Kota Malang, Bhirawa. – Departemen Statistika Universitas Brawijaya (UB) memaparkan hasil riset kolaborasi bersama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Malang terkait analisis pemetaan klaster spasial Ekonomi Kreatif (Ekraf) di Kantor Bappeda Kota Malang. Riset ini memetakan karakteristik dan potensi ekraf di lima kecamatan selama kurun waktu 2022-2025 untuk mendukung perumusan kebijakan pembangunan daerah berbasis data riil.
Pertemuan ilmiah tersebut dihadiri jajaran Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappeda Kota Malang bersama tim dosen dan mahasiswa Departemen Statistika UB. Kepala Bidang Litbang Bappeda Kota Malang, Yogi Handoyo Waseso, S.Sos., M.Si., saat membuka diskusi mengapresiasi kontribusi aktif perguruan tinggi yang memberikan masukan berbasis riset ilmiah bagi perencanaan kebijakan publik.
Statistisi Muda Bappeda Kota Malang, Riza Saadiah, S.Si., M.Si., mengungkapkan bahwa sektor Ekraf memegang peranan krusial terhadap capaian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang menjadi indikator kinerja utama kepala daerah. Saat ini, Bappeda bersama BPS Kota Malang juga tengah menjalankan Program Kelurahan Cinta Statistik (Cantik) yang menghimpun kuesioner perhitungan PDRB Ekraf melibatkan mahasiswa.
“Hasil perhitungan PDRB Ekraf Kota Malang saat ini sedang dalam tahap penyusunan laporan akhir. Kami berharap riset bersama Departemen Statistika UB ini semakin memperkaya analisis lapangan sektor ekonomi kreatif di Kota Malang,” jelas Riza.
Sementara itu, perwakilan dosen Departemen Statistika UB, Rahma Fitriani, S.Si., M.Sc., Ph.D., menerangkan bahwa hasil analisis mengelompokkan wilayah Kota Malang ke dalam dua klaster utama. “Klaster 1 meliputi Kecamatan Klojen dan Lowokwaru yang menjadi pusat pendidikan dan industri. Sedangkan Klaster 2 mencakup Blimbing, Kedungkandang, dan Sukun yang masih memerlukan penguatan kapasitas industri,” terang Rahma.
Berdasarkan temuan di lapangan, Klaster 1 didominasi subsektor kuliner serta aktivitas ekonomi digital seperti pengembang aplikasi dan game. Sementara di Klaster 2, khususnya kawasan Kedungkandang, memiliki keunggulan berupa ketersediaan lahan luas dan sumber daya manusia potensial untuk pengembangan sentra industri kreatif baru.
Rahma menambahkan, pemetaan wilayah ini selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), utamanya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) serta SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan). Karakteristik spesifik di tiap kecamatan menjadi pijakan kuat untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha lokal secara terarah.
Terkait dinamika data pelaku usaha di lapangan, mahasiswa Sains Data UB yang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) turut membantu memetakan sebaran pelaku Ekraf dari data mentah survei tahun 2025 guna memastikan pembaharuan data berkala.
Menyikapi hal tersebut, Perencana Muda Subkoor Inovasi dan Daya Saing Daerah Bappeda Kota Malang, Zakaria, S.AP., M.AP., mengusulkan pembentukan forum riset bersama agar analisis spasial Ekraf dapat diperbarui secara berkesinambungan.
Menutup diskusi, Yogi Handoyo Waseso menegaskan komitmen Bappeda Kota Malang yang terbuka terhadap hasil riset akademisi maupun mahasiswa magang. Sinergi pentahelix yang mencerminkan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) ini diharapkan terus berlanjut guna menyajikan basis data yang presisi demi pertumbuhan ekonomi kreatif Kota Malang yang inklusif dan berkelanjutan.[mut.ca]






