26 C
Sidoarjo
Thursday, February 12, 2026
spot_img

Caracter Building Melalui Olahraga

Oleh:
Yongky Dwi Adi Priyanto
Guru Olahraga SMA Labschool Cirendeu dan Wasit Internasional Floorball

Di tengah kegaduhan dunia pendidikan yang kerap dipenuhi dengan berbagai target akademik, ada satu instrumen pembentuk karakter bangsa yang sering terlupakan, yaitu olahraga. Sering kita dengungkan Caracter Building is the future of the nation, akan tetapi tidak jarang kita gagap ketika masuk pada tahap implementasi di lapangan.

Catatan sejarah bangsa ini menunjukkan bahwa olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, ia menjadi katalis persatuan, alat mobilisasai sosial bahkan politik, dan lebih jauh olahraga juga ruang pembelajaran nilai. Bagaimana disiplin, sportivitas, kerja keras, bahkan rasa kebangsaan bisa dibiasakan dalam berolahraga.

Kegiatan berolahraga sejatinya salah satu bentuk pendidikan karakter paling nyata. Di lapangan, anak belajar menang tanpa jumawa dan kalah tanpa dendam, mereka diajarkan bagaimana mematuhi aturan, menghormati dan menghargai wasit, teamwork, serta mengelola emosi. Nilai-nilai ini hampir tidak mungkin ditanamkan hanya melalui ceramah di kelas. Ia menuntut pengalaman langsung, dan olahraga menyediakan itu.

Harus diakui, perhatian terhadap olahraga di sekolah masih kalah jauh dibanding mata pelajaran lain. Data Kementerian Pendidikan menunjukkan bahwa jam pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) relatif minim dibanding beban akademik lain. Bahkan tidak jarang, jam olahraga kerap “dikorbankan” demi mengejar target ketika akan melaksanakan ujian akhir atau evaluasi nasional. Sejalan dengan itu, kita berharap lahir generasi berkarakter kuat dari sistem yang secara tidak langsung mengerdilkan salah satu ruang pembentukan karakter itu sendiri.

Berita Terkait :  Kapolres Gresik Apresiasi Dedikasi Personel 63 Anggota Terima Penghargaan dan Satyalancana

Berbagai riset internasional menegaskan korelasi positif antara aktivitas olahraga dan karakter sosial. Studi UNESCO (2021) menegaskan bahwa olahraga berkontribusi signifikan terhadap pengembangan soft skills seperti kepemimpinan, empati, dan ketangguhan mental.

Sementara itu, laporan World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa anak dan remaja yang aktif secara fisik memiliki tingkat stres lebih rendah dan kontrol emosi yang lebih baik. Ini adalah fondasi penting bagi karakter bangsa yang tangguh.Dalam konteks Indonesia, urgensi ini kian terasa. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa partisipasi olahraga masyarakat Indonesia masih relatif rendah. Indeks Pembangunan Olahraga (IPO) yang dirilis Kemenpora dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan ketimpangan akses olahraga antarwilayah.

Jika olahraga saja belum menjadi budaya, bagaimana mungkin nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dapat meresap ke dalam karakter bangsa? Lebih jauh, Olahraga juga memiliki daya rekat sosial yang kuat. Ia menembus sekat suku, agama, dan latar belakang sosial. Kita lihat saja tatkala tim nasional sepak bola berlaga, euforia kebangsaan muncul secara spontan. Semua terlibat tanpa terkecuali. Fenomena ini menunjukkan bahwa olahraga memiliki potensi besar sebagai sarana penguatan identitas nasional. Dalam konteks ini, olahraga bukan hanya urusan kesehatan atau prestasi, tetapi juga instrumen kebangsaan.

Namun, pembentukan karakter melalui olahraga tidak akan optimal jika pendekatannya semata-mata berorientasi pada prestasi. Paradigma olahraga perlu diperkuat kembali. Dulu kita memiliki ungkapan “mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga” sebagai slogan kebijakan olahraga nasional. Selama ini, kebijakan olahraga nasional kerap terjebak pada logika prestasi dan medali. Akibatnya, upaya mengolahragakan masyarakat tertinggal jauh dari ambisi kejuaraan. Padahal, tanpa basis masyarakat yang aktif berolahraga, prestasi hanya akan lahir secara sporadis, bukan berkelanjutan. Dalam konteks pembentukan karakter bangsa, memasyarakatkan olahraga berarti menghadirkan olahraga sebagai ruang pembentuk karateryang bisa diakses semua anak, bukan hanya mereka yang berbakat secara fisik. Olahraga yang membumi akan melahirkan karakter, bukan sekadar juara.

Berita Terkait :  Pembangunan Flyover Taman Pelangi Surabaya Segera Dimulai

Ketika olahraga dimasyarakatkan dan masyarakat diolahragakan, lapangan tak lagi sekadar arena fisik, melainkan ruang sosial yang memupuk solidaritas dan rasa kebangsaan. Di situlah olahraga bekerja bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk kohesi sosial bangsa.Membangun karakter bangsa melalui olahraga tidak dimulai dari podium juara, melainkan dari kebiasaan sederhana warga bergerak, bermain, dan berolahraga bersama. Inilah makna sejati dari mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga: menjadikan nilai-nilai luhur tumbuh dari praktik hidup sehari-hari.

Dari sudut pandang dunia Pendidikan, satuan pendidikan harus memosisikan olahraga sebagai wahana pembelajaran nilai, bukan hanya aktivitas fisik. Guru PJOK perlu diperkuat kapasitasnya sebagai pendidik karakter, bukan sekadar instruktur dalam olahraga. Kurikulum olahraga pun perlu dirancang lebih kontekstual, menekankan nilai kerja sama, kejujuran, dan tanggung jawab.Penyediaan ruang publik untuk olahraga, pembinaan olahraga berbasis komunitas, serta kampanye gaya hidup sehat dan gemar berolahraga harus menjadi kebijakan berkelanjutan. Negara-negara dengan karakter sosial kuat, seperti Jepang dan negara-negara Skandinavia, menjadikan olahraga sebagai bagian dari budaya sehari-hari, bukan sekadar agenda seremonial.

Membentuk karakter bangsa tidak bisa instan, namunmelalui proses panjang yang membutuhkan konsistensi.

Olahraga menawarkan proses itu, tidak ada jalan pintas di lapangan. Semua ditentukan oleh latihan, disiplin, dan integritas. Nilai-nilai inilah yang sejatinya dibutuhkan bangsa ini dalam menghadapi tantangan masa depan.Jika kita sungguh-sungguh ingin membangun bangsa yang berkarakter kuat, maka olahraga harus ditempatkan kembali pada posisi strategis. Bukan sebagai pelengkap, apalagi penggembira, melainkan sebagai salah satu elemen jantung pendidikan karakter. Sebab, dari tubuh yang sehatdan jiwa yang kuattumbuh karakter bangsa yang bermartabat.

Berita Terkait :  Hari Pers Nasional 2026, PWI dan RS KMU Lamongan Cegah Resiko Kebutaan Akibat Diabetes

————- *** —————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru