BPBD Jatim, Bhirawa
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur terus memperkuat langkah mitigasi menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlangsung sepanjang Februari 2026. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menjadi prioritas langkah mitigasi selama cuaca ekstrem.
Upaya tersebut dilakukan untuk menekan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga angin kencang di sejumlah wilayah rawan.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengatakan bahwa mitigasi difokuskan pada pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Evaluasi pelaksanaan OMC dilakukan dengan mengacu pada data curah hujan harian sebelum dan sesudah operasi yang bersumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“BPBD Jawa Timur memprioritaskan mitigasi melalui Operasi Modifikasi Cuaca dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah rawan, dengan evaluasi berbasis data BMKG,” ujarnya.
Berdasarkan data BPBD Jatim, pelaksanaan OMC selama Januari 2026 hingga 19 Januari telah dilakukan sebanyak 35 sorti dengan total durasi penerbangan mencapai 70 jam 46 menit. Dalam operasi tersebut, digunakan bahan Natrium Klorida (NaCl) sebanyak 29.800 kilogram dan Kalsium Oksida (CaO) sebanyak 5.000 kilogram.
Selain OMC, BPBD Jatim juga memprioritaskan pelatihan dan edukasi kesiapsiagaan masyarakat sebagai bagian dari upaya pencegahan bencana. Pelatihan tersebut difokuskan untuk meningkatkan pemahaman warga di wilayah rawan agar lebih siap dan responsif menghadapi potensi banjir, tanah longsor, maupun cuaca ekstrem lainnya selama puncak musim hujan.
Sementara itu, menurut informasi BMKG Juanda, potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Jawa Timur seiring masih berlangsungnya musim hujan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Potensi cuaca ekstrem diprakirakan terjadi pada periode 1-10 Februari 2026 di sebagian besar wilayah Jawa Timur. Kondisi ini dipengaruhi oleh aktifnya Monsun Asia, adanya gangguan atmosfer seperti Gelombang Kelvin, Low Frequency, dan Gelombang Rossby, serta hangatnya suhu muka laut di Selat Madura yang mendukung pertumbuhan awan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan meliputi Kabupaten Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, serta Kota Kediri, Kota Blitar, Kota Malang, Kota Probolinggo, Kota Pasuruan, Kota Mojokerto, Kota Madiun, Kota Surabaya, dan Kota Batu.
BMKG Juanda mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak bencana hidrometeorologi, di antaranya banjir, banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, pohon tumbang, hingga angin kencang.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, BPBD Jawa Timur juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya pencegahan dan kesiapsiagaan bencana. Dadang menekankan pentingnya pemantauan informasi cuaca secara berkala serta koordinasi lintas pihak.
“Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti perkembangan kondisi cuaca melalui website resmi BMKG dan BPBD Jawa Timur. Penanggulangan bencana ini merupakan urusan bersama,” tegasnya.
BPBD Jawa Timur memastikan koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota terus diperkuat, termasuk kesiapan sumber daya, logistik, dan edukasi kebencanaan kepada masyarakat, guna meminimalkan dampak cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi selama Februari. [fir.gat]

