27 C
Sidoarjo
Tuesday, February 3, 2026
spot_img

RDMP Balikpapan Percepat Jalan Indonesia Menuju Swasembada Energi


Surabaya, Bhirawa
Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dinilai menjadi salah satu kunci percepatan Indonesia menuju swasembada energi. Proyek Strategis Nasional (PSN) senilai US$ 7,4 miliar atau sekitar Rp120 triliun ini merupakan bagian dari agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan dikerjakan oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan.

RDMP Balikpapan diresmikan pada Januari 2026 dan menjadi proyek modernisasi kilang terbesar di Indonesia. Melalui proyek ini pengembangan kilang Balikpapan menjadi langkah penting untuk mewujudkan swasembada energi sesuai program Asta Cita. Dengan begitu Indonesia tidak lagi mengandalkan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liqufied Petroleum Gas (LPG) untuk kebutuhan dalam negeri.

Mega proyek ini dibahas sejumlah akademisi di Surabaya, Jawa Timur (Jatim) yang menyoroti peran penting proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dalam upaya Indonesia menuju swasembada energi.

Peneliti dari Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, menilai RDMP Balikpapan sebagai proyek kilang yang signifikan dari sisi kapasitas dan teknologi dalam menekan ketergantungan pada impor BBM.

“RDMP Balikpapan meningkatkan kapasitas kilang dari sekitar 250 ribu barel per hari menjadi lebih dari 300 ribu barel per hari. Dengan peningkatan ini, sebagian kebutuhan BBM nasional yang sebelumnya dipenuhi dari impor kini bisa ditutup dari dalam negeri,” ujar Ary dalam diskusi bertema “Sasembada Energi di Era Prabowo: Antara Agenda Strategis dan Tantangan Implementasi” di Surabaya, Minggu (1/2).

Berita Terkait :  Danrem 084/Bhaskara Jaya Pastikan Pembangunan Kopdes Merah Putih di Sidoarjo

Selain peningkatan kapasitas, Ary menekankan keunggulan teknologi yang digunakan RDMP. Kilang Balikpapan kini mampu mengolah residu minyak yang sebelumnya tidak termanfaatkan secara optimal oleh kilang-kilang lama.

“Teknologi residu catalytic cracking memungkinkan sisa pengolahan minyak diproses kembali menjadi bahan bakar. Ini membuat kilang jauh lebih efisien dan memaksimalkan setiap barel minyak mentah yang diolah,” katanya.

Ary juga menilai fleksibilitas bahan baku menjadi keunggulan lain RDMP. Kilang Balikpapan dapat mengolah minyak mentah dari berbagai kualitas dan menghasilkan BBM berstandar Euro 5 yang lebih ramah lingkungan. “Dulu, minyak dengan kandungan sulfur tinggi sulit diolah. Sekarang, berbagai jenis crude oil bisa diproses dan hasil akhirnya tetap memenuhi standar kualitas tinggi,” jelas Ary.

Dari perspektif ekonomi, Ekonom Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Hendry Cahyono, menilai peningkatan kapasitas kilang dan efisiensi pengolahan bahan bakar dari proyek ini diyakini mampu menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM yang selama ini membebani neraca perdagangan dan fiskal negara.

Menurutnya, RDMP Balikpapan memberikan dampak ekonomi yang signifikan, terutama dari sisi penghematan devisa. Dengan bertambahnya kapasitas produksi kilang dalam negeri, kebutuhan BBM nasional yang sebelumnya dipenuhi melalui impor dapat dikurangi secara bertahap.

“Setiap penurunan impor BBM berarti penghematan devisa. Dana yang selama ini keluar untuk impor bisa dialihkan untuk kebutuhan APBN yang lebih produktif,” ujar Hendry.

Menurutnya, peningkatan kapasitas kilang Balikpapan yang kini mampu mengolah lebih dari 300 ribu barel per hari menjadi faktor penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

Berita Terkait :  Cek Langsung ke Lokasi Genangan Air, Pj Wali Kota Madiun Siapkan Langkah Antisipasi

Meski kebutuhan BBM nasional masih lebih besar dibandingkan produksi, RDMP dinilai mampu mempersempit kesenjangan antara permintaan dan pasokan energi. “Kebutuhan energi kita memang besar, tetapi dengan proyek kilang seperti RDMP Balikpapan, jarak antara konsumsi dan produksi bisa semakin dipersempit. Ini langkah konkret menuju swasembada energi,” katanya.

Hendry menambahkan, RDMP Balikpapan juga memiliki efek lanjutan terhadap iklim investasi sektor energi. Keberhasilan proyek ini dinilai dapat meningkatkan kepercayaan investor, sekaligus menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam mengelola proyek energi berskala besar.

“Kalau RDMP berjalan tepat waktu dan produksinya optimal, kepercayaan investor akan meningkat. Ini sinyal bahwa Indonesia serius dan mampu mengelola investasi besar di sektor energi. Jika RDMP berjalan optimal dan tepat waktu, ini akan menjadi sinyal positif bagi investor. Kepercayaan terhadap sektor energi nasional akan tumbuh, dan investasi baru berpotensi masuk,” ujarnya.

Selain berdampak pada sektor energi, penguatan kapasitas kilang dalam negeri juga dinilai berkontribusi terhadap stabilitas ekonomi nasional. Ketergantungan impor yang lebih rendah membuat perekonomian lebih tahan terhadap gejolak harga energi global.

“Ketika pasokan energi lebih banyak berasal dari dalam negeri, risiko fluktuasi harga internasional bisa ditekan. Ini penting bagi stabilitas ekonomi jangka panjang,” tutur Hendry.

Dengan berbagai manfaat ekonomi tersebut, RDMP Balikpapan dinilai bukan sekadar proyek infrastruktur energi, melainkan bagian dari strategi nasional untuk memperkuat kemandirian energi dan ketahanan ekonomi Indonesia ke depan.

Berita Terkait :  Berkunjung ke Dindik Jatim, University of Gyeongnam Namhae Korsel Tawarkan Program Kuliah Gratis

Sementara itu, dosen dan peneliti kebijakan publik Unesa, Ahmad Nizar Hilmi, melihat RDMP Balikpapan sebagai bagian dari strategi jangka panjang menuju swasembada energi. Namun, ia menekankan pentingnya kesinambungan kebijakan agar manfaat proyek benar-benar dirasakan di dalam negeri.

“RDMP adalah langkah penting, tetapi swasembada energi tidak hanya soal kilang. Yang juga harus dipastikan adalah ketersediaan minyak mentah dan orientasi pemanfaatannya untuk kebutuhan domestik,” kata Nizar.

Menurut Nizar, kebijakan energi perlu disertai tata kelola yang kuat agar hasil pengolahan kilang tidak kembali bergantung pada mekanisme pasar ekspor semata. “Kalau orientasinya jelas untuk konsumsi dalam negeri dan diikuti kebijakan pendukung yang konsisten, RDMP bisa menjadi tulang punggung kemandirian energi nasional,” ujarnya.

Ia menilai proyek ini juga membuka ruang bagi penguatan kebijakan lintas sektor, mengingat energi tidak hanya berkaitan dengan satu kementerian, melainkan menyangkut industri, fiskal, lingkungan, dan pembangunan daerah. “Energi adalah isu strategis negara. RDMP memberi momentum untuk menyatukan kebijakan hulu hingga hilir agar tujuan swasembada benar-benar tercapai,” tutur Nizar.

Dengan berbagai dampak teknis, ekonomi, dan kebijakan tersebut, RDMP Balikpapan dinilai menjadi salah satu proyek kunci yang membawa Indonesia semakin dekat dengan cita-cita swasembada energi. Tantangan ke depan adalah memastikan keberlanjutan proyek ini sejalan dengan kepentingan nasional dan kebutuhan masyarakat luas. [ina.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru