29.5 C
Sidoarjo
Thursday, October 22, 2026
spot_img

Refleksi Hari Dokter Nasional 24 Oktober, Tantangan Teknologi dan Penguatan Empati-Komunikasi

Oleh :
Oryz Setiawan
Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (Public Health) Unair Surabaya

Harus diakui, seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan kompleksitas kondisi serta berbagai issue kesehatan nasional, regional maupun global tentu sangat mempengaruhi dan berdampak pada setiap profesi kesehatan tak terkecuali profesi medis. Ancaman, tantangan kian meningkat dan harus mampu disikapi secara positif dan bijak serta adaptif pada setiap perkembangan zaman namun tetap menjunjung tinggi norma, etika dan standar yang ada, termasuk komitmen untuk terus mengabdikan diri untuk berbakti untuk negeri dan kemaslahatan bangsa. Hal ini sesuai dengan tema resmi Hari Dokter Nasional 2026 yang diperingati setiap tanggal 24 Oktober yakni “IDI Berkemajuan Berbakti untuk Bangsa”. Setidaknya terdapat dua pesan penting yaitu Berkemajuan dan Berbakti untuk Bangsa.

“Berkemajuan” memiliki makna upaya untuk terus mendorong Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan para dokter agar terus adaptif terhadap perubahan zaman, menguasai teknologi kesehatan, serta meningkatkan kompetensi dan mutu pelayanan secara berkelanjutan. Kondisi zaman yang terus menuntut untuk selalu mengedepanlan aspek profesionalitas, kompetensi dan merespon segala bentuk perubahan yang timbul di masa depan namun tetap memegang teguh nilai-nilai dan etika. “Berbakti untuk Bangsa” merupakan sikap dan bentuk meneguhkan komitmen pengabdian para dokter dalam menjaga kesehatan masyarakat Indonesia di tengah berbagai tantangan sistem kesehatan. Dorongan sebuah janji luhur dan dedikasi seorang profesional medis untuk mengutamakan kesehatan serta kesejahteraan pasien di atas kepentingan pribadi. Komitmen ini bukan sekadar kewajiban kerja, melainkan sebuah panggilan etis yang dipegang teguh sejak awal menyandang gelar dokter.

Berita Terkait :  Saatnya Wujudkan Program Makan Bergizi Gratis

Perkembangan teknologi digital yang serba cepat dan masifnya penggunaan (artificial intelligence/AI) yang menuntut seorang dokter harus mampu menggunakan kecerdasan buatan (AI), memiliki kemampuan analitis data besar (big data), dan layanan telemedicine dalam diagnosis serta pemantauan pasien sehingga terjadi perubahan peran yakni penguasaan teknologi yang dapat mengambil alih analisis data klinis rutin, sehingga dokter dituntut berfokus pada interpretasi mendalam dan keputusan strategis. Di era digital seorang dokter dihadapkan pada tantangan tiga literasi baru di era 5.0 yaitu literasi data yakni kemampuan membaca, menganalisis, dan memanfaatkan informasi digital secara akurat. Literasi teknologi merupakan kemampuan adaptasi cepat terhadap perangkat medis modern dan sistem informasi kesehatan serta literasi kemanusiaan dimana upaya penguatan moralitas, etika, dan kepekaan sosial agar teknologi tidak menggeser nilai-nilai kemanusiaan

Standar-Etika, Empati-Komunikasi
Dari sisi penyelenggaran setiap tindakan medis telah dilindungi oleh kode dan standar etik sehingga menjadi pedoman dan guidance dalam praktik kedokteran. Penerapan etik medis adalah bicara tentang prinsip dan nilai-nilai moral yang mengatur praktik kedokteran dan layanan Kesehatan yang harus dijunjung tinggi oleh setiap insan medis. Etika medis mencakup pertimbangan tentang apa yang benar dan salah dalam tindakan medis, hak pasien, kewajiban dokter, dan berbagai isu etika yang muncul dalam bidang kesehatan. Organisasi profesi medis memiliki peran penting dalam meningkatkan standar pelayanan kesehatan, melindungi masyarakat, dan mengembangkan profesi medis juga berperan dalam menyelesaikan sengketa medis, menegakkan etika profesi, dan mendukung kebijakan kesehatan nasional.

Berita Terkait :  Transformasi Kesehatan Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur

Prinsip dasar dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi sumpah profesi para dokter dalam rangka mengabdikan diri untuk kemanusiaan. Pasien masa depan semakin kritis dan memiliki akses informasi yang luas sehingga dokter harus memperlakukan pasien sebagai mitra setara, bukan sekadar objek medis serta memiliki daya empati dan strategi komunikasi. Di tengah keterbatasan waktu pelayanan, kemampuan komunikasi yang baik dan empati menjadi penentu utama kepercayaan masyarakat (public trust). Di sisi lain, kondisi eksisting SDM kesehatan kita terutama tenaga medis akan tengah menghadapi persaingan dunia digital yang luar biasa. Oleh karena itu penguatan karakter agar mampu beradaptasi, memiliki daya manusia, transformasi digital, dan tidak berhenti untuk berinovasi. Oleh karena profesi dokter sebagai salah satu motor penggerak (engine) utama sistem pelayanan kesehatan di tengah tantangan yang kian kompleks, penuh turbulensi dan tekanan global serta digitalisasi yang kian masif diberbagai sektor kehidupan yang pada akhirnya harus mampu direspon sehingga tujuan perwujudan masyarakat sehat, mandiri dan lebih produktif secara berkelanjutan dalam rangka menuju visi besar nasional Indonesia Emas 2045.

———- *** ————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img
spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!