26 C
Sidoarjo
Tuesday, February 24, 2026
spot_img

Aksi Bela Negara Menjaga Indonesia di Ruang Digital

Surabaya, Bhirawa

Citra bangsa adalah citra diri kita sendiri. Hal itu mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi DPRD Jawa Timur bertajuk Bela Negara di Era Digital yang digelar di ArtHotel, Senin (23/2) malam, hadir sebagai narasumber Fuad Benardi, Anggota Komisi C DPRD Jawa Timur.

Dalam paparannya, Fuad menegaskan bela negara hari ini bukan lagi berbicara tentang angkat senjata atau perjuangan gerilya seperti yang dilakukan para pahlawan terdahulu, melainkan bagaimana generasi sekarang berjuang melalui ruang digital yang mereka gunakan setiap hari.

“Jangan sampai kita menjelek-jelekan Bangsa kita sendiri, karena citra negara kita juga mrnjadi bagian dari diri kita sendiri juga,” ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan bahwa setiap konten yang kita unggah tentang Indonesia pada akhirnya akan kembali pada reputasi kolektif sebagai warga negara.

Fuad mendorong masyarakat, khususnya generasi muda yang paling aktif di dunia maya, untuk menjadikan media sosial sebagai etalase positif Indonesia, bukan sebagai ruang melampiaskan amarah tanpa kendali.

Menurutnya, aksi bela negara di dunia digital bisa dilakukan dengan mengisi linimasa dengan cerita positif tentang Indonesia: mulai dari ulasan destinasi wisata di daerah, pengenalan budaya lokal, hingga promosi produk UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Dengan cara ini, bela negara tidak lagi terasa jauh dan abstrak, tetapi hadir dalam praktik keseharian mulai dari satu unggahan, satu komentar, hingga satu review yang berperspektif kebangsaan.

Penguatan literasi digital menjadi benteng utama agar masyarakat mampu menjalankan peran bela negara di era teknologi ini. Berbagai kajian menunjukkan bahwa literasi digital mencakup kemampuan mencari, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi dari berbagai sumber online secara kritis dan bertanggung jawab.

Berita Terkait :  Wujudkan Pilkada Kota Batu Aman, Kontestan Sepakat Hindari Black Campaign

Di Indonesia, riset-riset tentang literasi digital menegaskan bahwa rendahnya kemampuan verifikasi informasi membuat masyarakat rentan terhadap hoaks dan manipulasi opini publik.

Dalam konteks sistem pertahanan negara, hoaks bukan sekadar informasi salah, tetapi dapat menjadi ancaman serius yang mengganggu stabilitas sosial dan kepercayaan terhadap institusi negara. Karena itu, literasi digital dipandang sebagai salah satu bentuk nyata bela negara nirmiliter, ketika warga mampu memeriksa fakta, menahan diri sebelum membagikan informasi meragukan, dan memilih untuk menyebarkan konten edukatif dan konstruktif.

Berbagai program penguatan literasi digital di tingkat akar rumput mulai dari pelatihan ibu rumah tangga, santri, siswa sekolah dasar hingga mahasiswa juga menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan digital dapat memperkuat ketahanan sosial budaya masyarakat.

Di saat yang sama, lembaga-lembaga negara dan kampus strategis juga mulai menekankan pentingnya bela negara berbasis nirmiliter melalui literasi digital, gotong royong siber, dan produksi konten kreatif berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

Fuad Benardi menyoroti pentingnya pemahaman masyarakat terkait batas antara ruang publik dan ruang privat di media sosial.

“Pentingnya pengertian bagi masyarakat, hal-hal apa saja yang masuk dalam ruang publik di media sosial dan hal-hal apa saja yang masuk dalam ruang privat. Ini yang musti kita ingatkan kepada masyarakat di era digital seperti sekarang ini,” urainya lagi.

Kesadaran ini menjadi krusial karena banyak persoalan di ruang digital berawal dari kegagalan membedakan mana yang layak dibagikan ke publik dan mana yang seharusnya tetap menjadi konsumsi pribadi.

Berita Terkait :  Ormas GAIB Minta Polisi Tuntaskan Penyelewengan Pupuk Subsidi di Sampang

Data pribadi, konflik keluarga, hingga pernyataan emosional yang dilontarkan tanpa filter sering berujung pada perundungan, pencemaran nama baik, bahkan proses hukum dan pada skala yang lebih luas, bisa memunculkan persepsi negatif terhadap karakter masyarakat Indonesia di mata dunia.

Literasi privasi menjadi bagian penting dari literasi digital, memahami pengaturan privasi platform, bijak mengelola jejak digital, dan menyadari bahwa setiap unggahan berpotensi diarsipkan dan disebarkan tanpa batas.

Dengan kemampuan ini, warga bukan hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga menjaga martabat keluarga, komunitas, dan bangsa dari eksposur negatif yang sebenarnya tidak perlu.

Dari Konten Positif ke Ketahanan Nasional

Berbagai inisiatif di tingkat nasional menggambarkan bahwa bela negara di era digital diarahkan pada penguatan “jati diri digital” bangsa melalui produksi konten kreatif dan konstruktif.

Gerakan mempromosikan budaya lokal, digitalisasi warisan budaya, hingga kampanye penggunaan Bahasa Indonesia di ruang maya merupakan bagian dari upaya membangun citra Indonesia yang percaya diri dan berdaulat di tengah persaingan global.

Di sisi lain, generasi muda yang tumbuh sebagai digital native diharapkan tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga produsen narasi positif tentang bangsanya sendiri.

Dari vlog perjalanan ke desa wisata, ulasan kuliner tradisional, hingga thread edukatif tentang sejarah dan nilai-nilai kebangsaan, semua dapat menjadi bentuk keterlibatan nyata dalam bela negara nirmiliter.

Berita Terkait :  Bupati Madiun Tandatangani Pakta Integritas Direktur Kepatuhan Perumda BPR

Ruang digital pada akhirnya menjadi etalase karakter Indonesia, apakah akan dipenuhi caci maki dan hoaks, atau diwarnai semangat gotong royong, kreativitas, dan kecintaan pada tanah air. jawabannya banyak ditentukan oleh pilihan sehari-hari para penggunanya.

Bela negara di era digital tidak lagi identik dengan angkat senjata, tetapi bagaimana warga negara ikut menjaga nama baik dan ketahanan Indonesia di ruang siber yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Di era digital seperti sekarang, aksi bela negara bisa dilakukan dengan cara sederhana namun berdampak, salah satunya dengan menjaga citra bangsa di media sosial dan berbagai platform digital.

Narasi positif tentang Indonesia, terutama terkait tempat wisata, budaya, kuliner, hingga karya anak bangsa, menjadi benteng penting di tengah derasnya arus informasi global.

Review jujur dan proporsional tentang destinasi wisata maupun budaya lokal, jika dikemas dengan etika dan rasa bangga, dapat memperkuat daya tarik Indonesia di mata dunia sekaligus mengimbangi konten negatif yang kerap bermunculan.

Aksi bela negara juga bermakna menolak ikut menyebarkan konten yang merugikan bangsa sendiri, seperti ujaran kebencian, fitnah, dan hoaks yang bisa memecah belah persatuan nasional.

Di sinilah ruang digital menjadi medan baru pertahanan non-militer, di mana setiap pengguna internet memegang peran sebagai duta bangsa, baik ketika mengunggah konten, berkomentar, maupun sekadar membagikan informasi. [aya.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru