Kabupaten Kediri, Bhirawa
SMP Negeri 3 Grogol, Kabupaten Kediri, membangun tiga rumah ibadah lintas agama sebagai upaya menanamkan nilai toleransi sejak dini di lingkungan sekolah. Langkah ini mendapat apresiasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri karena dinilai memperkuat moderasi beragama di dunia pendidikan.
Tiga rumah ibadah yang dibangun meliputi musala, gereja, dan pura. Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama pada Kamis (29/1) dan menjadikan SMPN 3 Grogol sebagai sekolah kedua di Kabupaten Kediri yang memiliki fasilitas ibadah lintas agama setelah SD Besowo.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, menyebut inisiatif tersebut sebagai langkah luar biasa dalam memperkuat nilai kebhinekaan.
“Ini menjadi contoh nyata penguatan toleransi di sekolah,” ujar Muhsin di SMPN 3 Grogol.
Ia menjelaskan, rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah, tetapi juga sebagai media pembelajaran karakter moderasi beragama bagi peserta didik. “Harapannya, ini menjadi laboratorium pendidikan karakter moderasi beragama yang ditopang oleh empat pilar, yakni komitmen kebangsaan, toleransi, sikap anti-kekerasan, dan penghargaan terhadap budaya lokal,” tegasnya.
Meski belum terdapat regulasi khusus terkait bantuan pembangunan tempat ibadah di sekolah, Muhsin menegaskan pihaknya tetap memberikan dukungan. “Kami mendukung secara moral dan nonformal. Bahkan dukungan pribadi juga dimungkinkan demi kelancaran pembangunan,” katanya.
Inisiatif tersebut juga mendapat respons positif dari wali murid lintas agama. Perwakilan umat Hindu, Heri Iswanto, menilai pembangunan tiga rumah ibadah sebagai fondasi penting dalam menanamkan nilai persatuan.
“Dari sinilah kita memupuk persatuan dan saling menjaga dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Ia mengakui tantangan utama pembangunan terletak pada pembiayaan. Namun, kendala tersebut diatasi melalui semangat gotong royong. “Dukungan diberikan dalam bentuk dana, material, hingga tenaga dari komite sekolah dan wali murid,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala SMPN 3 Grogol, Musiin, mengatakan gagasan pembangunan telah direncanakan sejak tiga tahun lalu karena keterbatasan fasilitas ibadah bagi siswa non-muslim.
“Ini mimpi yang akhirnya menjadi kenyataan. Kami ingin sekolah benar-benar menjadi ruang yang ramah terhadap keberagaman. Harapan kami sederhana, anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan saling menghargai perbedaan,” paparnya.
Seluruh pendanaan pembangunan, lanjut Musiin, berasal dari partisipasi sukarela masyarakat dengan prinsip transparansi. Pembangunan ditargetkan selesai dalam waktu sekitar empat bulan.
Saat ini, SMPN 3 Grogol memiliki sekitar 480 siswa dengan latar belakang agama yang beragam, termasuk sekitar 20 siswa beragama Hindu dan jumlah serupa dari pemeluk agama Kristen. [van,nov.wwn].

