guru informatika menjelaskan model pembelajaran informatika di kelas X berbeda dengan kelas XI dan XII. Untuk kelas X pembelajaran difokuskan pada pengenalan dasar bahasa pemrograman. Sedangkan di kelas XI dan XII siswa akan membuat program dan projek berbasis Internet of Think (IoT).
“Projek kelas XI banyak praktek IoT dan diorientasikan untuk olimpiade TIK. Kalau sekarang proyeknya lampu lalu lintas, sampah otomatis dan beberapa projek lainnya,” tambah dia.
Terkait sarana dan infrastruktur, saat ini SMAN 1 Krembung memiliki 45 komputer dan satu ruang lab yang siap untuk praktek pembelajaran. Namun, selama pembelajaran, siswa lebih menggunakan smartphone untuk pemrograman. Untuk tenaga pendidik, SMAN 1 Krembung, sebut Suyatno memiliki tiga guru informatika yang tersertifikasi. Jumlah ini dinilai cukup karena mapel informatika bersifat pilihan di kelas XI dan XII.
“Tiap semester kita lakukan peningkatan kompetensi guru informatika. Beberapa kunjungan kekampus. Pengembangan juga dilakukan melalui MGMP sekolah. Terakhir kita kunjungan ke kampus di Undika untuk belajar IoT,” jabarnya.
Meski mengaku sudah siap, Suyatno berujar pihaknya masih akan menunggu skema pembelajaran coding dan AI apakah masuk masuk kurikulum atau tidak. Sebab kematangan tenaga pendidik juga menjadi pertimbangan. Meski dalam kurikulum, sekolah bisa meminta guru fisika dan matematika untuk mengajar informatika dasar.
“Kalau memang diterapkan dan dipatenkan masuk kurikulum dalam jangka panjang kita minta tambahan guru dan sementara menggunakan SDM yang ada dari guru fisika dan matematika dengan pelatihan. Bisa juga bekerjasama dengan pihak ke tiga,” sebut dia.
Sementara itu, diakui Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai Jawa Timur siap dalam menyambut mapel coding dan AI. SDM guru pun kata Aries sudah sangat expert dan paham soal coding dan AI.
“Akan menerapkan mulai jenjang SD, SMP dan SMA. Nah di SMA ini tinggal melanjutkan. Kenapa kebijakan ini dibuat, ya karena coding diharapkan bisa ditumbuhkan sejak dini. Maka jika diberikan pendidikan ini saat dewasa di SMA/SMK siswa tidak kesulitan karena sifatnya esac. Guru juga akan lebih mudah mengajar jika siswa punya basic coding di awal,” jelasnya.
Percepatan transformasi digital tengah dibahas Kemendikdasmen untuk pembelajaran coding dan AI. Rencananya, pembelajaran ini akan mulai diterapkan pada tahun ajaran 2025 mendatang. Namun tidak semua sekolah akan mendapat pembelajaran coding dan AI. Hanya bagi sekolah yang memiliki kesiapan dari segi sarana, infrastruktur, serta kemampuan siswa. Mata pelajaran pun bersifat pilihan.
Wamendikdasmen melalui siaran persnya, Fajar Riza Ul Haq menyampaikan, pengintegrasian coding dan kecerdasan buatan ke dalam kurikulum pembelajaran merupakan langkah strategis dalam mempersiapkan siswa menghadapi era digital. Menurutnya, Dengan integrasi ini, siswa Indonesia diharapkan dapat bersaing di kancah global dan berkontribusi pada daya saing bagsa, sejalan dengan visi Asta Cita pemerintah untuk pengembagan SDM unggul di bidang sains, teknologi, dan pendidikan.
Wamen Fajar berharap, rencana pengintegrasian pembelajaran coding dan kecerdesan buatan akan dapat memberikan dampak yang nyata ke depan. Karena menurutnya, digitalisasi pendidikan tak hanya dapat meningkatkan kualitas peserta didik, namun juga membuat gurunya menjadi lebih terbantu dan kreatif saat menyampaikan materi pembelajaran.
“Sebagai bagian dari Program Quick Win pemerintah, rencana ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata dalam waktu dekat. Digitalisasi pendidikan tidak hanya dapat meningkatkan kualitas siswa, tapi juga membantu guru dalam menyampaikan materi menjadi lebih efisien,” imbuhnya.
Ditambahkan, Staf Khusus Menteri, Muhammad Muclas Rowi, dalam menyiapkan pembelajaran coding perlu pembahasan detail dan identifikasi kebutuhan mendesak terkait pembelajaran coding dan AI. Namun juga memberikan beberapa opsi pembelajaran coding dan AI di jenjang SMP dan SMA. Harapannya, ada beberapa opsi pembelajaran coding dan AI di jenjang SMP dan SMA. Paling tidak ada tiga model pembelajaran yaitu, internet based, pugged, dan unplugged.
“Opsi – opsi itu sejatinya sesuai dengan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua, pendidikan bermutu termasuk coding dan AI harus dapat diakses oleh semua peserta didik di mana pun mereka berada,” tandasnya. [ina.fen]