28 C
Sidoarjo
Friday, February 13, 2026
spot_img

Antara Tantangan, dan Peluang Efisiensi TKD Kabupaten Nganjuk di Tahun 2026

2 WKP Geothermal Nganjuk sebagai EBT,

Pemkab Nganjuk, Bhirawa.
Kabupaten Nganjuk menatap tahun 2026 dengan sikap realistis dan pandangan jauh ke depan. Di tengah tekanan efisiensi fiskal dan ketidakpastian ekonomi nasional, daerah yang dikenal sebagai “Bumi Anjuk Ladang” ini mencoba menulis babak baru: dari efisiensi menuju transformasi dengan dua tumpuan utama, energi dan pangan.

Efisiensi Fiskal dan Ujian Anggaran
Sejak pertengahan 2025, Pemkab Nganjuk mulai menjalankan kebijakan pengetatan anggaran dengan menata ulang belanja publik dan memprioritaskan sektor pro-rakyat.
Langkah ini bukan hanya upaya bertahan di tengah berkurangnya dana transfer pusat, tetapi juga wujud kesadaran fiskal baru: bahwa pembangunan harus berdaya guna, bukan sekadar berdaya serap.

“Setiap rupiah harus punya efek ganda: menumbuhkan ekonomi dan menyejahterakan masyarakat,” ujar salah seorang Staf Ahli Bupati Nganjuk, saat ditemui pekan lalu. “Itu prinsip efisiensi yang kami jalankan, bukan sekadar pemangkasan.”

Pangan: Dari Lumbung ke Rantai Industri
Sektor pertanian tetap menjadi jantung ekonomi Nganjuk. Namun kini, orientasinya mulai bergeser: dari produksi menuju industrialisasi hijau.
Bawang merah, padi, dan hortikultura tak lagi cukup dijual mentah—harus masuk ke rantai nilai industri.

Beberapa desa di wilayah Rejoso dan Gondang mulai menggandeng pelaku UMKM dan investor kecil untuk membangun rumah pengering bawang, serta fasilitas pengolahan bumbu dan kemasan pangan olahan.

Berita Terkait :  Blusukan Pasar Bunul Kota Malang, Wahyu Sebut Pasar sebagai Pusat Ekonomi Masyarakat

“Petani sekarang butuh nilai tambah, bukan sekadar panen banyak,” ujar Puji Santoso, petani modern asal Desa Pandean yang menjadi pelopor digitalisasi pertanian.
“Kalau kita bisa olah sendiri, jual langsung lewat platform digital, pendapatan bisa naik dua kali lipat. Ini arah baru pertanian Nganjuk.”

Energi Panas Bumi: Harapan dari Gunung Wilis dan Gunung Pandan
Di sektor energi, Nganjuk mulai membuka lembar baru melalui pengembangan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Wilis dan Gunung Pandan.
Potensi panas bumi di kawasan ini tidak hanya menjanjikan listrik bersih bagi daerah sekitar, tapi juga membuka peluang investasi lintas kabupaten Nganjuk, Kediri, Tulungagung, hingga Ponorogo.

“Energi hijau bukan sekadar proyek, tapi masa depan yang merupakan energi baru dan terbarukan (EBT),” kata Muji Subagio.

Muji Subagio, Kabag SDA Asisten Ekonomi Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Nganjuk menambahkan:”kebutuhan energi baru terbarukan (EBT) panas bumi atau geothermal di WKP Gunung Wilis tahun 2021 kemarin memang sempat di lelang oleh pemerintah pusat, namun badai covid 19 keburu melanda, hingga entah bagaimana kelanjutannya”,ungkap mantan Sekretaris Dinas PUPR dan Bappeda kenarin, Rabu (05/11/2025).
“Nganjuk berada di simpul penting WKP Wilis dan Pandan serta sudah masuk dalam dokumen RTRW Provinsi Jawa Timur dan RTRW Nganjuk. Bila di kelola baik, ia bisa jadi poros energi baru yang menopang industri dan pertanian daerah.” tambahnya.

Berita Terkait :  Bupati Pasuruan HM Rusdi Sutejo: Koperasi Merah Putih untuk Sejahterakan Masyarakat

“Belum seperti pemanfaatan tenaga angin dan penanganan sampah dengan tidak lagi menggunakan control lanndfield atau sanitary landfield, tapi dengan gasifikasi yang bisa menghasilkan listrik siap pakai yang bisa di jual ke PLN”, pungkasnya.

Namun di balik peluang itu, tersimpan tantangan klasik: tata ruang, konflik lahan, dan keseimbangan ekologis. Pemerintah daerah dituntut berhati-hati menata wilayah konservasi agar eksplorasi energi tak merusak potensi wisata dan geopark.

Ekskavasi fosil gajah purba di Titik, Rejoso, Nganjuk

Geopark dan Ekonomi Hijau
Kawasan pegunungan Pandan tengah dipertimbangkan masuk ke dalam jaringan Geopark Nasional. Di sinilah Nganjuk menemukan peluang ketiga: menjadikan keindahan alam dan geologi sebagai sumber ekonomi hijau. Terlebih usai di temukan fosil gajah purba stegodon di hutan Tritik Rejoso kemarin.

Geowisata, pertanian organik, dan konservasi bisa berjalan berdampingan sepanjang tata kelolanya partisipatif dan transparan.

Menatap 2026
Nganjuk kini berdiri di simpang penting antara efisiensi dan inovasi.
Tantangan fiskal akan tetap ada. Tapi di tengah keterbatasan, dua poros utama—energi dan pangan menawarkan arah baru pembangunan: berkelanjutan, produktif, dan berdaulat.

Mungkin, di tahun 2026, di sejarah akan mencatat: Nganjuk pernah memilih jalan yang lebih sulit menjadi efisien tanpa kehilangan semangat tumbuh. Namun semua tergantung kepada kebijakan Marhaen dan Trihandy selaku kepala daerah dan wakilnya bagaimana mereka akan membawa Nganjuk untuk melesat. (dro.hel).

Berita Terkait :  Disperpusip Pemkab Situbondo Resmikan Aplikasi Srikandi

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru