31 C
Sidoarjo
Friday, March 27, 2026
spot_img

Dunia Masih Membutuhkan Koran


Oleh:
Zainal Muttaqin
Kabag Humas Kantor Gubernur Jawa Timur

Saya mungkin terlambat menulis ini, sebab peringatan Hari Pers Nasional sudah berlalu sebulan yang lalu. Pada 9 Februari 2026, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Pers Nasional dengan tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” dengan rangkaian acara puncak di Provinsi Banten.

Tulisan ini memang tidak secara khusus membahas tema tersebut. Peringatan itu hanya menjadi pemantik bagi sebuah refleksi sederhana: apakah dunia masih membutuhkan koran?

Pertanyaan ini terasa relevan di tengah derasnya arus digitalisasi media. Informasi kini hadir sangat cepat melalui media sosial, portal berita daring, hingga video pendek yang bisa dikonsumsi dalam hitungan detik. Banyak orang menganggap koran sebagai medium yang perlahan ditinggalkan zaman.

Namun justru di tengah dunia yang serba cepat itu, koran masih menawarkan pengalaman membaca yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh layar gawai.

Ritual Membaca
Bagi sebagian orang, membaca koran bukan sekadar kegiatan mencari berita, melainkan sebuah ritual harian. Hingga hari ini, di ruang kerja saya setiap pagi masih terhidang beberapa koran harian-seperti Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Radar Surabaya, dan tentu saja Harian Bhirawa-bacaan yang terasa “bergizi” untuk disantap saat sarapan. Meski demikian, tidak jarang lembarannya baru benar-benar saya nikmati pada siang hari, ketika ada jeda di antara berbagai aktivitas.

Ada sensasi tersendiri ketika seseorang membuka halaman demi halaman koran. Tangan meraba tekstur kertas, mata menyusuri kolom berita yang tersusun rapi, sementara pikiran perlahan memasuki dunia informasi yang disajikan dengan ritme yang lebih tenang. Aktivitas sederhana ini menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda-lebih pelan, lebih utuh, dan memberi ruang bagi pikiran untuk benar-benar mencerna setiap peristiwa yang diberitakan.

Pengalaman membaca seperti ini oleh para ahli kognitif sering disebut sebagai deep reading, sebuah bentuk membaca yang memungkinkan otak bekerja secara lebih mendalam. Ahli neurosains kognitif Maryanne Wolf menjelaskan bahwa membaca teks panjang dalam format yang tidak terfragmentasi membantu otak membangun kemampuan analisis, empati, dan pemahaman kontekstual.

Berita Terkait :  Wali Kota Kota Mojokerto Salurkan Bansos Rp350 Ribu untuk 294 Tukang Becak

Ketika seseorang membaca koran, ia tidak sekadar menyerap informasi. Ia sedang melatih kemampuan berpikirnya untuk memahami sebuah peristiwa secara lebih utuh.

Melawan Budaya “Skip”
Berbeda dengan pengalaman membaca koran, konsumsi informasi di era digital sering berlangsung dalam pola yang sangat cepat.

Judul dibaca sekilas, paragraf pertama dipindai cepat, lalu jari bergerak menggulir layar menuju informasi berikutnya. Fenomena ini sering disebut sebagai skip culture, budaya melompati informasi tanpa benar-benar menuntaskannya.

Futuris Alvin Toffler pernah menggambarkan situasi ini sebagai bagian dari gejala information overload, ketika manusia modern dibanjiri informasi hingga kesulitan memilah dan memahami maknanya secara mendalam.

Koran menawarkan ritme yang berbeda. Struktur halaman yang terorganisasi membuat pembaca lebih cenderung membaca secara runtut. Dari berita utama, laporan investigasi, kolom opini, hingga rubrik budaya atau olahraga, semuanya tersusun dalam alur yang relatif sistematis.

Tanpa disadari, pembaca sedang diajak melambat, memberi ruang bagi pikiran untuk mencerna informasi dengan lebih tenang.

Algoritma dan Pikiran Monoton
Ekosistem media sosial bekerja dengan logika algoritma. Algoritma dirancang untuk menampilkan konten yang paling sesuai dengan preferensi pengguna. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan suatu jenis konten, semakin sering pula jenis konten itu muncul di beranda mereka.

Ilmuwan komunikasi Cass Sunstein menyebut fenomena ini sebagai echo chamber, ruang gema yang membuat seseorang terus menerus terpapar pada perspektif yang sama. Akibatnya, cara berpikir seseorang dapat menjadi semakin sempit tanpa disadari. Informasi yang dikonsumsi cenderung satu arah dan menguatkan pandangan yang sudah ada sebelumnya.

Berita Terkait :  Jalan Aman "Tidak Memuaskan"

Di sinilah koran menghadirkan pengalaman yang berbeda. Dalam satu edisi koran, pembaca akan menemukan berbagai topik sekaligus: politik, ekonomi, pendidikan, budaya, olahraga, hingga kisah-kisah human interest yang sering kali menyentuh sisi kemanusiaan kita.

Keberagaman ini secara tidak langsung memperluas horizon berpikir pembaca. Seseorang yang awalnya hanya ingin membaca berita politik bisa saja tiba-tiba tertarik pada liputan kesehatan, kisah inspiratif dari daerah lain, atau tulisan reflektif di halaman opini.

Koran mengajak pembaca melakukan perjalanan intelektual lintas bidang, sesuatu yang jarang terjadi dalam ekosistem algoritma media sosial.

Bahasa yang Humanis
Perbedaan lain yang terasa cukup nyata adalah soal bahasa. Di banyak platform digital, judul berita sering dibuat sensasional demi menarik perhatian pembaca. Praktik yang dikenal sebagai clickbait ini menjadi bagian dari strategi persaingan di ruang digital yang sangat padat.

Sebaliknya, tradisi jurnalistik koran dibangun di atas prinsip klasik jurnalisme: akurasi, verifikasi, dan keberimbangan. Tokoh jurnalisme seperti Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku The Elements of Journalism menekankan bahwa jurnalisme sejatinya adalah disiplin verifikasi.

Karena itu, bahasa dalam koran biasanya lebih naratif, lebih kontekstual, dan lebih berhati-hati. Pembaca tidak hanya disuguhi fakta mentah, tetapi juga latar belakang peristiwa serta berbagai sudut pandang yang relevan. Inilah yang membuat membaca koran sering terasa lebih humanis dan reflektif.

Aktivitas yang Menyehatkan
Ada dimensi lain yang jarang disadari ketika berbicara tentang koran, yaitu dimensi fisik dari aktivitas membaca itu sendiri. Ketika membaca koran, tubuh ikut bergerak. Tangan membuka halaman, mata mengikuti kolom berita, kepala menyesuaikan arah baca. Aktivitas sederhana ini berbeda dengan kebiasaan menatap layar ponsel dalam posisi statis dalam waktu lama.

Sejumlah penelitian tentang kesehatan digital menunjukkan bahwa penggunaan gawai yang berlebihan dapat menyebabkan digital eye strain, gangguan postur tubuh, hingga kelelahan mental akibat paparan layar yang terus menerus.

Berita Terkait :  Ekonomi Indonesia Stabil Sektor Perbankan Masih Terus Mencatat Akselerasi

Membaca koran memberikan alternatif yang lebih alami. Tidak ada cahaya layar yang menyilaukan, tidak ada notifikasi yang mengganggu konsentrasi, dan tidak ada algoritma yang memaksa kita untuk terus menggulir layar.

Aktivitas membaca kembali menjadi pengalaman yang lebih tenang dan menyehatkan, baik secara fisik maupun psikologis.

Ruang Refleksi
Di tengah dunia yang semakin bising oleh arus informasi digital, koran sebenarnya menawarkan sesuatu yang semakin langka: ruang refleksi.

Membaca koran memberi kesempatan bagi seseorang untuk berhenti sejenak dari arus informasi yang terus bergerak. Ia menyediakan waktu bagi pikiran untuk memahami peristiwa, merenungkan makna, dan membangun perspektif yang lebih luas.

Dalam teori komunikasi, proses ini sering disebut sebagai reflective communication, komunikasi yang tidak sekadar menyampaikan informasi tetapi juga mendorong proses pemikiran yang lebih mendalam.

Dalam dunia yang serba cepat, kemampuan refleksi seperti ini justru menjadi semakin penting.

Dunia Masih Membutuhkan Koran
Transformasi digital memang tidak bisa dihindari. Media daring kini menjadi bagian penting dari ekosistem informasi modern-cepat, luas jangkauannya, dan mudah diakses. Namun kehadiran media digital tidak harus berarti berakhirnya koran. Sebagaimana diingatkan oleh teoritikus media Marshall McLuhan, setiap medium memiliki cara berbeda dalam membentuk cara manusia memahami dunia.

Media digital menawarkan kecepatan. Koran menawarkan kedalaman. Di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat, koran justru menghadirkan ruang untuk membaca dengan lebih tenang, memahami dengan lebih utuh, dan berpikir dengan lebih jernih.

Mungkin jumlah pembacanya tidak lagi sebanyak dulu. Tetapi selama manusia masih membutuhkan informasi yang berimbang, reflektif, dan manusiawi, selama itu pula dunia masih membutuhkan koran. [*]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!