24 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

Aceh dalam Ingatan: Dari DOM, NAD, Tsunami sampai Galodo

Oleh :
M. Chairul Arifin
Penulis adalah Purnabakti Kementerian Pertanian (Kementan). Alumni Universitas Airlangga (Unair), Surabaya

Apa yang menjadi dosa masyarakat Aceh sehingga selalu terbebani musibah beruntun sampai saat ini!? Wilayah tengah yang membujur awal pegunungan Bukit Barisan dan berjuluk Serambi Mekah itu tidak henti hentinya dirundung aneka masalah yang banyak menyangkut berbagai sendi hidup kemasyarakatan.

Sejarah kelam Aceh dalam NKRI dimulai dari sejak jaman Operasi Militer sebagai bentuk ketidak puasanya masyarakat Aceh terhadap pembagian alokasi sumber daya alam yang dimiliki yang memicu timbulnya gerakan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Pemerintah lalu memberlakukan sebagai daerah Operasi militer (DOM) yang berlangsung sepuluh tahun dari 1989-1998¡.

Perlakuan pemerintah yang bersifat represif dengan pendekatan top down security inilah yang dianggap melukai mayarakat Aceh dan diam diam tumbuh GAM yang makin membesar , TNI dianggap kejam dan perlakuannya banyak melanggar hak asasi manusia yang universal.

GAM kemudian berteriak di banyak forum internasional dan bahkan punya kantor di Helshinki Finlandia.

Permen Gula gula
Walaupun pemerintah kemudian pada akhirnya melahirkan nama barumenjadi Nanggroe Aceh Darusalam bagi propinsi Aceh (2001), dan memberlakukan syariat Islam kepada para pemeluknya dalam bentuk Qanun sebagai daerah istimewa (NAD) .

Tetapi model pendekatan pemerintah yang bersifat terlalu top down ini dinilai hanya sebatas memberi permen gula gula kepada masyarakat Aceh. Masyarakat Aceh cerdas. Sedangkan pembagian distribusi kekayaan setempat tetap tidak disinggung sama sekali

Berita Terkait :  Darurat Penambangan Ilegal di Bumi Pertiwi

Kemenangan pun mulai diraih oleh partai lokal

yang dIdirikan oleh para Kombatan GAM. Ironisnya para pemenang partai lokal hanya diijinkan sebatas kiprahnya di wilker nya, belum di pusat . Perlakuan ini juga dinilai menyakitkan karena tidak bisa diisi tokoh-tokoh Aceh di pusat pemerintahan. Partai, lokal selamanya di lokal saja.

Tahun 2004 datang tsunami Aceh yang memporak porandakan Aceh. Menelan korban jiwa lebih dari 200..000 jiwa. Karena skala yang luas dan pertimbangan nilai kemanusiaan universal serta pengakuan Presiden Susilo Yudoyono tentang kurangnya faktor logistik pemerintah kemudian membuka lebar lebar donatur luar negeri. Sempat terbangun Musium Tsunami bantuan para donatur luar negeri.

Mualliem
Kini galodo Sumatera yang melanda Aceh Korban jiwa yang timbul memangnya dibawah 200.000jiwa, tapi menimbulkan keadaan yang tidak terperikan bagi masyarakat Aceh seolah dihantam tsunami kedua. Pemerintah bersikukuh bahwa bencana ini dapat ditanggulangi sendiri dengan kemampuannya. Gon to hell with your Aid. Kita berdaulat kata pemerintah Bantuan urung masuk padahal sangat dibutuhkan masyarakat Aceh .

Yang pusing saat ini dan jadi dilema adalah muka kusut Sang Muallem Imam Muzakir Manaf menghadapi situasi ini . Di satu pihak sebagian rakyatnya telah bersurai minta bantuan luar negeri dan di pihak lain sebagai gubernu beliau merupakan kepanjangan tangan pemerintah. Jangan heran melihat wajah kusut setengah menangis menyaksikan koordinasi pemerintah dalam tata kelola bantuan. Sedangkan rakyatnya berteriak karena kekuranga pangan dan masih terisolasi

Berita Terkait :  Peringatan 10 November, Khofifah Ajak Masyarakat Teladani Jasa Pahlawan Hadapi Tantangan Global

Salah siapa.
Kesalahan awal banyak ditimpakan pada pemerintah yang lebih banyak melakukannya pendekatan security bukan dengan pendekatan prosperity. Pendekatan ini menutup ruang dialog dengan masyarakat Aceh dan tidak dapat mencari akar masalah diajar rumput Pemerintah dengan pendekatan dan tata kelola pemerintahan yang top down dapat sementara membungkam masyarakat. Tetapi idealisme masyarakat Aceh tetap hidup dan metetap

Barulah di tahun 2004 sejak Tsunami datang dianggap sebagai musuh bersama yang perlu sama-sama ditanggulangi antara pemerintah, dan GAM maka banyak tokoh-tokoh GAM yang rela turun gunung untuk bergabung bersama menangat Tsunami.

GAM berhasil menduduki posisi puncak penanggulangan Tsunami dan terjadilah rekonsiliasi sampai saat Ini.

Kini dengan tibanya galodo Sumatera (2025) 20 tahun sesudah tsunami masih terjadi pembalikan isi bencana tentang masuknya bantuan luar negeri yang sementara dibatasi. Tetapi kerikil tajam ini nampaknya

berhasil diatasi dan mudah mudahan tidak membuat muka kusut Sang Mualliem lagi.

—————- *** —————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru