25 C
Sidoarjo
Tuesday, February 3, 2026
spot_img

Industri Hiburan Ancam Marwah Kota Malang, sebagai Kota Pendidikan


Kota Malang, Bhirawa
Identitas Kota Malang sebagai barometer pendidikan nasional kini berada di titik nadir. Pesatnya pertumbuhan industri hiburan malam dan komersialisasi ruang rekreasi dinilai mulai menggerus iklim akademik serta karakter mahasiswa.

Jika tidak segera dikendalikan melalui regulasi yang ketat, Malang berisiko kehilangan jati diri dan bergeser menjadi sekadar kota konsumsi.

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Wahyudi Winarjo, MSi., mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena pergeseran lanskap kota ini. Menurutnya, dominasi industri hiburan yang merambah kawasan institusi pendidikan menciptakan benturan nilai antara kepentingan ekonomi dan misi intelektual.

“Malang sejak lama menyandang predikat kota pendidikan, industri, dan pariwisata. Namun, saat ini terjadi tarik-menarik yang tidak seimbang. Mahasiswa sebagai subjek sosial membutuhkan ruang rekreatif, namun ketika ruang tersebut sepenuhnya dikendalikan logika pasar tanpa filter moral, maka budaya hedonisme akan menguat,” ujar Prof. Wahyudi, Senin (2/2) kemarin.

Prof. Wahyudi menyoroti bahwa kehadiran tempat hiburan yang menjamur di sekitar kampus memicu melemahnya kontrol sosial. Hal ini berdampak langsung pada orientasi mahasiswa yang cenderung terjebak pada pencarian kesenangan instan (hedonisme) daripada ketekunan intelektual.

“Jika kontrol sosial hilang, standar baik dan buruk menjadi subjektif. Mahasiswa berpotensi kehilangan orientasi akademik karena lebih mengejar kesenangan dibandingkan proses intelektual yang menuntut kedisiplinan,” tegasnya.

Dampak jangka panjangnya, lanjut Wahyudi, adalah terjadinya pendangkalan intelektual. Kampus yang seharusnya menjadi pusat kompetensi justru terdistraksi oleh gaya hidup konsumtif yang membuat mahasiswa mengabaikan tanggung jawab akademiknya.

Berita Terkait :  Pertama di Indonesia, BKD Jatim Ciptakan 'Bestie.AI' Layanan Informasi Berbasis AI

Lebih jauh, pihaknya mengkritik kebijakan Pemerintah Daerah yang dianggap terlalu longgar dalam memberikan izin industri hiburan demi mengejar Pendapatan Asli Daerah (PAD) tanpa mempertimbangkan dampak sosiologis.

“Ekonomi memang harus tumbuh, tetapi tidak boleh mengorbankan pendidikan dan moral. Tanpa penataan serius dan dialog antara kampus, pemerintah, serta masyarakat, dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan Malang berisiko menjadi kota dengan relasi sosial yang terkomodifikasi,” jelasnya.

Sebagai solusi, ia mendorong perguruan tinggi untuk menyediakan ruang ekspresi non-formal yang lebih humanis. Menurutnya, mahasiswa keluar mencari hiburan karena kampus cenderung terlalu kaku dan formal.

“Kampus harus menjadi ruang untuk bernyanyi, berdiskusi santai, dan berpuisi. Ruang-ruang ini perlu dikelola agar tetap sehat secara sosial dan moral, tanpa mematikan kebebasan berekspresi. Kolaborasi lintas institusi dan ketegasan regulasi adalah kunci agar identitas Malang sebagai Kota Pendidikan tidak terus terkikis,” pungkasnya. [mut.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru