26 C
Sidoarjo
Tuesday, April 7, 2026
spot_img

Waspada Puncak Kemarau Murni Tanpa Gelombang Basah, BMKG Juanda Prediksi El Nino Lemah

Surabaya, Bhirawa
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda merilis prakiraan cuaca jangka panjang untuk wilayah Jawa Timur sepanjang tahun 2026. Berdasarkan hasil analisis data iklim terbaru, Jawa Timur diprediksi akan menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas lemah, namun memiliki karakteristik kering yang murni.

Hal itu diungkapkan dalam Rapat Koordinasi Penangan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Bencana Musim Kemarau Jawa Timur Tahun 2026 di Dyandra Convention Center.

Pihak BMKG Juanda menjelaskan bahwa parameter El Nino tahun ini berada pada indeks di bawah 1.0, atau tepatnya di kisaran 0,5. Meskipun secara angka indeks ini masuk dalam kategori lemah, dampak yang dirasakan masyarakat bisa tetap signifikan karena tidak adanya gangguan fenomena atmosfer lain yang membawa massa udara basah ke wilayah Jatim.

”Tahun 2026 ini berbeda dengan tahun 2025 yang lebih landai dan basah. Tahun ini kita kembali menghadapi fase kering, meski tidak se-ekstrem periode tahun 2023 yang sangat kering,” jelas Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Sidoarjo, Taufiq Hermawan saat di wawancara usai rakor.

Berdasarkan garis waktu yang dipetakan, awal musim kemarau di Jawa Timur diperkirakan mulai masuk secara bertahap pada bulan April hingga Mei. Puncaknya diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus 2026, di mana curah hujan akan mencapai titik terendah, yakni di bawah 50 mm per bulan.

Berita Terkait :  Kejari Tulungagung Musnahkan Barang Rampasan 181 Perkara Narkoba dan Miras

Kondisi ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya jumlah titik panas atau hotspot yang menjadi pemicu kebakaran hutan dan lahan. BMKG mencatat, deret hari tanpa hujan (HTH) akan mulai meningkat tajam pada kuartal ketiga tahun ini. Wilayah-wilayah seperti pesisir utara dan beberapa titik di wilayah timur Jatim menjadi area yang paling rawan terdampak kekeringan ekstrem.

BMKG juga memberikan catatan khusus bagi sektor pertanian untuk mewaspadai ketersediaan air irigasi. Pengaturan pola tanam yang sesuai dengan ketersediaan air sangat disarankan guna menghindari gagal panen akibat kekurangan air.

”Masyarakat harus waspada terhadap perubahan cuaca ini. Hindari aktivitas yang memicu percikan api di area terbuka seperti hutan atau lahan kering, karena dalam kondisi El Nino lemah sekalipun, vegetasi yang mengering sangat mudah terbakar dan apinya sulit dikendalikan jika angin kencang,” tambahnya.

Selain memantau kekeringan, BMKG Juanda terus melakukan monitoring terhadap suhu permukaan laut di sekitar Jawa Timur. Data-data ini kemudian disalurkan secara real-time kepada BPBD dan instansi terkait sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan status siaga darurat bencana di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. [fir.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!