Senja itu mendadak kelabu. Hati-pun tersaput sendu. Sepenggal berita duka menyeruak di antara pesan WhatApps yang terserak. Saya sempat mengkonfirmasi keakuratan berita itu, karena setahun yang lalu seorang kawan dari Malang menanyakan berita senada. Padahal, kala itu Profesor Dr. Bustami Rahman, M.Sc. masih segar bugar. Tapi, konfirmasi kali ini membawa kabar pasti; bahwa “PakBus”, demikian panggilan akrabnya, memang benar telah menghadap Al Khaliqyang dicintainya.
Oleh:
Himawan Bayu Patriadi, PhD.,
Dosen Hubungan Internasional, Fisipol Universitas Jember.
Pak Bus, setidaknya di mata saya; adalah insan yang ‘komplit’. Sosoknya, peduli, kritis, dan berani. Begitu juga dalam kiprahnya.
Selain sebagai akademisi, beliau juga dikenal sebagai aktivis, dan seorang da’i. Di masa awal jadi Dosen FISIP-Universitas Jember (UNEJ), dan tengah bingung cari kontrakan rumah; seorang kolega datang membisiki saya:”Salam dari Pak Bustami. Beliau bilang silahkan menempati rumahnya yang kosong di Arjasa untuk ditempati. Tak usah bayar!”.
Kala itu, Pak Bus baru saja memulai studi Doktoral di Universitas Gajah Mada (UGM), Jogyakarta. Saya termangu mendengar tawaran itu. Dengan membisu saya bergumam: “Betapa baiknya orang ini, belum pernah kenal, apalagi berjumpa; sudah menawari menempati rumahnya!”.
Sayangnya, saya tak bisa memenuhi tawarannya itu. Dengan jarak sekitar 10 km dari kampus, sementara saya belum punya motor; akan berat bagi saya untuk pulang-pergi setiap hari ke kampus.
Perjumpaan fisik baru terjadi kala Pak Bus, di sela-sela kesibukan studi doktoralnya, bertandang ke FISIP, Universitas Jember. Sejak pertama kali bertemu, tak pernah ada rasa jemu.
Selain perangainya yang simpatik, karakter pribadinya juga menarik. “Cerdas orang ini!”,guman saya dalam hati; kala berbincang untuk pertama kali. Tutur kata yang tertata mencerminkan kekuatan logikanya. Kaya akan gagasan, dilengkapi dengan analisanya yang tajam merefleksikan luasnya wawasan, kuatnya penalaran, dan imaginasinya yang tinggi.
Semua ini mengingatkan pada petikan kata bijak: “Great mind discusses ideas”. Setelah beliau membuka latar belakang pribadinya, saya-pun mafhum. Dari ceritanya, baru tahu bahwa saya dan Pak Bus ternyata sesama alumni FISIPOL- UGM.
Bedanya, Pak Bus lulusan Jurusan Sosiatri (sekarang bernama Prodi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan-PSdK), sedangkan saya lulusan Hubungan Internasional.
Selain itu, kami berdua juga keluarga Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). Namun, Pak Bus sekian generasi di atas saya. Kiprahnya sebagai mahasiswa aktivis terekam, baik dalam organisasi intra maupun ekstra kampus.
Beliau menjabat Ketua Senat Mahasiswa Fakultas SOSPOL-UGM (1972-1973) dan Ketua Komisariat HMI Fakultas SOSPOL-UGM (1972-1973) secara bersamaan. Setahun kemudian, beliau sempat pula menjadi Ketua Cabang HMI Jogyakarta (1974-1975).
Ironisnya, sosok aktivisnya seakan membawa ‘kutukan’ bagi aktualisasi idealismenya. Obsesi akademiknya untuk menjadi dosen di almamater-nya ditolak. “Alasan penolakannya sangat tidak akademis”, tukasnya; kala mengenang peristiwa itu. Padahal, Pak Bus merupakan lulusan sarjana terbaik sekaligus tercepat tingkat fakultas.
Bahkan, kala mengajukan lamaran sebagai dosen, Pak Amien Rais (Drs.,MA.), yang kala itu sudah menjadi dosen di Fakultas SOSPOL-UGM, juga mendampinginya sebagai jaminan, sekaligus simbol, pengakuan terhadap kapasitas akademiknya.
Maklum, politik kampus di manapun, memang cenderung mengutamakan sosok penurut daripada sosok yang kritis. Pasalnya, pertimbangan ‘ideologi politik’ nyaris selalu dianggap lebih utama dari pada urgensi ‘ideologi akademik’.
Namun, tak lama kemudian, kesempatan untuk merealisasikan obsesi akademisnya akhirnya terbuka. Dua peluang datang sekaligus. Lamarannya untuk menjadi dosen di Universitas Hasanuddin diterima. Namun, pada saat yang sama, FISIP – UNEJ juga mengundangnya untuk bergabung sebagai tenaga pengajar. “Yang [terakhir] ini saya tak melamar Bu, tapi [justru] dilamar!”,tegasnya kepada istrinya.
Dengan pertimbangan bahwa Jember lebih dekat dan mudah dijangkau dari pada ke Makassar, maka menjadi dosen di FISIP-UNEJ akhirnya menjadi pilihannya.
Namun, sepanjang perjalanan kariernya, idealisme akademis Pak Bus hadir bak bayangan dalam kegelapan. Tak pelak, kegelisahan akademik senantiasa mendera dirinya. Misalnya, kala rekruitmen dosen hanya semata-mata didasari pertimbangan ‘loyalitas’, tapi mengabaikan aspek kapasitas; maka jiwa idealismenya berontak.
Ia mendatangi pimpinan Fakultas guna menumpahkan kemarahannya. “Mau dibawa kemana Fakultas ini?”, ujarnya; kala mengenang penggalan kalimat yang sempat dicurahkannya kepada pimpinan.
Kemarahannya bukanlah dilandasi kebencian pribadi, tetapi justru ekspresi kecintaannya pada institusi. Pasalnya, sudah sekian lama Pak Bus prihatin, bahkan bisa dikatakan jengkel, ketika mendapati beberapa dosen yang tak percaya diri, bahkan minder, kala berhadapan dengan dosen dari Universitas lain yang sudah mapan.
Sebagai institusi, “UNEJ memang tak sebesar universitas terkemuka tersebut”, katanya. Tapi, menurutnya, dosen FISIP seharusnya tak perlu minder. Sambil mengutip pepatah China, ia sempat menandaskan sebuah metafora kepada saya: “Gunung itu tak perlu tinggi, yang penting ada dewanya!”.
Disinilah, dasar falsafah dari argumennya tentang pentingnya pertimbangan kapasitas dan ideologi akademik dalam setiap rekruitmen calon dosen, karena akan menentukan reputasi akademik institusi di kemudian hari.
Meski kehadirannya di FISIP sempat jeda karena harus menempuh Doktor di UGM, semangat akademik Pak Bus untuk membangun fakultas tak pernah padam.
Sepulang Doktor, Pak Bus mendirikan Laboratorium Kajian Pemberdayaan Masyarakat (LKPM). Melalui LKPM ini, Pak Bus berupaya menyemai ideologi akademik di FISIP, terutama di kalangan dosen muda. Yang menarik, beliau menjadikan LKPM rumah terbuka bagi siapa saja. Bahkan, dengan hangat ia mengajak dosen muda lintas prodi yang berminat untuk bergabung, terlepas latar-belakang kelompok atau organisasinya.
Dalam konteks ini, Pak Bus sempat membisiki saya: “HMI itu lahir dengan semangat ke-Indonesia-an, jadi kita tak boleh eksklusif dan tertutup bagi sosok di luar kelompok. Apalagi, ini adalah institusi publik yang mengemban amanat akademik”.
Walhasil, LKPM menjadi komunitas ‘pelangi’ dosen muda lintas prodi dan lintas kelompok. Kala itu, pemikiran ini merupakan kanalisasi relasi profesi di tengah nuansa politik kampus yang ketat. Pasalnya, langkah Pak Bus tak ubahnya sebuah counter-narrative terhadap politik kampus yang begitu pekat, yang mana narasi utamanya kurang lebih berbunyi: “Whatever the priority is my group friends first”.
Pelan tapi pasti, counter-narrative Pak Bus ini mulai menggerus sekat-sekat sosial di antara akademisi yang terbangun oleh politik kampus yang kuat.
Berpijak pada counter-narrative di atas, LKPM berkembang menjadi tempat ngobrol akademik yang asyik. Temanya beragam, mulai dari perbincangan ringan tentang kondisi sosial-politik situasi kekinian, sampai diskusi yang serius seperti topik proposal penelitian.
Sebagai Laboratorium, LKPM semakin dikenal Ketika berhasil menjalin beberapa kerjasama dengan pihak luar, seperti Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Seiiring dengan perkembangan ini, Pak Bus tetap teguh memegang idealisme akademiknya. Suatu saat, ia mengajak saya untuk memenuhi permintatan seorang Bupati guna membantu tugasnya. Saya bersedia, tapi dengan syarat bahwa kami sebagai tim bukan berperan layaknya seperti ‘tim sukses’, melainkan sebagai ‘tim ahli’ yang memberi masukan kebijakan strategis, dengan berlandaskan kajian akademis.
PakBus setuju. Bahkan, di hadapan Bupati ia menambahi satu syarat lagi, yaitu kesepakatan tentang arah pengembangan daerah yang diidealkan bersama. Namun, di tengah jalan, kala langkah sang Bupati melenceng dari kesepakatan semula; Pak Bus mendatangi saya untuk menginfokan bahwa ia mau berhenti sebagai bagian dari ‘tim ahli’.
Pak Bus berani untuk berhenti, karena ingkar terhadap kesepakatan selalu menggerus kepercayaan. Tak pelak, saya-pun sepakat untuk ikut berhenti.
Pada saat yang sama, jiwa pengabdiannya kepada institusi juga tak luntur. Di LKPM, ia membentuk tim kecil untuk menyusun proposal guna pendirian Pascasarjana dengan Program Studi Pembangunan Sosial. Langkah ini, merupakan salah satu kristalisasi dari diskusi di LKPM.
Jadi, keinginan untuk mendirikan Program Pascasarjana ini bukanlah instruksi dari atas, tapi murni inisiatif dari bawah. Sayangnya, pengajuan proposal pendirian Prodi Pembangunan Sosial ini tak memperoleh dukungan institusi. Padahal, sejak awal, Prodi ini dirancang dengan pendekatan inter-disipliner yang akan mengakomodir sumberdaya lintas prodi, bahkan juga lintas fakultas.
Absennya dukungan dari institusi sempat melahirkan spekulasi, bahwa di satu sisi keberhasilan LKPM layak dirayakan; tapi, di sisi lain, justru telah memantik kegalauan. Tentang kebenarannya, wallahua’lam …
Suatu waktu, letupan idealisme Pak Bus kembali mengoyak pikirannya. Lambannya perubahan iklim akademis, khususnya di FISIP; telah mengikis kesabarannya. Suatu saat, Pak Bus melontarkan pergulatan dalam pikirannya: “Perubahan [iklim] akademik nampaknya tak bisa hanya bersandar pada kuatnya teriakan, guna mempercepatnya diperlukan tangan kekuasaan”.
Syahdan, di awal tahun 2003, kala salah satu faksi bakal calon Rektor mengajaknya berjuang, Pak Bus mengajukan syarat. Salah satunya komitmen untuk perbaikan iklim akademik, dan untuk mengawalnya ia minta diproyeksikan menjabat Pembantu Rektor I. Deal politik-pun terjadi. Yang menarik, dalam voting di Senat Universitas, dua faksi yang masing-masing mengusung calon Rektor tersebut mendapatkan jumlah suara yang sama.
Akibatnya, voting -pun perlu diulang, guna menentukan siapa yang menang. Dalam jeda skorsing rapat Senat, lobby politik berjalan intensif. Entah apa bentuk deal-nya, satu anggota Senat faksi Pak Bus berhasil di- lobby oleh faksi saingannya. Dengan satu swing voter ini, dalam voting putaran kedua faksi Pak Bus dikalahkan. Walhasil, proyeksi penempatannya sebagai Pembantu Rektor 1-pun akhirnya pupus.
Tapi, kekalahan di atas tak membuat Pak Bus patah arang. Ia tetap kukuh dengan idealismenya. Keyakinannya berlanjut, bahwa kuasa merupakan sarana bagi perubahan iklim akademis, sejauh pemegangnya punya visi akademis yang baik.
Dua tahun kemudian, tepatnya tahun 2005, ia maju mencalonkan sebagai Dekan FISIP; meski berdasarkan kalkulasi politik ia tak akan menang. Keputusannya ini bukanlah langkah nekad, apalagi tindakan yang membabi-buta. Seperti biasa, ia melangkah dengan penuh kesadaran, dan selalu punya landasan pemikiran. “Saya mencalonkan diri [sebagai Dekan] ini di bawah skenario akan dikalahkan!”, tegasnya di hadapan forum pemaparan program; yang esensinya merupakan ajang kampanye bagi calon Dekan. Pak Bus justru mengkapitalisasi forum itu untuk menyodorkan pemikirannya, khususnya bagaimana membangunkan diri dari kejumudan akademis.
Dengan cerdik ia memanfaatkan ruang publik itu, yang dipenuhi oleh dosen, tendik, dan mahasiswa; untuk mengingatkan bahwa ia punya pemikiran strategis yang perlu dipertimbangkan demi masa depan FISIP. Mayoritas yang hadir mengakui, bahwa Pak Bus bukan sekedar ‘memenangkan’ forum, tetapi juga menguasai panggung pemaparan visi tersebut.
Alasannya, apa yang disampaikan Pak Bus bukanlah teriakan kebisingan, tetapi visi strategis yang mampu memuaskan dahaga akademis. Walau demikian, sekali lagi, kutukan kembali membayangi aktualisasi idealismenya.
Dalam voting pemilihan Dekan di Senat Fakultas, secara ironis Pak Bus dikalahkan dengan suara tipis. Yang terjadi kemudian adalah permakluman.
Pasalnya, sudah jamak dalam politik pragmatisme seringkali mengalahkan idealisme. Tapi, reputasi tak bisa dipungkiri. Laiknya di sepakbola, tim yang baik tak selalu bisa jadi jawara. Civitas academica FISIP-pun tak ragu, bahwa Pak Bus tak ubahnya seperti juara tak bermahkota. Toh, kata orang, kebaikan tak selalu diukur dari jabatan, tetapi lebih pada substansi yang diperjuangkan.
Syahdan, tahun 2006 datang panggilan dari kampung halaman. Gubernur Bangka-Belitung memintanya untuk membidani lahirnya Universitas Bangka-Belitung (UBB), sekaligus mengangkatnya menjadi Rektor pertama.
Sejarah-pun berulang. Dulu, untuk menjadi dosen Pak Bus dilamar. Kini, untuk jadi Rektor-pun ia juga dilamar. Nyaris mustahil, datangnya lamaran tak memperhitungkan reputasi.
Tak diragukan, sosok Pak Bustami Rahman memang memenuhi kriteria ini. Tak pelak, selama dua periode masa jabatannya, perjalanan awal UBB merupakan manifestasi idealismenya yang tertunda. (bersambung).
—————- *** ——————–

