Bojonegoro, Bhirawa
Upaya percepatan penurunan stunting di Jawa Timur terus diperkuat melalui pendekatan kesehatan pada remaja putri. Karena itu, penekanan pentingnya pencegahan sejak dini dengan menyasar siswi SMP/Mts, SMA/SMK, dan sederajat di sekolah sebagai langkah membangun generasi sehat dan cerdas.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bakorwil II Bojonegoro, Tri Wahyu Liswati saat membuka Rapat Koordinasi Pencegahan Stunting melalui kolaborasi pelaksanaan cek kesehatan gratis (CKG) dan pemantauan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) bagi remaja putri, Kamis (12/2), di ruang rapat Mliwis Putih Bakorwil Bojonegoro.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim wilayah Bojonegoro, serta perwakilan perangkat daerah terkait.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Jawa Timur menurun dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024. Di wilayah kerja Bakorwil II Bojonegoro, angka stunting turun dari 14,9 persen menjadi 14 persen.
Tri Wahyu menekankan bahwa meski capaian ini positif, pencegahan harus terus diperkuat, terutama pada remaja putri sebagai calon ibu.
“Kualitas generasi mendatang sangat ditentukan oleh kondisi kesehatan remaja saat ini,” ujarnya.
Ia juga menekankan perlunya sinergi lintas sektor, termasuk Dinas Pendidikan, Kantor Kementerian Agama, pemerintah kabupaten/kota, dan seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menjadi modal penting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Data menunjukkan cakupan konsumsi TTD di wilayah Bakorwil II Bojonegoro mencapai 91,53 persen, lebih tinggi dari rata-rata provinsi 89,75 persen. Namun, skrining kesehatan masih menemukan prevalensi anemia pada siswi kelas 7 dan 10 sebesar 12,92 persen, meski lebih rendah dibandingkan angka provinsi 15,05 persen. Pemantauan di sekolah menjadi penting agar TTD dikonsumsi secara rutin.
Budi Indrawati, dari Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jatim, menyebut target penurunan stunting nasional pada 2029 sebesar 14,2 persen, sementara Jawa Timur menargetkan 12 persen.
Berdasarkan PPGM 2025, prevalensi stunting di Jawa Timur rata-rata 5,6 persen, menunjukkan penurunan signifikan dibanding capaian nasional 19,8 persen pada 2024.
Sementara itu, Devvy Yuniar, Kasi SMA/PK-PLK Cabang Dinas Pendidikan wilayah Bojonegoro, menyampaikan peran sekolah dalam memastikan kepatuhan konsumsi TTD bagi remaja.
“Kerja sama antara sekolah, orang tua, dan petugas kesehatan diperlukan untuk mencapai tujuan,” ujarnya.
Melalui cek kesehatan berkala dan pemantauan TTD, pemerintah berharap dapat mendeteksi dini anemia maupun gangguan kesehatan lainnya pada siswi, sehingga dapat diberikan penanganan atau rujukan ke fasilitas kesehatan.
Dengan langkah ini, Bakorwil II Bojonegoro berharap tercipta generasi muda yang sehat dan cerdas, menjadi modal penting bagi pembangunan berkelanjutan. [bas.kt]

