Sidoarjo, Bhirawa
Sebanyak 165 anak pada tahun 2026 ini dikhitan secara massal di pendopo Delta Wibawa, Sidoarjo, untuk memperingati Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo atau Harjasda ke 167 tahun 2026.
Ketua Baznas Sidoarjo, M. Chasbil Aziz Salju Sodar, Selasa (20/1) kemarin, dalam acara khitanan massal tersebut mengatakan kegiatan khitanan massal setiap tahun dilakukan untuk memperingati Harjasda Kabupaten Sidoarjo.
” Banyak tujuan dari acara ini. Diantaranya membantu anak-anak dari keluarga yang dhuafa, agar bisa menjadi generasi yang sehat dan berkualitas, semoga acara ini bermanfaat bagi warga Sidoarjo,” komentar ketua Baznas Sidoarjo, yang akrab disapa Guz Jazuk itu, disela-sela, acara khitanan massal di pendopo, Sidoarjo.
Acara dibuka oleh Asisten Tata Pemerintah Pemkab Sidoarjo, Ainun Amalia SSos, yang mewakili Bupati Sidoarjo, hadir sejumlah pimpinan OPD, undangan dari Forkopimda, dan tentunya ratusan orang tua anak yang dikhitan dan keluarganya.
Data dari Panitia Baznas Sidoarjo, ratusan peserta diikuti peserta terkecil berusia 4 tahun yang masih duduk di bangku PAUD. dan ada 2 peserta yang duduk di bangku SMP.
Terpantau ada 2 peserta yang termasuk non muslim, yang masih sekolah di SD Katholik Santo Yustinus Krian. Dua peserta dari Desa Desa Jatikalang Kecamatan Krian ini mengaku, karena ketiadaan biaya dari orang tua, sehingga mereka baru khitan saat duduk di kelas VI SD.
” Orang tua kami telah lama berpisah,” kata salah satu peserta khitan masal itu, yang merupakan anak kembar ini.
Di pendopo Delta Wibawa sisi belakang, tempat khitanan massal itu dilakukan, pagi itu ramai dengan teriakan dan tangis anak-anak kecil yang dikhitan oleh para petugas yang profesional itu. Bahkan petugas Satpol PP ada yang ikut memegangi tangan anak-anak yang menangis itu.
“Ya namanya anak-anak kecil, biasa kalau nangis saat dikhitan,” komentar salah satu petugas khitanan massal disana.
Namun ada juga anak-anak kecil yang diam dan cuek saja, saat dikhitan. mereka asyik bermain game dengan HP yang mereka bawa.
Elis salah satu orang tua asal desa Kedung bocok Kecamatan Tarik, mengatakan anaknya yang bernama Arya, saat dikhitan diam saja dan tidak menangis. Dirinya mengatakan sebelum dikhitan anaknya yang duduk di bangku SD kelas III itu, minta dibelikan hadiah HP.
Sementara lainnya, Sakhi, kelas V, peserta dari Desa Buduran Kecamatan Buduran yang diantar oleh kakaknya, juga tidak menangis. Meski tidak membawa HP.
“Ayah kami sudah meninggal dunia,” kata Nanda, kakaknya tersebut.
Asisten Tata Pemerintah dan Kesra Pemkab Sidoarjo, Ainun Amalia, yang ikut juga melihat proses khitanan massal itu berkomentar semoga acara yang digelar oleh Baznas Sidoarjo untuk memperingati Harjasda Sidoarjo ke 167, benar-benar bermanfaat bagi warganya yang sangat membutuhkan.
” Ini salah satu bentuk kepedulian Pemkab kepada warga, supaya warga yang kurang mampu bisa mendapatkan pelayanan khitan secara gratis,” ujarnya saat melihat proses khitanan massal di pendopo Delta Wibawa sisi belakang tersebut.[kus.ca]

