Oleh :
Siska Nurhanifah, Febiola Alyza Kusuma, Andi Nahda Afiyani, Dewa Wahyu Aryanta, Zaldi Al Faris
Selama ini, kami jarang memikirkan secara serius soal limbah peternakan. Kotoran kambing sering dipandang sekadar sebagai sisa dari aktivitas beternak yang identik dengan bau dan kotor. Pandangan itu berubah ketika kami terlibat langsung dalam program kerja Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Dari sana, kami belajar bahwa sesuatu yang dianggap sepele ternyata menyimpan potensi besar jika dikelola dengan cara yang tepat.
Pengalaman tersebut kami peroleh secara langsung melalui salah satu program kerja KKN yang kami laksanakan bersama Pak Ridwan, peternak kambing yang tinggal di Dusun Sumberbendo, Desa Candiwatu, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Dari aktivitas beternaknya, kotoran kambing di kandang dihasilkan dalam jumlah cukup besar setiap hari. Namun, pengolahan kotoran kambing masih dilakukan secara manual dan menyita banyak waktu serta tenaga.
Proses pengolahan manual ini sering kali membuat kotoran kambing hanya ditumpuk di sekitar kandang. Selain menimbulkan persoalan lingkungan, kondisi ini juga menyebabkan potensi ekonomi dari kotoran kambing belum dimanfaatkan secara optimal. Padahal, dengan pengolahan yang tepat, kotoran kambing dapat diubah menjadi pupuk kompos yang bernilai guna.
Awalnya, kami mengira persoalan ini muncul karena kurangnya kesadaran peternak. Namun melalui interaksi dan diskusi selama pelaksanaan proker KKN, kami menyadari bahwa asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Pak Ridwan memahami manfaat kotoran kambing sebagai pupuk organik. Kendala utamanya terletak pada keterbatasan alat dan metode yang membuat proses pengolahan menjadi tidak efisien.
Melalui program kerja KKN tersebut, kami mencoba memperkenalkan alat pengaduk kotoran kambing yang sederhana dan mudah digunakan. Alat ini dirancang agar sesuai dengan kondisi peternakan rakyat. Dampaknya terasa langsung: waktu pengadukan menjadi lebih singkat, beban kerja fisik berkurang, dan hasil campuran kompos menjadi lebih homogen. Bagi Pak Ridwan, alat ini membantu meringankan pekerjaan sehari-hari tanpa harus mengubah pola kerja secara drastis.
Sebagai mahasiswa, kami melihat bahwa esensi KKN bukan sekadar melaksanakan kewajiban akademik, tetapi menghadirkan solusi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Teknologi tepat guna seperti alat pengaduk kotoran kambing mungkin terlihat sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Inovasi tidak harus besar dan mahal, melainkan tepat sasaran dan dapat digunakan secara berkelanjutan.
Keberhasilan program kerja KKN ini juga tidak lepas dari proses pendampingan. Pelatihan pengoperasian, diskusi terbuka, serta keterlibatan langsung mitra dalam perawatan alat membuat program tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Pak Ridwan tidak hanya menerima alat, tetapi juga memahami cara menggunakannya secara mandiri.
Pengalaman melaksanakan proker KKN di Dusun Sumberbendo memberi kami pelajaran penting bahwa kegiatan mahasiswa di desa seharusnya berorientasi pada dampak nyata. Mengelola kotoran kambing menjadi pupuk kompos bukan hanya soal efisiensi produksi, tetapi juga tentang kemandirian ekonomi, kepedulian lingkungan, dan keberlanjutan program.
Pada akhirnya, melalui program kerja KKN di Desa Candiwatu, kami belajar bahwa desa bukanlah objek pembangunan yang pasif. Bersama Pak Ridwan, kami menyaksikan bagaimana langkah kecil yang relevan dengan kebutuhan masyarakat mampu menghadirkan perubahan nyata. Dari kotoran kambing, kami belajar makna pengabdian dan peran mahasiswa di tengah masyarakat. [why]

