26 C
Sidoarjo
Monday, February 9, 2026
spot_img

Awas Wabah Virus Nipah

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Baru-baru ini dunia dikejutkan oleh penemuan kasus infeksi Virus Nipah (NiV) di wilayah Benggala Barat, India. Meski tergolong jarang, virus ini mendapat perhatian serius dari para pakar kesehatan karena tingkat kematiannya yang sangat tinggi dan potensi penularannya jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Virus nipah adalah virus zoonosis yang berarti dapat menular dari hewan ke manusia. Virus ini termasuk dalam genus Henipavirus dan keluarga Paramyxoviridae. Kasus pertama kali ditemukan dan diidentifikasi pada tahun 1998 di di Sungai Nipah, Malaysia dan Singapura dimana saat terjadi wabah di kalangan peternak babi yang membuat ratusan orang sakit dan banyak yang meninggal. Sejak saat itu, virus nipah terus menjadi perhatian dunia karena potensi pandeminya dan tingkat kematian yang tinggi. Menurut data dari World Health Organization (WHO), infeksi virus nipah dapat menyebabkan penyakit yang parah pada manusia, mulai dari infeksi pernapasan hingga ensefalitis (radang otak) yang mematikan.

Di sisi lain hingga saat ini, belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk infeksi virus nipah, sehingga pencegahan menjadi kunci utama. Langkah kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat Indonesia termasuk wilayah berisiko berdasarkan kedekatan geografis dan intensitas mobilitas dengan negara-negara yang pernah mengalami kejadian luar biasa selain itu merujuk hasil penelitian di Indonesia menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp.). Ini menandakan potensi sumber penularan virus Nipah di Indonesia. Gejala penderita virus Nipah biasanya sakit selama 3 hingga 14 hari dengan gejala demam, sakit kepala, batuk, sakit tenggorokan, dan kesulitan bernapas. Pada tahap selanjutnya dari infeksi, beberapa orang mungkin mengalami pembengkakan otak, atau ensefalitis, di mana gejala parah dapat meliputi kebingungan, kantuk, dan kejang.

Berita Terkait :  Pemanfaatan Artificial Intelligence dalam Dunia Kesehatan

Penderita dengan gejala-gejala ini dapat jatuh ke dalam koma dalam waktu 24-48 jam. Secara medis bahwa orang dapat terinfeksi Nipah berasal dari pertama, kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, seperti kelelawar atau babi. Kedua, mengonsumsi makanan atau minuman, seperti buah atau getah kurma mentah, yang terkontaminasi oleh hewan yang terinfeksi. Ketiga, adanya kontak dekat dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi. Seseorang dapat terinfeksi dengan meminum getah pohon kurma mentah atau memakan buah yang terkontaminasi oleh kelelawar yang terinfeksi. Penyebaran awal dari hewan ke manusia ini dikenal sebagai peristiwa penularan silang (spillover event). Setelah seseorang terinfeksi Nipah, virus tersebut dapat menyebar dari orang ke orang.

Berbagai tips dan upaya pencegahan dan antisipatif perlu dilakukan untuk mengurangi resiko penyebaran virus Nipah, antara lain : mencuci tangan secara teratur dengan sabun dan air yang mengalir, menghindari kontak dengan kelelawar buah atau babi yang sakit, menghindari area tempat kelelawar bertengger, menyentuh apa pun yang mungkin terkontaminasi oleh kelelawar, menghindari mengonsumsi getah kurma mentah atau buah kurma yang mungkin terkontaminasi oleh kelelawar, serta menghindari kontak dengan darah atau cairan tubuh seseorang yang terinfeksi virus Nipah. Pendek kata Pola Hidup Bersih dan Sehat (PBHS) menjadi kunci pencegahan penularan virus.

Dampak Deforestasi
Virus Nipah bukan sekadar penyakit menular yang muncul tiba-tiba. Di balik tingkat kematian yang tinggi dan gejala berat yang ditimbulkannya, tersimpan persoalan besar yang sering luput disadari, kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. Sejarah kemunculan virus Nipah menunjukkan bahwa kegagalan menjaga hutan dapat berujung pada ancaman kesehatan yang mematikan. Fenomena deforestasi yang terencana dan meluasnya tutupan hutan terjadi penurunan tajam untuk industri kayu pulp, yang merupakan habitat alami kelelawar pembawa virus Nipah. Virus lalu berpindah ke peternakan babi. Penurunan ini berkorelasi dengan merebaknya penyakit zoonosis. Berkurangnya sumber makanan bagi kelelawar telah mendorong satwa ini lebih dekat ke permukiman manusia.

Berita Terkait :  Mikroplastik dan Bahaya yang Tak Disadari

Penebangan hutan dan alih fungsi lahan menyebabkan kelelawar kehilangan habitat alaminya. Ketika sumber makanan di hutan berkurang, kelelawar berpindah mendekati pemukiman manusia dan area peternakan. Dalam kondisi inilah virus Nipah berpindah dari kelelawar ke babi, lalu ke manusia. Peristiwa ini menjadi contoh nyata bagaimana kerusakan lingkungan dapat membuka jalan bagi penyakit zoonotik, yakni penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Pada kasus yang lebih serius, virus Nipah dapat menyebabkan ensefalitis atau peradangan otak. Kondisi ini ditandai dengan kantuk berlebihan, kebingungan, disorientasi, perubahan perilaku, hingga kejang sehingga pada tahap lanjut, infeksi virus Nipah dapat menyebabkan koma dan kematian, dengan tingkat fatalitas yang dilaporkan cukup tinggi. Oleh karena hingga kini, belum tersedia vaksin atau obat khusus untuk virus Nipah. Pencegahan menjadi langkah paling penting.

————— *** ——————-

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru