31 C
Sidoarjo
Friday, March 27, 2026
spot_img

Broken Home Meningkat, Psikolog Unair Ungkap Dampak Serius bagi Anak


Surabaya, Bhirawa
Pakar Psikologi Universitas Airlangga (Unair) menyoroti kondisi meningkatkan fenomena broken home atau disfungsi keluarga.

Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sekitar 4,79 persen keluarga di Indonesia mengalami konflik cerai hidup, Sorotan utamanya kepada perkembangan kesehatan mental anak yang akan terdampak dengan konflik orang dewasa, Rabu (25/3).

Pakar Psikologi Unair, Atika Dian Ariana MSc MPsi mengukapkan bahwa broken home atau disfungsi keluarga terjadi ketika keluarga tidak lagi berfungsi secara optimal, muncul akibat konflik tinggi yang menyebabkan keluarga tidak lagi berfungsi, tidak lagi harmonis, dan tentunya berdampak signifikan pada semua anggota keluarga, khususnya pada anak.

“Dampak broken home kepada anak terlihat dari perubahan perilaku keseharian cukup signifikan, anak mengalami disfungsi keluarga cenderung menarik diri dari lingkungan sosial karena menurunnya rasa percaya diri,” jelasnya.

Lanjut Atika menyampaikan tanda-tanda berbeda antara lain seperti kurang berminat berinteraksi dengan teman sebaya, mengalami penurunan prestasi akademik, dan menunjukkan perubahan emosi seperti kemarahan, kecemasan, atau ketakutan berlebih, itu terjadi sebab krisis kepercayaan yang seharusnya terbentuk dalam keluarga.

“Terdapat dua kondisi mengharuskan anak mendapatkan bantuan profesional seperti psikolog, konselor, atau psikiater, Pertama, perubahan perilaku anak semakin memburuk secara signifikan, dan Kedua ketika keluarga tidak mampu memberikan dukungan emosional atau komunikasi yang sehat, terutama jika terdapat unsur kekerasan,” ucap Atika.

Berita Terkait :  Terima Dubes Guatemala, Pj Gubernur Adhy Jajaki Kerjasama Ekonomi Hingga Budaya

Atika mengingatkan kondisi tersebut anak sebaiknya ditempatkan di lingkungan yang lebih aman dan mendapatkan pendampingan kesehatan mental dari tenaga professional. “Orang tua memiliki peran besar menjaga kesehatan mental anak, ketika keluarga mengalami konflik, ada faktor dapat memengaruhi kondisi psikologis anak seperti lingkungan tidak kondusif, komunikasi yang buruk, dan kurangnya kehadiran orang tua dalam proses tumbuh kembang anak,” katanya.

Atika menegaskan anak bukanlah penyebab konflik dalam keluarga, konflik terjadi antara orang dewasa, sebab itu anak sebaiknya tetap fokus pada tujuan dan cita-citanya, jika terjadi dalam keluarga saat ini tidak menentukan masa depan mereka. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!