Pemprov Jatim, Bhirawa
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mematangkan kesiapan menghadapi musim kemarau tahun 2026. Berdasarkan data BMKG, fenomena El Niño tahun ini diprediksi berintensitas lemah, namun puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus mendatang sehingga kewaspadaan tetap ditingkatkan.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda sekaligus Koordinator BMKG Jatim, Taufiq Hermawan, menekankan pentingnya belajar dari pengalaman tahun 2023 yang tercatat sebagai tahun paling kering dalam sejarah terakhir.
“Tahun 2023 adalah yang paling kering, di mana kita harus berjibaku melakukan pemadaman udara lewat helikopter. Untuk tahun 2026 ini, antisipasi masif sudah dilakukan agar kondisi ‘merah’ seperti tahun 2023 tidak terulang kembali,” jelas Taufiq.
BMKG menegaskan paradigma penanganan kini bergeser dari sekadar respons pemadaman menjadi pencegahan berbasis risiko. Hal ini sejalan dengan upaya memperkuat sistem deteksi dini (Early Warning System/EWS) dan perlindungan pada kawasan vital, terutama wisata pegunungan yang rentan terhadap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
Kodam V/Brawijaya Siapkan 100 Unit Damkar
Dukungan maksimal datang dari TNI melalui Kodam V/Brawijaya. Sebagai bagian dari Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seluruh sumber daya dari tingkat Korem hingga Kodim disiapkan untuk mendukung kebijakan daerah.
“Tahun ini kami menerima bantuan dari Kementerian Pertahanan berupa 100 unit mobil pemadam kebakaran. Saat ini kami sedang menyiapkan dan melatih personel untuk mengoperasikan armada tersebut guna mengantisipasi bencana hidrometeorologi kering,” ungkap Kapok Sahli Pangdam V/Brawijaya, Brigjen TNI Singgih Pambudi Arinto.
Hingga saat ini, dari 38 kabupaten/kota di Jatim, sebanyak 24 daerah telah mengaktifkan Kajian Risiko Bencana (KRB) dan 21 daerah memiliki Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) sebagai landasan operasional.
Fokus Antisipasi Kekeringan dan Karhutla
Kepala Pelaksana (Kalaksana) BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menyatakan seluruh wilayah Jatim berpotensi terdampak kekeringan. Oleh karena itu, prinsip utama yang diusung adalah penguatan antisipasi dan kolaborasi lintas sektor, khususnya dalam menjaga ketersediaan air.
Wilayah yang menjadi perhatian khusus antara lain Bojonegoro, Lamongan, Pacitan, Trenggalek, serta sejumlah daerah di Pulau Madura yang kerap terdampak terberat.
“Prinsip kami adalah memperkuat antisipasi dan kolaborasi, terutama menjaga ketersediaan air. Jika dibutuhkan, kami siap melakukan pengeboran sumur baru untuk menambah sumber air bagi masyarakat,” tegas Gatot.
Selain kesiapan personel, BPBD juga meminta daerah di lereng gunung meningkatkan pengawasan agar masyarakat tidak membakar lahan sembarangan yang bisa memicu api besar.
Penguatan EWS juga terus dilakukan agar informasi cuaca bisa menjangkau hingga tingkat desa, sehingga masyarakat bisa melakukan aksi dini sebelum bencana melanda. [fir.kt]



Untuk buka blokir BRImo anda bisa menghubungi CS BRI melalui chat WhatsApp di (08_3_88_333_665) atau(0897_668_2180) Anda bisa pilih menu lupa username atau password pada halaman login aplikasi Brimo anda